The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #11

Kecurigaan

Ruang BK siang itu terasa sepi.

Sepi yang anehnya justru terasa nyaman bagi seorang anak SMP yang kini duduk tenang di kursi, menghadap meja guru yang masih kosong.

Gurunya belum kembali.

Entah sedang apa di luar.

Kursi plastik itu terasa dingin, tetapi Anggun tidak bergeser sedikit pun. Punggungnya menyandar santai, sementara kedua tangannya sibuk membenahi baju seragam putih yang kusut dan bernoda tanah.

Dua kancing di bagian depan putus.

Ia mencoba menutupinya dengan melipat sedikit kain seragam.

Namun...

Tangannya berhenti.

Percuma.

Tetap kelihatan.

Anggun mengembuskan napas pendek, lalu membiarkan tangannya jatuh kembali ke pangkuan.

Pandangannya berkeliling ruangan.

Di atas meja guru, map-map bertumpuk tidak beraturan. Lemari besi abu-abu berdiri di belakangnya, catnya mengelupas di sana-sini hingga memperlihatkan bercak karat kecokelatan. Di dinding, poster tata tertib sekolah menggantung agak miring. Salah satu sudutnya bahkan hampir terlepas.

Ruangan itu berbau kertas lama, bercampur kapur barus dan samar-samar aroma minyak kayu putih.

Dari balik jendela, suara anak-anak yang sedang menikmati jam istirahat terdengar sayup.

Ada yang tertawa.

Ada yang berlari.

Ada yang saling memanggil.

Rasanya jauh sekali.

Yang terdengar paling jelas justru detak jam dinding.

Tik...

Tik...

Tik...

Tangan Anggun kembali terangkat untuk menutup bagian seragam yang kehilangan kancing.

Namun, lagi-lagi berhenti di tengah jalan.

Pintu terbuka.

Seorang guru perempuan masuk sambil membawa sebuah map.

Ia berjalan menuju meja, menarik kursinya, lalu duduk. Map yang dibawanya diletakkan di atas meja tanpa dibuka.

Perempuan itu mengembuskan napas panjang.

Sekali.

Dua kali.

Baru kemudian pandangannya beralih kepada Anggun.

"Anggun Puspitasari."

Guru itu menyedekapkan kedua tangannya.

"Kita langsung aja, ya. Biar cepet selesai dan biar kamu bisa nikmatin jam istirahat. Kenapa kamu tega melempar temanmu pakai pot bunga?"

"Dia sama dua temennya ngejekin saya."

Suara Anggun datar.

Namun, rahangnya mengeras.

"Saya udah diem. Enggak nanggepin. Terus dia dorong saya sampai jatuh."

Guru itu mengangguk pelan.

"Ibu tahu. Tapi kamu juga nggak boleh melempar pot bunga ke orang kayak gitu. Untung cederanya nggak parah."

Anggun mengangkat wajah.

"Terus saya harus gimana?"

"Bukan gitu maksud Ibu..."

"Saya udah diem."

Suara Anggun naik sedikit.

Kedua tangannya mengepal di atas pangkuan.

"Saya udah diem, terus didorong sampai jatuh. Kancing saya putus dua."

Ia menarik napas.

Kemudian mengangkat wajahnya lebih tinggi.

"Terus saya yang salah?"

Guru itu terdiam.

Beberapa detik berlalu.

Perempuan itu tampak memilih kata-kata yang tepat sebelum akhirnya menjawab.

"Ibu nggak nyalahin kamu sepenuhnya. Ibu cuma bilang, kalau pot itu kena kepalanya gimana? Itu bisa jadi luka serius. Keluarganya juga bisa nuntut."

Anggun menunduk.

Rahangnya masih mengeras.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Bukan karena menyesal.

Ia hanya tidak tahu harus melampiaskan kesalnya ke mana.

"Saya cuma bela diri."

Suaranya mengecil.

"Itu aja."

Hening kembali memenuhi ruangan.

Guru itu melirik jam dinding.

"Kalau kita balik lagi ke situ terus," katanya, "istirahatnya keburu habis."

Anggun mengangkat kepala.

"Iya, Bu."

"Maaf."

Perempuan paruh baya itu menarik napas, lalu kembali bersuara.

"Jangan diulang lagi, ya. Ini terakhir kali Ibu ngasih peringatan."

Ia membuka map di hadapannya.

Beberapa lembar kertas dibalik sebelum pandangannya berhenti pada satu bagian.

"Kamu udah masuk ruang BK berapa kali selama kelas sembilan ini?"

Anggun diam.

Ia tahu jawabannya.

Lebih dari empat kali.

Karena tak kunjung mendapat jawaban, perempuan itu menjawab pertanyaannya sendiri.

"Empat kali."

Ia mengangkat pandangan.

"Empat kali kamu masuk ke ruangan ini. Itu artinya apa? Kamu udah berantem empat kali juga."

Ia berhenti sejenak.

Memberi waktu agar kata-katanya meresap.

"Jadi, sekali lagi kamu ngulangin ini, Ibu bakal ngirim surat panggilan buat orang tua kamu. Dan kalau masih diulang lagi, Ibu udah nggak bisa nolong kamu."

Napasnya terdengar berat.

"Mungkin kamu bakal dikeluarin dari sekolah ini."

Anggun langsung mengangkat wajah.

"Tapi, Bu..."

Lihat selengkapnya