The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #14

Kontras

Mobil pikap itu melaju membelah jalanan kota yang tetap ramai meski hari telah beranjak siang.

Anggun duduk di kursi penumpang, menyandarkan tubuh sambil membiarkan angin panas menerpa wajahnya melalui jendela yang terbuka. Deretan warung makan, pedagang buah, dan toko-toko kecil bergantian melintas di sisi jalan.

Sesekali, aroma masakan yang menggugah selera ikut terbawa angin, lalu menghilang secepat kendaraan itu melaju.

Di balik kemudi, seorang laki-laki berjambang lebat dengan rambut keriting tampak mengemudi santai. Jemarinya sesekali mengetuk setir mengikuti irama lagu Lama-Lama Aku Bisa Bosan milik Audy yang mengalun pelan dari radio.

Kalau bukan karena mendengar suaranya beberapa menit yang lalu, Anggun tak mungkin mengenalinya.

Laki-laki itu sebenarnya adalah Livia.

Penampilannya berubah nyaris sempurna. Kemeja flanel yang dipadukan dengan kaus oblong, celana jins, sandal jepit, jambang lebat, rambut keriting acak, hingga kacamata berbingkai hitam membuatnya tampak seperti laki-laki biasa yang sedang mengantar barang antarkota.

Anggun sendiri tidak begitu mengerti mengapa penyamaran seperti itu diperlukan.

Namun, ia juga tidak merasa perlu bertanya.

Tadi, setelah Livia meninggalkan ruangan, suara perutnya sendiri justru terdengar semakin jelas.

Tatapannya sempat jatuh pada semangkuk bubur yang mulai dingin, segelas air putih, serta obat yang ditinggalkan di atas meja.

Semula, ia bersikeras tidak akan menyentuh semuanya.

Setelah terang-terangan menolak, rasanya memakan makanan itu hanya akan membuat dirinya tampak plin-plan. Seolah kemarahan dan penolakannya beberapa menit sebelumnya tidak pernah terjadi.

Namun, rasa lapar akhirnya menang.

Ia menghabiskan bubur itu hingga tak bersisa, meminum air putih, lalu menelan obat yang disediakan Livia.

Ketika perempuan itu kembali beberapa menit kemudian, Anggun benar-benar dibuat tertegun.

Penampilan Livia sudah berubah total.

Andai perempuan itu tidak berbicara dan memperkenalkan dirinya lagi, Anggun yakin ia tak akan pernah menyadari bahwa laki-laki di balik kemudi yang kini bersenandung mengikuti lagu dari radio itu adalah orang yang sama.

Meski bibirnya terus mengikuti lirik lagu yang mengalun dari radio, pikiran Livia sesekali kembali pada percakapan di bengkel sebelum mereka berangkat.

"Gue mau nganter cewek itu pulang."

Ucapan Livia memecah keheningan sesaat setelah ia memasuki ruang kerja.

Aldi dan Rendra sama-sama mengalihkan pandangan kepadanya.

"Lo lepasin gitu aja tuh cewek?" tanya Rendra keheranan.

Livia menutup pintu di belakangnya.

"Emangnya lo masih butuh apa lagi dari dia?"

Rendra terdiam.

Pertanyaan itu membuatnya berpikir.

Ponsel yang menjadi sumber persoalan memang sudah tidak lagi berada di tangan Anggun. Dari hasil penelusuran identitas yang baru saja mereka dapat, tak ditemukan satu pun petunjuk yang mencurigakan tentang identitas perempuan tersebut. Perempuan itu juga tidak terhubung dengan organisasi mana pun.

Namun...

"Menurut gue dia tetap harus tinggal di sini buat sementara." Rendra menyandarkan tubuh ke kursinya. "Kita harus mastiin dia nggak bakal buka mulut soal tempat ini."

"Terus?" Livia mengangkat sebelah alis. "Lo mau nahan dia sampai kapan?"

"Sampai keadaan aman."

"Dan caranya? Terus definisi aman yang lo maksud itu yang kayak gimana?"

Rendra mengembuskan napas pelan.

Ia kembali bicara, tetapi tidak menjawab pertanyaan Livia.

"Kalau perlu kita bius."

Ia berhenti sejenak.

"Atau masukin dia ke ruang isolasi."

Ruangan itu memang disiapkan untuk keadaan darurat. Dindingnya diperkuat baja, pintunya menggunakan pengunci ganda, tanpa jendela, dan hanya memiliki ventilasi kecil di dekat langit-langit. Siapa pun yang berada di dalamnya nyaris mustahil keluar tanpa bantuan dari luar.

Livia menggeleng pelan.

"Mau sampai kapan, Ren?" tanyanya sekali lagi.

Tatapannya tak bergeser sedikit pun.

"Lo tahu dia nggak salah apa-apa. Kan?"

"Justru dia korban."

Rendra bungkam.

Sejujurnya, ia tidak memiliki alasan yang benar-benar kuat untuk membantah.

Hanya saja...

Setiap kali mengingat sikap Anggun yang keras kepala, terlebih bagaimana perempuan itu mempercundanginya begitu saja, perasaan itu sedikit banyak mengusik dirinya.

Keheningan memenuhi ruangan.

Hingga akhirnya, Aldi yang sejak tadi hanya menyimak membuka suara.

"Siapa yang setuju dia dipulangin?"

Tanpa ragu, Aldi mengangkat tangan.

Disusul Livia beberapa detik kemudian.

Kini tinggal Rendra seorang diri.

Ia mendengus pelan.

"Kenapa, sih? Nggak ada satu pun yang dukung gue."

"Gue mau kok dukung lo," jawab Aldi datar.

"Tapi kasih gue alasan yang logis, kenapa cewek itu harus tetap di sini?"

Rendra membuka mulut.

Lalu menutupnya kembali.

Tak ada jawaban.

Aldi mengangkat bahu kecil.

"Berarti keputusannya udah bulat," ucapnya santai sambil mengetuk meja, seolah seorang hakim yang baru saja memutuskan perkara.

Livia mengangguk pelan. Senyum tipis ia lontarkan sebelum berbalik hendak keluar.

"Vi."

Langkah Livia terhenti.

Ia menoleh.

"Lo mau nganter dia naik apaan?"

"Ya mobil." Livia mengangkat bahu. "Kenapa emang?"

Rendra berpikir sejenak. Tangannya memutar-mutar pena.

"Mending ubah tampilan lo, deh."

Livia mengernyit.

"Nyamar?"

"Jaga-jaga. Kalau masih ada yang ngawasin dia, mereka nggak bakal ngenalin lo."

Livia mengangguk kecil.

"Boleh juga."

"Terus gue pakai apa?"

Aldi yang sejak tadi diam akhirnya ikut menyahut.

"Lo bisa pakai pikap yang baru kelar diservis di depan."

"Sekalian tes jalan sebelum diserahin ke pemiliknya."

Livia tersenyum tipis.

"Siap, Bang."

Ia mengangkat tangan memberi hormat.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka pintu dan melangkah keluar ruangan.

Lamunan Livia terhenti saat suara Anggun tiba-tiba memecah keheningan.

"Jadi waktu di taman kemarin, lo juga nyamar kayak gini?"

Livia tak langsung menjawab.

Ia menoleh sekilas ke arah Anggun sebelum kembali fokus ke jalan.

"Gitu deh." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Lo seriusan nggak nyadar itu gue?"

Lihat selengkapnya