*
*
*
Anggun duduk di teras paviliunnya. Meski malam telah lama turun, matanya masih terbuka lebar, tertuju pada tanaman bunga milik Tante Maya yang kini berantakan.
Udara malam yang dingin berkesiur menerpa wajahnya. Sensasi itu sedikit menenangkan, tetapi juga membawa nostalgia yang panjang.
Kepingan ingatan demi ingatan berkelebat di kepalanya, membawanya kembali pada berbagai peristiwa yang telah lama tidak disentuh. Bersamaan dengan itu, emosi yang bercampur aduk membuatnya masih terjaga hingga tengah malam.
Anggun ingin mengutuk semua hal yang telah terjadi selama tiga hari terakhir.
Andai saja waktu bisa diputar kembali, ia tidak akan repot-repot menolong ibu-ibu tua yang terdorong di trotoar itu. Ia cukup memandang sekilas, lalu melenggang pergi seperti orang-orang lain di tempat tersebut.
Sebab kini ia tahu, kesialan yang menimpanya berawal dari sana.
Laki-laki yang menabraknya saat itu ternyata Rendra. Laki-laki itu pula yang telah memasukkan ponsel tersebut ke dalam tasnya.
Livia telah menjelaskan semuanya panjang lebar. Ia memberikan perspektif bahwa tindakan Rendra bukanlah kesengajaan, melainkan usaha taktis untuk menyelamatkan barang bukti.
Namun, apa pun alasannya, semua kejadian itu tetap menyeret Anggun ke dalam intrik yang sama sekali tidak ia inginkan. Hidup yang selama ini ia bangun dengan susah payah pun mendadak kacau.
Anggun mengembuskan napas panjang.
Bagaimana mungkin sesuatu yang telah ia perjuangkan dan rawat mati-matian bisa hancur hanya dalam hitungan hari?
Sejak ibunya meninggal karena kanker payudara, Anggun telah berpindah kota sebanyak lima kali dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Bukan karena ia menyukai perjalanan.
Justru sebaliknya.
Anggun tidak pernah menyukai keributan, drama yang berlebihan, apalagi terlibat dalam masalah orang lain.
Baginya, hidup yang tenang sudah lebih dari cukup.
Jika ia sudah merasa nyaman di suatu tempat, ia tidak akan memiliki alasan untuk pergi.
Namun, kenyamanan itu tidak pernah benar-benar bertahan lama.
Setelah bertahun-tahun berpindah dari satu kota ke kota lain, Anggun akhirnya menyadari bahwa selama ini hanya ada satu hal yang ia cari.
Ketenangan.
Dan sekali lagi, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa hal tersebut tidak pernah mudah ia pertahankan..
Anggun bangkit dari duduknya, kemudian melangkah perlahan mendekati pot-pot bunga yang kini berantakan.
Ia berjongkok di hadapan salah satu pot yang pecah. Jemarinya menyentuh tanah yang berserakan di lantai, lalu berhenti ketika menyadari bahwa bunga yang selama ini dirawat Tante Maya ikut menjadi korban.
Pemandangan itu kembali membawanya pada perjalanan hidupnya.
Di kota sebelumnya, Anggun bekerja sebagai kasir di sebuah toko pakaian. Hidupnya berjalan sederhana. Pergi bekerja, pulang ke kos, lalu menghabiskan waktu dengan dunianya sendiri.
Ia tidak membutuhkan banyak hal untuk merasa nyaman.
Sampai suatu hari, ia mengetahui bahwa pemilik toko tersebut baru saja dipukuli oleh kekasihnya sendiri.
Awalnya, Anggun memilih tidak ikut campur.
Itu urusan orang lain.
Namun, ketika laki-laki itu kembali datang dan Anggun melihat sendiri bagaimana sikapnya terhadap perempuan tersebut, ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu.
Dengan langkah tenang, Anggun mendekat.
"Lo kasar banget sih jadi cowok! Gue jadi mikir jangan-jangan itu ya yang bokap lu ajarin ke lo?"
Laki-laki itu berbalik cepat. Tatapannya menunjukkan campuran keheranan dan ketersinggungan. Sementara itu, perempuan yang berdiri di dekatnya hanya menatap Anggun dengan wajah yang terlihat ketakutan.
"Eh perek, nggak usah ikut campur lo, kerja aja yang bener."
"Ya kalau gitu lo cabut dong jangan bikin kerjaan gue berantakan. Lo tuh ganggu banget, beraninya sama cewek."
Belum sempat mulut Anggun terkatup rapat, laki-laki itu telah menerjangnya.
Anggun hanya memundurkan kepala untuk menghindari tamparan tersebut. Ketika laki-laki itu kembali mencoba menyerang, ia segera menangkap pergelangan tangannya, memuntirnya ke belakang, lalu meninju perutnya.
Laki-laki itu langsung terhuyung dan jatuh terduduk. Ia meraung, kemudian menangis tergugu sambil bergeser di lantai.
Anggun mengerutkan kening.
Ia tidak menyangka laki-laki yang tadi begitu berani mengancam perempuan itu ternyata mudah menangis ketika berhadapan dengan orang yang melawan.
Namun, yang lebih tidak disangkanya adalah reaksi perempuan tersebut.
Alih-alih berterima kasih, perempuan itu justru memaki dan menyalahkan Anggun.
Anggun terdiam.
Bukankah perempuan tadi terlihat ketakutan ketika laki-laki itu marah dan memukulnya? Lalu, mengapa sekarang ia justru membela laki-laki tersebut?
Anggun tidak membantah. Ia hanya mendengarkan sampai perempuan itu selesai bicara.
Barulah setelah itu ia memahami bahwa ketakutan tidak selalu sesederhana yang terlihat.
Perempuan itu bukan membela laki-laki tersebut karena tidak merasa takut. Ia justru melakukannya karena takut. Takut bahwa setelah kejadian itu, ia akan diperlakukan lebih buruk. Takut bahwa kepergian laki-laki tersebut akan membawa masalah yang lebih besar.
Perempuan itu seolah tidak memiliki pilihan lain.
Anggun akhirnya menyadari bahwa seseorang bisa saja ingin pergi dari sebuah keadaan, tetapi tetap merasa tidak mampu meninggalkannya.
Dan pada akhirnya, bukan laki-laki itu yang disalahkan.
Anggunlah yang dianggap telah membuat masalah.
Ia dipecat.
Anggun meninggalkan toko tersebut tanpa banyak bicara.
Namun, masalah ternyata tidak berhenti di sana.
Tempat kos Anggun tidak terlalu jauh dari toko. Karena itu, kabar tentang kejadian tersebut dengan cepat menyebar.
Setiap kali berpapasan dengan orang-orang sekitar, ia mulai menerima tatapan sinis.
Ada yang berbisik bahwa Anggun cemburu pada hubungan atasannya.
Ada pula yang mengatakan bahwa ia sebenarnya menyukai laki-laki itu.
Cerita lain pun ikut bermunculan.
Semakin jauh dari kenyataan.
Anggun tidak pernah repot-repot membantah.
Ia tahu, menjelaskan sesuatu kepada orang yang sudah memilih versinya sendiri hanya akan membuat semuanya semakin panjang dan menghabiskan energinya.
Jadi, sekali lagi, Anggun memilih pergi.
Meninggalkan kota itu bersama segala keributannya.
Mencari tempat lain.
Ingatan Anggun bergeser pada masa ketika ia akhirnya memilih menetap di kota yang berbeda.
Saat itu, ia mulai memahami satu hal: niat baik tidak selalu berbalas dengan kebaikan. Tidak semua orang akan berterima kasih ketika seseorang berusaha menolong mereka.
Pengalaman sebelumnya membuat Anggun perlahan belajar menahan diri. Beberapa kali ia melihat kemalangan dan ketidakadilan terjadi di depan mata, tetapi ia memilih diam.
Bukan karena tidak peduli.
Ia hanya tidak ingin kembali terseret ke dalam urusan orang lain.
Namun, ketika sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak mencampuri kehidupan siapa pun, masalah justru datang menghampirinya.
Kali ini, masalah itu bahkan berada tepat di sebelah kamar kosnya.
Hari itu, Anggun baru saja pulang setelah seharian mencari pekerjaan.
Tubuhnya lelah.
Yang ia inginkan sederhana.
Tidur dengan tenang, lalu bangun keesokan harinya dan kembali mencari pekerjaan.
Namun, harapan itu buyar begitu ia memasuki kamar.
Dari kamar di sebelahnya terdengar suara-suara yang membuat Anggun mengernyit.
Suara dua orang yang tengah bercanda mesra, diselingi erangan yang bercampur desahan dan teriakan yang terdengar semakin mengganggu.
Anggun memejamkan mata.
Menarik napas panjang.