The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #17

Terakumulasi

Dua hari telah berlalu sejak percakapannya dengan Bima.


Pada akhirnya, Anggun menunda menghubungi Tante Maya untuk menceritakan apa yang terjadi pada rumahnya.


Ia hanya bertanya kepada Bima mengenai orang yang biasa memperbaiki rumah dan menjadi langganan keluarganya.


Dengan uang pribadinya, Anggun kemudian meminta tukang-tukang tersebut memperbaiki kunci pintu utama, beberapa pintu kamar yang dibobol, serta gerbang depan.


Kepada mereka, Anggun hanya mengatakan bahwa malam sebelumnya ada seseorang yang masuk ke dalam rumah tersebut. Namun, ia tidak tahu apakah orang itu benar-benar pencuri atau bukan.


"Kalau memang pencuri, harusnya TV, kulkas, sama peralatan elektronik lainnya ikut hilang, kan? Tapi semuanya masih ada di tempat. Jadi, saya juga nggak tahu orang itu sebenarnya mau apa."


Ia bahkan cukup meyakinkan ketika menjelaskan mengapa dirinya tidak keluar dari paviliun.


Katanya, ia terlalu takut untuk keluar setelah mendengar gerbang depan terbuka, disusul suara-suara keras seperti seseorang sedang mendobrak pintu.


Anggun juga sempat menyelipkan bahwa dirinya hanyalah seorang perempuan yang tinggal sendirian.


Mendengar itu, para tukang langsung manggut-manggut.


Cerita tersebut terdengar masuk akal.


Setidaknya, cukup untuk membuat mereka tidak bertanya lebih jauh.


Entah sejak kapan Anggun mulai bisa berbohong.


Atau mungkin, sejak kapan ia mulai merasa perlu melakukannya.


Percakapannya dengan Livia beberapa hari lalu barangkali telah mencetuskan sebuah gagasan sederhana dalam pikirannya.


Tidak semua hal mudah diceritakan. Tidak semua hal pula perlu dijelaskan.


Terkadang, satu kebohongan kecil justru jauh lebih mudah daripada menjawab puluhan pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.


Anggun bahkan berulang kali berpesan kepada para tukang agar tidak memberitahukan hal tersebut kepada Tante Maya ataupun Om Dewo.


Alasannya jelas dan masuk akal.


Keduanya sedang berduka atas meninggalnya ibu Tante Maya.


Tidak sepenuhnya salah.


Namun, juga tidak sepenuhnya benar.


Sebab sampai saat itu, Anggun sendiri belum menceritakan tentang rumahnya yang dibobol kepada Tante Maya, apalagi Om Dewo.


*****


Anggun telah bersiap untuk kembali bekerja setelah dua hari tidak masuk.


Ia mengenakan sepatu khusus miliknya dan membawa pena taktis yang sudah lama tidak ia gunakan.


Entah mengapa, setelah kejadian penyerangan malam itu, ia merasa benda-benda tersebut kembali dibutuhkan.


Anggun memang tidak tahu apakah semua itu benar-benar akan membuatnya lebih aman.


Namun, setidaknya, keberadaan benda-benda itu membuatnya merasa sedikit lebih percaya diri. Benda-benda yang sudah lama tidak digunakannya itu terasa begitu akrab di tangannya. Ia tahu fungsi dan kemampuan masing-masing, seolah keduanya telah menjadi bagian dari dirinya.


Meskipun begitu, keberadaan benda-benda tersebut juga membuatnya teringat kepada sosok tua yang dahulu ia anggap sebagai pengganti sang ayah.


Anggun terdiam sejenak.


Sosok yang pernah memberinya rasa aman itu, pada akhirnya, tetaplah orang lain.


Orang yang meninggalkan luka dan duka dalam hidupnya.


Ia menggeleng cepat, seolah ingin menyingkirkan kenangan tersebut.


Namun, pikirannya justru kembali berpindah pada video call bersama Bima.


Entah bagaimana, Bima lupa mematikan sambungan mereka. Layar ponsel Anggun memang sudah gelap sehingga ia tidak lagi bisa melihat tampilan kamera, tetapi sambungan itu masih terhubung.


Beberapa saat kemudian, suara Bima terdengar samar.


"Ma, gimana? Kak Erlin udah bisa dihubungin?"


"Belum."


Suara Tante Maya terdengar letih.


Anggun mengerutkan kening.


"Lho, gimana toh? Kak Erlin pasti sedih kalau nggak dikasih tahu soal Nenek. Mama tahu kan, Kak Erlin tuh sayang banget sama Nenek. Emang kapan terakhir Mama komunikasi sama Kak Erlin?"


Hening sesaat.


"Eh, jangan nangis dong, Ma. Bima nggak bermaksud bikin Mama sedih."


"Mama nggak ingat. Kayaknya udah hampir tiga mingguan. Beberapa kali Mama udah chat sama telepon, tapi nggak pernah diangkat. Nomornya juga seminggu terakhir ini nggak aktif."


Suara Tante Maya terdengar menahan isak.


Anggun tetap diam. Hatinya ikut pilu mendengar isakan itu.


"Atau gini aja," lanjut Bima. "Aku samperin langsung ke kosnya Kak Erlin?"


"Serius kamu?"


Suara Tante Maya terdengar sedikit meninggi, campuran antara lega dan khawatir.


"Janganlah. Nanti papamu marah."


Kali ini suara Tante Maya terdengar datar.


Sesaat hening, sebelum Bima kembali bicara.


"Ya udah, aku coba telepon, ya. Kalau sampai besok nggak bisa, aku balik ke Jawa, samperin Kak Erlin ke kos. Mama masih nyimpen alamatnya, kan? Nanti share loc ke aku."


"Ada... Tapi kamu jangan bilang Papa kalau mau jemput Erlin."


Belum sempat Tante Maya menyelesaikan kalimatnya, Bima memotong.


"Aman, Ma. Aku paham kok. Aku bakal diam-diam ngelakuin ini. Lagian hasil petikan di kebun Wonosobo lagi turun. Ada beberapa blok yang pucuknya nggak bagus. Aku bisa pakai itu buat alasan minta izin sama Papa."


"Makasih, ya, Sayang."


Suara Tante Maya terdengar terharu.


Anggun buru-buru mematikan sambungan video call. Ia khawatir Bima menyadari bahwa dirinya masih mendengar percakapan tersebut.


Selama hampir lima tahun tinggal di paviliun milik Om Dewo, Anggun memang tidak pernah merasa perlu mencampuri urusan keluarga itu.


Ia hanya tahu bahwa Erlin jarang berada di rumah dan tampaknya tidak terlalu dekat dengan ayahnya.

Lihat selengkapnya