Udara malam kembali berkesiur, membawa hawa dingin dan tetes-tetes embun yang mulai turun.
Anggun bangkit dan berjalan menuju rumah utama. Sesampainya di depan gerbang, ia berhenti sejenak. Gerbang geser itu masih tertutup seperti ketika ditinggalkannya sore tadi. Hanya saja, bagian pengunci tempat gembok dipasang telah rusak.
Anggun memperhatikan selot besi yang masih terpasang pada dudukannya. Karena sudah tak dapat dikunci dengan gembok, ia hanya memastikan sebatang kayu tetap terselip di bagian bawah gerbang sebagai penahan.
Tatapannya beralih mengamati sekeliling.
Suasana di sana terasa hening, ditingkahi suara jangkrik yang seolah bersahutan dari berbagai penjuru.
Anggun mengembuskan napas panjang.
Anehnya, suasana itu justru terasa begitu damai dan nyaman baginya.
Tempat tinggal yang sangat menyenangkan, pikirnya.
Harus Anggun akui, kompleks tempat Tante Maya tinggal memang termasuk lingkungan yang tenang. Ketika malam tiba, suasananya tidak terlalu gaduh dan tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Letaknya yang masuk ke dalam gang membuat tempat itu cukup jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas kota.
Anggun berbalik menuju paviliunnya.
Namun, ingatannya kembali pada sore tadi, setelah ia membaca beberapa pesan dan memutar dua video yang dikirim Raka.
Anggun menutup wajah dengan kedua tangannya.
Sesaat kemudian, ia meraih bantal dan berteriak beberapa kali sekuat tenaga di balik bantal tersebut.
Setelah itu, ia terdiam.
Jemarinya sedikit bergetar saat kembali meraih ponsel.
Ia menggulir layar, memperhatikan notifikasi dari Bima. Tangan kirinya mengetuk-ngetuk permukaan kasur, ragu apakah akan menghubungi laki-laki itu atau cukup membaca pesan yang telah dikirimkannya.
Saat hendak mengetikkan balasan, layar ponselnya justru berkedip.
Nama "Bocah Tengil" terpampang di sana.
Panggilan video.
Anggun menatap layar tersebut.
Ia menarik napas.
Sekali.
Dua kali.
Lalu, setelah beberapa saat, Anggun menekan tombol jawab berwarna hijau.
Sambungan video segera terhubung.
Bima tampak sedang duduk di sebuah kursi, dengan pepohonan di belakangnya. Cahaya senja berwarna jingga jatuh lembut di wajahnya yang bersih, menegaskan garis rahangnya yang tegas. Alisnya yang tebal sedikit bertaut di atas sepasang mata sipit yang tampak serius. Bayang-bayang dedaunan jatuh di sebagian wajahnya, menciptakan permainan cahaya lembut di antara raut cemasnya.
Anggun menatap lelaki itu lekat-lekat.
Ada kehangatan yang perlahan menyebar di dadanya, disusul rasa nyeri yang samar saat melihat kecemasan di wajahnya.
Kamera di ponselnya segera dimatikannya.
Tampilan dari kameranya pun lenyap, sementara sambungan video dari Bima tetap terlihat di layar.
"Ya. Ada apa, Bim!?"
Suaranya terdengar datar, kering, bahkan dingin.
Raut Bima sedikit berubah. Alisnya terangkat, sementara tatapannya tetap tertuju ke layar.
Anggun langsung menyadarinya.
Kedua bibirnya segera ditarik ke dalam. Sejenak ia terdiam, seolah baru menyadari nada yang telanjur keluar dari mulutnya.
Namun, Bima tidak menyinggungnya. Ekspresinya segera kembali melunak, seolah tidak ingin memperpanjang nada ketus yang baru saja terdengar.
"Kak, lo dari mana aja? Gue udah neleponin lo dari tadi pagi, lho."
Suara Bima terdengar khawatir.
Padahal, baru beberapa hari berlalu sejak ia bersikap ketus kepada lelaki itu hingga membuatnya kesal. Anggun masih merasa tidak enak setiap kali mengingatnya.
Sungguh, ia tidak bermaksud bersikap kasar. Hanya saja, ketenangan yang selama ini begitu ia jaga sedang tidak berada pada tempatnya. Kesabarannya terasa lebih tipis dari biasanya, sementara emosinya mudah meluap sebelum sempat ia tahan.
Dan kini, ia kembali mengulanginya.
Anggun menatap layar ponselnya.
Ia tidak ingin Bima mengira panggilan itu mengganggunya.
Bukan itu yang ia rasakan.
Justru karena itulah, ucapan yang baru saja meluncur dari bibirnya membuatnya semakin bersalah.
Entah kenapa, melihat ekspresi lelaki itu dan mendengar suaranya yang serak, tetapi tegas, membuat perasaan Anggun semakin campur aduk.
Diam-diam, ia menarik napas panjang. Bahunya turun perlahan, seolah kehadiran Bima dari jarak jauh memberikan ketenangan tersendiri baginya.
Anggun berdehem sebelum menjawab.
"Sorry. Gue tadi lagi sibuk banget."
Dustanya.
"Lo nggak apa-apa, kan, Kak?"
"I'm oke." Jawab Anggun cepat, lebih cepat dari seharusnya.
Terdengar helaan napas dari seberang.
Raut wajah Bima jelas tidak mempercayai jawabannya.
"Coba nyalain videonya."
Namun, beberapa saat berlalu dan Anggun tidak merespons. Bima kembali berucap dengan nada pasrah.
"Lo udah lihat link yang gue kirim ke lo?"
Anggun memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.
"Opini gue, lo belum lihat isi link yang gue kirim ke lo."
Anggun kembali terdiam.
Mestinya ia menyudahi saja panggilan video ini.
Bukankah itu yang biasa dia lakukan? Ketika seseorang mulai banyak bicara atau masuk terlalu jauh ke dalam urusan pribadinya, ia akan memilih mundur.
Namun, kali ini berbeda.
Alih-alih mengakhiri percakapan, Anggun justru ingin tetap mendengar suara Bima dan melihat wajahnya.
Ia ingin tahu apa yang hendak dikatakan lelaki itu.
Dan, tanpa benar-benar ia sadari, Anggun masih ingin mempertahankan percakapan itu sedikit lebih lama.
"Ada apa sih, Kak? Kenapa ada dua cowok yang ngejar-ngejar lo?"
Nada suara Bima terdengar khawatir. Alisnya sedikit bertaut, sementara tatapannya tetap tertuju ke layar, seolah berusaha membaca sesuatu dari wajah Anggun yang tidak terlihat.
"Gue nggak tahu mesti mulai ngomong ini dari mana."
Mendengar suara Anggun, Bima di seberang sana menghela napas lega. Setidaknya, Anggun masih mau menjawabnya.
"Tiba-tiba aja gue udah ada di situasi kayak gini."
Anggun mengusap wajahnya kasar.