Ketegangan masih menggantung di antara keduanya ketika pintu kayu berwarna cokelat itu terbuka dari luar.
Seorang laki-laki bertubuh kurus masuk sambil membawa beberapa kertas. Kulitnya putih, nyaris pucat. Sepasang kacamata bertengger di wajahnya yang tirus.
"Nih, yang lo minta."
Ia menyodorkan kertas-kertas itu kepada Rendra.
Tatapan Anggun bergantian antara laki-laki itu dan kertas-kertas di tangan Rendra.
Rasa penasarannya kembali terusik.
Namun, ia memilih tetap diam.
"Gimana, lo udah tahu HP-nya di mana?"
Rendra memberi isyarat dengan kedipan mata.
Namun, entah karena tidak menyadarinya atau memang tidak mengerti maksud isyarat itu, laki-laki tersebut kembali bertanya.
"Belum, ya?"
Anggun yang mendengar percakapan itu seketika seperti mendapat pencerahan.
Jadi mereka juga nyari HP itu?
Kalau begitu... apa mereka kelompok yang berbeda?
Kalau mereka satu komplotan sama laki-laki yang nyerang gue semalam, harusnya HP itu udah ada di tangan mereka.
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, memenuhi benaknya.
Merasa lelah terus menebak-nebak, Anggun akhirnya menyuarakan isi pikirannya.
"Jadi dugaan gue benar," katanya pelan. "Kalian nolongin gue karena HP itu."
Kedua laki-laki itu saling berpandangan.
Laki-laki berkacamata itu mengernyit tipis. Jemarinya mendorong bingkai kacamatanya sedikit naik, lalu menoleh kepada Rendra, seolah meminta penjelasan.
Ia tak menyangka perempuan di hadapannya mampu menarik kesimpulan secepat itu. Kata-katanya pun tajam dan penuh kepercayaan diri.
Rendra hanya mengembuskan napas panjang.
Bahunya turun perlahan.
Ah, lo bego banget sih, Bang Aldi.
Semula, ia memang berniat menanyakan keberadaan ponsel itu secara langsung. Namun, melihat bagaimana setiap pertanyaannya selalu dibalas dengan pertanyaan-pertanyaan balik serta tatapan yang penuh curiga, ia memutuskan mengubah pendekatan.
Sayangnya, ucapan Aldi barusan justru membuat semuanya semakin rumit.
Belum sempat salah satu dari mereka membuka suara, Anggun kembali berbicara.
"Tapi HP itu udah nggak di gue. Percuma kalian bawa gue ke sini buat nginterogasi."
Tatapannya tetap mengunci wajah Rendra.
"Bukannya semalam lo bilang datang sama tim? Emang kalian nggak bisa ngebekuk orang-orang brengsek itu?"
Rendra terdiam.
Rahangnya mengeras sesaat sebelum akhirnya ia menyandarkan punggung ke kursi.
Pikirannya kembali pada kejadian semalam.
Sesaat setelah ia dan dua rekannya memasuki halaman samping paviliun, dua laki-laki yang masih berdiri langsung menyadari kedatangan mereka.
Tanpa membuang waktu, keduanya nekat menerobos ke arah gerbang.
Rendra dan timnya berusaha menghadang.
Bentrokan singkat pun tak terelakkan.
Namun, di tengah kekacauan itu, kedua laki-laki tersebut berhasil menemukan celah dan lolos ke luar halaman.
Saat pengejaran berakhir, yang tertinggal di sana hanyalah tiga orang yang telah tumbang.
Satu di antaranya pincang.
Dua lainnya masih terkapar tak sadarkan diri.
Dan tak jauh dari mereka, Anggun terbaring dengan tubuh penuh luka.
Pingsan.
Anggun mengernyit ketika melihat Rendra justru mengangguk pelan.
Sorot mata laki-laki itu berubah.
Seolah baru saja menemukan penjelasan logis dari sikap kedua preman tersebut.
"Pantes..." gumamnya lirih.
Tangannya mengusap dagu pelan.
"Waktu gue sama tim datang, mereka malah nekat nerobos ke arah gerbang. Bahkan ninggalin tiga temennya yang udah tumbang."
Ia mengembuskan napas pelan.
Anggun menggigit bibir bawahnya.
"Terus tiga orang itu kalian tinggal gitu aja?"
Nada suaranya makin meninggi.
Rahangnya mulai mengeras.
Dalam benaknya, keputusan Rendra dan timnya meninggalkan tiga orang itu terasa begitu bodoh.
"Waktu itu kami khawatir mereka manggil bala bantuan," jawab Rendra, seolah mampu membaca tatapan Anggun yang menganggap mereka bodoh. "Di sisi lain, kondisi lo juga parah. Jadi prioritas kami ngebawa lo pergi dari sana."
Tatapannya menajam, seolah ingin menegaskan bahwa ia dan timnya sudah susah payah menolongnya.
Ia berhenti sejenak.
"Kami sempat ngamanin barang-barang lo. Tapi ya, HP itu emang nggak ada."
Mata Anggun membelalak.
Berarti mereka masuk ke paviliunnya.
Membuka barang-barangnya.
Rahangnya langsung mengeras.
Berani-beraninya!
Ia menarik napas panjang.