The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #13

Pengakuan

Saat Livia dan Aldi sampai di ambang pintu, ruangan itu telah berubah berantakan.

Kursi yang semula diduduki Rendra terguling. Meja di sudut ruangan pun ikut ambruk.

Rendra sendiri terduduk sambil meringis. Tangan kirinya memegangi tulang kering, sebelum berpindah mengusap siku kanan yang masih berdenyut.

Di sisi lain, Anggun bersandar di dinding dekat pintu.

Selembar kertas tergenggam erat di tangannya. Beberapa lembar lainnya teronggok di lantai, sebagian bahkan sudah sobek.

Perhatiannya hanya tertuju pada isi kertas itu.

Begitu Aldi dan Livia masuk, keduanya sempat saling berpandangan.

Singkat.

Namun, cukup untuk menguatkan dugaan yang sempat mereka bicarakan beberapa menit sebelumnya.

Aldi berdeham pelan, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris lolos.

"Kalian berdua ngapain sih?"

Nada suaranya tetap berwibawa, meski sedikit rasa geli masih terselip di sana.

"Brengsek! Cewek itu nyerang gue!" gerutu Rendra.

Tangannya kembali memegangi kaki kirinya sebelum berpindah mengusap siku kanan.

Anggun sama sekali tidak menanggapi.

Livia memperhatikan perempuan itu beberapa saat. Ekspresi Anggun tampak semakin mengeras ketika matanya kembali menyusuri lembaran di tangan.

Akhirnya, Livia melangkah mendekat.

"Lo nggak apa-apa?"

Anggun menoleh dengan ekspresi heran.

Bukankah seharusnya perempuan itu menyalahkannya setelah melihat apa yang baru saja terjadi?

"Nama gue Livia, tapi lo bisa panggil gue Via."

Nada suaranya ramah, seolah mereka sedang berkenalan dalam keadaan yang jauh lebih normal.

Anggun tidak menjawab.

Livia melirik kertas di tangan Anggun, lalu kembali menatap wajahnya.

"Maaf. Kami memang harus hati-hati."

Suaranya tetap tenang.

"Lo berhak marah. Tapi kami bakal jelasin semuanya."

Anggun mengangkat wajah.

Tatapan keduanya bertemu.

"Lo mungkin nggak inget gue," lanjut Livia pelan. "Tapi gue ada di taman waktu lo digodain sama brondong mokondo itu."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Bukan senyum meremehkan.

Bukan pula basa-basi.

Ada kehangatan di sana, seolah Livia sedang berusaha meyakinkan Anggun bahwa ia datang sebagai teman, bukan lawan.

Namun, Anggun belum berniat melunak.

Kekesalannya telanjur memuncak, terlebih setelah melihat isi dokumen yang kini berada di tangannya.

Data dirinya tercetak lengkap.

Mulai dari KTP, kartu anggota perpustakaan, hingga berbagai informasi pribadi lainnya.

"Ini semua maksudnya apa? Kenapa kalian punya data pribadi gue? Buat apa? Kalian ini sebenarnya siapa?"

Suara Anggun rendah, tetapi setiap katanya terdengar tajam.

"Itu yang mau kita jelasin ke lo."

Livia melirik kondisi Anggun dari atas sampai bawah.

"Keberatan kalau gue minta lo duduk dulu? Muka lo masih pucat banget."

"Nggak usah basa-basi. Jelasin aja."

Anggun tetap berdiri bersandar di dinding.

Tatapannya tak bergeser sedikit pun dari Livia.

"Oke."

Livia mengangguk kecil.

"Kalau itu maunya lo."

Alih-alih memaksa, ia justru mundur selangkah. Tangannya meraih kursi yang masih utuh, lalu menariknya hingga menghadap Anggun.

Sebelum duduk, matanya bergerak singkat ke arah Rendra.

Hanya sepersekian detik.

Namun, Rendra langsung menangkap maksudnya.

Livia tahu, kalau isyarat itu ditujukan langsung kepada Aldi, laki-laki itu kemungkinan besar tidak akan menangkapnya.

Rendra mengembuskan napas pelan.

"Bang, bantuin gue."

Aldi segera menghampiri.

Ia meraih lengan Rendra dan menopang tubuh laki-laki itu menuju pintu.

Sebelum keluar, Rendra sempat melayangkan tatapan kesal kepada Anggun.

Perempuan itu bahkan tidak menoleh.

Perhatiannya tetap tertuju kepada Livia.

Pintu cokelat itu tertutup.

Barulah Anggun kembali bersuara.

"Jadi kenapa kalian lancang ngambil data diri gue? Informasi tentang gue?"

"Kayak yang udah gue bilang, kami cuma hati-hati. Itu aja."

Livia menyandarkan punggung ke kursi.

"Kami bukan penjahat. Kami nggak bakal nyebarin data diri lo ke mana-mana."

Nada suaranya tidak defensif.

Justru sebaliknya, ia seperti sengaja membiarkan Anggun meluapkan kemarahannya.

"Kalian pikir kalian siapa?" bentak Anggun. "Lo tahu perbuatan kalian ini ilegal?"

"Enggak kalau itu menyangkut keamanan dan operasional yang sedang kami lakuin."

Livia menjawab tanpa meninggikan suara.

Sudut bibirnya masih terangkat tipis.

Anggun menatapnya tak percaya.

Bagaimana perempuan ini bisa setenang itu?

Cewek yang berbahaya.

Anggun mendengkus dalam hati.

Namun, ada sesuatu yang justru menarik perhatiannya.

Cara Livia duduk begitu santai. Rambut sebahunya tergerai di sisi wajah, sementara sepasang anting berbentuk tetes air bergoyang kecil setiap kali ia bergerak.

Tak ada ketegangan yang kentara.

Tak ada gerakan tergesa.

Namun, justru melihat ketenangan itu tubuh Anggun kembali mengingatkan bahwa kondisinya belum pulih.

Punggungnya masih nyeri.

Kedua kakinya mulai pegal setelah terlalu lama menopang tubuh.

Anggun akhirnya melepaskan punggung dari dinding.

Ia berjalan perlahan menuju ranjang, lalu duduk di tepinya.

Livia tidak berkomentar.

Baginya, Anggun memang seharusnya beristirahat.

"Lo tadi bilang keamanan sama operasional?"

Anggun menatapnya tajam.

"Emangnya kalian ini apa? Intel?"

Lihat selengkapnya