Sementara itu, puluhan meter dari tempat kejadian, sebuah mobil hitam terparkir rapi di pinggir jalan.
Lampu jalan sama sekali tidak menyentuh mobil tersebut. Seolah pengendaranya memang sengaja memilih titik yang gelap, tersembunyi dari pandangan.
Di dalam kabin depan, dua orang duduk berdampingan. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Keduanya memegang teropong jarak jauh, mengamati situasi yang tengah berlangsung di depan sana.
Mereka melihat semuanya.
Seorang pria keluar dari pintu belakang ambulans. Gerakannya cepat. Dalam hitungan detik, lengannya sudah mengunci tubuh Anggun dari belakang.
"Seriusan kita cuma bakal nunggu?!" Suara perempuan itu meninggi, penuh emosi.
"Emang kita bisa apa?" Lelaki di sampingnya tetap memasang teropong. Matanya tak lepas dari kejadian di depan. "Kalau kita ikut campur bikin keributan, orang-orang bakal ngenalin kita. Belum lagi kalau ada interogasi dari warga sekitar."
"Wah, lo udah gila, sih!"
Perempuan itu melepas sabuk pengamannya.
Tangannya sudah meraih gagang pintu ketika lelaki di sampingnya buru-buru menoleh.
"Vi, lo mau ke mana?!"
Ia berusaha meraih tangan perempuan itu, tetapi Livia sudah lebih dulu membuka pintu.
"Udah jelas, kan?" ucap perempuan itu sedikit ketus. "Lo diem aja di situ. Biar gue yang gerak."
"Via, lo mau cari mati? Lo nggak mungkin menang lawan mereka!" balas lelaki itu tak kalah keras. "Biar gue aja yang nolongin tuh cewek."
"Gue tahu apa yang mesti gue lakuin. Lagian, siapa juga yang mau ngadepin mereka?"
Mendengar itu, Rendra hanya menghela napas.
Livia sudah setengah keluar dari kursi.
Ia menutup pintu setelah turun, kemudian membuka pintu belakang untuk mengambil tas ransel yang dibawanya. Tangannya mengobrak-abrik isi tas dengan cepat.
Beberapa detik kemudian, jemarinya menemukan sesuatu.
Sebuah jilbab instan.
Tanpa ragu, Livia langsung menyampirkannya ke kepala. Ia merapikan bagian depannya sekadarnya, lalu menutup kembali pintu mobil.
Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, kaca jendela di sisi pengemudi turun.
"Lo mau ngapain, kocak?" sembur Rendra melihat penampilan Livia. "Minimal kalau lo pake kerudung, jangan tanktop-an, dong!"
Suara lelaki itu terdengar geli, setengah menahan tawa.
Livia berhenti.
Ia menunduk, memeriksa pakaiannya sendiri.
Jilbab rapi menutupi kepala, sementara tanktop yang dikenakannya masih terlihat jelas. Penampilannya memang jauh dari kata tertutup.
"Brengsek!"
Livia mengumpat kasar. Wajahnya memerah.
Rendra segera meraih jaketnya sendiri dan melemparkannya ke arah Livia.
"Nih! Pake aja jaket gue. Nggak apa-apa kedodoran daripada kesempitan."
Rendra masih sempat tersenyum.
Livia menangkapnya dengan satu tangan.
Rendra kemudian menyodorkan masker dan kacamata melalui jendela yang masih terbuka.
"Ini juga. Biar nggak gampang dikenali."
Livia memasang jaket itu dengan gerakan cepat, lalu mengambil masker dan kacamata dari tangan Rendra.
Tanpa membuang waktu lagi, Livia berjalan cepat. Namun, alih-alih menuju tempat Anggun berada, ia justru bergerak menghampiri rumah-rumah warga.
Ia mengetuk salah satu pintu dengan terburu-buru.
"Permisi, tolongin saya..."
Suara Livia yang terdengar panik membuat beberapa rumah di sekitarnya ikut membuka pintu. Satu per satu, orang-orang menjenguk keluar.
"Neng, naon, Teh?"
"Kenapa, Mbak?"
"Teteh siapa? Ada apa, ya?"
Livia menarik napas panjang.
Beberapa orang mulai bermunculan, memperhatikan perempuan di hadapan mereka yang tampak panik dan ketakutan.
"Tolongin teman saya! Dia lagi mau diculik sama orang-orang jahat!"
Beberapa orang terkejut serempak. Spontan, pandangan mereka beralih ke arah yang ditunjuk Livia.
Dari kejauhan, mereka samar-samar melihat sekelompok orang yang mengepung seorang perempuan.
Mereka melihat bagaimana perempuan itu diseret oleh seorang laki-laki yang menguncinya dari belakang.
Namun, yang membuat orang-orang itu kagum sekaligus heran adalah ketika perempuan itu terseret, ia masih mampu mempertahankan pijakannya di tanah.
Alih-alih melawan arah tarikan, ia justru mendorongkan tubuhnya mengikuti gerakan lelaki tersebut.
Satu hentakan.
Tubuh lelaki itu terbanting dan menghantam bodi ambulans.
Orang-orang di depan rumah mulai memperhatikan dengan lebih serius.
Perempuan itu menginjak kaki lelaki tersebut, lalu dengan cepat menghantamkan sikunya ke rusuk lawan.
Lelaki itu terhuyung. Kunciannya terlepas dan tubuhnya merosot jatuh ke aspal.