Anggun masih terus berjalan.
Ia tetap melangkah santai, meski kini mengambil jalan berbelok, meninggalkan jalur utama, masuk ke persimpangan yang menuntunnya melewati gang-gang kecil yang bahkan belum pernah ia lewati sebelumnya.
Suasana senja yang sejuk sedikit banyak membuat Anggun merasa lebih tenang. Meski begitu, ia tetap sadar, di belakangnya masih ada motor yang melaju mengikutinya dari jarak tertentu.
Ia tahu, berjalan kaki membuat posisinya jauh lebih rentan untuk diserang. Namun, jika mereka memang ingin menyerangnya, bukankah sedari tadi mereka bisa melakukannya?
Fakta bahwa mereka masih terus mengamati dan mengikuti hanya berarti satu hal. Mereka ingin berhadapan langsung dengannya. Atau, mungkin, ingin mengajukan pertanyaan?
Mengajukan pertanyaan?
Anggun mendengus pelan. Bahkan di tengah situasi seperti ini, pikirannya masih sempat memilih kata yang terdengar begitu sopan.
Sebenarnya, ia tidak memiliki rencana apa pun. Alasan ia melewati gang-gang kecil yang padat penduduk itu sesederhana ingin membuat orang-orang yang mengejarnya merasa kesal. Pemikiran itu sendiri terdengar aneh baginya. Seharusnya dialah yang merasa lelah dan kesal karena, jelas saja, seorang pejalan kaki tidak akan pernah bisa menandingi kecepatan kendaraan bermotor.
Namun, selama mereka masih memilih untuk mengikuti, Anggun tidak melihat alasan untuk memudahkan perjalanan mereka.
Dari sudut matanya, saat hendak berbelok, Anggun melihat sebuah spanduk lusuh tergantung di depan sebuah warung kecil.
Langkahnya terhenti sesaat.
Ada rasa familiar yang menyergapnya.
Ia menyeberang, mendekat, memastikan penglihatannya. Benar saja. Warung bakso itu pernah ia datangi bersama Bima, dulu, saat mereka boncengan keliling kota di suatu malam.
Bakso Bogem & Mie Ayam Bang Kribo
Nama itu tertera jelas di spanduk yang mulai pudar warnanya.
Secara impulsif, Anggun berjalan ke warung tersebut dan masuk ke dalamnya.
Ingatannya melayang kembali ke masa itu.
"Kakak laper, nggak? Makan bakso dulu, yuk! Ini tuh, ya, bakso paling enak sejagat, Kak, serius. Dagingnya kenyal, kuahnya gurih, sekali coba dijamin nagih!" ucap Bima waktu itu, penuh semangat, sambil memberhentikan motornya di depan warung.
Waktu itu, Anggun hanya mengangguk singkat. Sebenarnya, ia tidak begitu lapar. Namun, melihat ekspresi Bima yang menggebu-gebu menjelaskan soal bakso itu, dengan nada bicara persis sales yang sedang menawarkan produk andalannya, membuat Anggun mau tak mau tersenyum dan mengiyakan.
"Kakak pasti suka, deh!" Mata Bima berbinar menatapnya, penuh keyakinan yang berlebihan.
Anggun tidak tahu apakah baksonya memang seenak itu atau euforia remaja itu sendiri yang menular padanya. Yang jelas, ada rasa cair dan natural yang mengalir di antara mereka. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dengan orang lain.
Laki-laki itu selalu bisa membuat Anggun tidak canggung berjalan bersamanya. Bagaimanapun, Anggun sadar usianya jauh lebih tua. Namun, entah bagaimana, Bima justru membuatnya merasa seolah menemukan warna baru di tengah rutinitas yang nyaris selalu sama selama ini.
"Mau pesan apa, Mbak? Dibungkus atau makan di sini?"
Suara itu menyentakkan Anggun dari lamunannya.
Seorang lelaki botak berdiri di hadapannya, menunggu jawaban.
Anggun mengerjap sejenak, menyesuaikan diri kembali dengan kenyataan.
Tempat itu tidak jauh berbeda dari yang ia ingat. Meja-meja panjang berjajar dengan kursi-kursi kayu di sisinya. Suasana sederhana itu masih sama seperti dulu.
"Makan di sini aja," jawab Anggun, lalu segera mengambil tempat duduk di sudut belakang.
Baru saja ia duduk, dua motor melaju pelan melewati warung tersebut.
Orang-orang yang menaikinya menatap ke arah Anggun.
Lebih lama dari yang seharusnya.
Melihat itu, Anggun hanya menatap datar ke arah mereka.
Saat motor itu telah melintas, Anggun kembali memusatkan perhatian pada warung tersebut. Matanya menyapu sekeliling sebelum akhirnya tertuju pada daftar menu yang tertempel di dinding.
Ingatannya kembali pada malam itu.
"Tahu nggak, Kak," bisik Bima waktu itu, tepat di telinganya. Napasnya hangat menerpa wajah Anggun, bercampur aroma mint yang samar.
"Tahu apaan?" Anggun refleks memalingkan wajah ke arahnya. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat.
Anggun segera menguasai diri. Telunjuknya mendorong kening lelaki itu menjauh.
"Jauh-jauh, lo." Suaranya datar, meski sebenarnya jantungnya sempat berdebar.
"Dih, kayak yang najis aja, deh, gue." Bima menggerutu, lalu memundurkan tubuhnya hingga duduk tegak kembali.
Anggun melirik sekilas, kemudian membuang muka. Senyumnya terangkat singkat, tersembunyi.
"Tadi lu mau ngomong apaan?" tanya Anggun setelah beberapa saat keduanya hanya diam.
"Tau, ah, males," ucap Bima, bibirnya monyong.
"Udah, buruan. Gue kepo, nih." Suara Anggun kehilangan nada datarnya.
"Jiaah, kepo, ya!" Bima tertawa lebar, kakinya menghentak-hentak pelan ke lantai.
Ia kembali mencondongkan tubuhnya, mendekat.
"Udah gue bilang, jangan deket-deket," kata Anggun. Namun, ia sama sekali tidak memundurkan tubuh atau menghindar.
"Nggak enak, kalau ngomongnya kenceng-kenceng," bisik Bima, sok misterius.
Anggun mengernyit bingung, tetapi membiarkan Bima mendekat ke telinganya.
Jantungnya berdebar keras. Darahnya berdesir saat sekali lagi udara hangat menyapu wajahnya, aroma mint kembali tercium samar dari mulut lelaki itu.
"His, Kakak nggak denger aku ngomong apa?"
"Hah? Ngomong apaan, emang?"
"Aih, cantik-cantik budek, ya."
Spontan, Anggun langsung menggeplak kepala Bima. Lelaki itu meringis.
"Sakit, Kak. Gila, ya, pukulan Kakak kuat banget."
Anggun refleks mengelus kepala Bima, mengucapkan maaf berkali-kali.
Sementara itu, Bima justru menatapnya dalam. Senyumnya terkembang lebar.
"Ini, ya, Mbak, pesanannya. Minumnya sekalian?"
Anggun tergagap. "Eh, iya, Pak. Teh tawar aja, ya, panas."