Mobil hitam itu melaju kencang membelah keramaian petang. Langit di atas gedung-gedung kota mulai kehilangan warna, menyisakan semburat gelap di antara cahaya lampu jalan yang satu per satu menyala. Kendaraan masih memenuhi ruas jalan. Lampu rem berderet merah, sementara suara klakson sesekali menyelip di antara deru mesin dan hiruk-pikuk orang yang baru pulang beraktivitas.
Di dalamnya, Rendra, Livia, dan Anggun masih tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Keheningan itu akhirnya runtuh ketika Anggun mulai berbicara.
"Katanya lo mau jelasin. Gue itung ada kali tiga menitan, kok masih diem?" Anggun menoleh ke arah Livia.
Livia pun menoleh ke arahnya. Senyum tipis mengembang di wajahnya.
Ia tidak langsung menjawab. Perempuan itu justru melepas jilbab dan masker yang sejak tadi menutupi wajahnya, melipat jilbab itu seadanya di pangkuan, lalu membuka jaket milik Rendra dan membiarkannya tergeletak di sampingnya.
Sementara itu, Rendra hanya memperhatikan keduanya melalui kaca spion.
Mereka sudah sepakat bahwa Livia-lah yang akan berbicara, sementara Rendra cukup fokus menyetir.
Bagaimanapun, Rendra bukan orang yang terlalu sabar. Terlebih, Anggun sempat membuatnya kesal beberapa waktu lalu. Sampai sekarang pun, hal itu masih mengganggunya dan membuat emosinya mudah naik setiap kali berada di dekat perempuan tersebut.
"Tenang dulu, Nggun. Kita bakal jelasin, kok. Gue cuma sengaja nunggu biar adrenalinnya turun dulu. Biar kita bisa sama-sama ngomong pake kepala yang adem," jawab Livia dengan tenang.
Anggun mendengkus.
"Lo tuh emang gini, ya?"
"Maksud lo?"
"Ya, kayak gini. Sok-sokan kalem, sok bijaksana, sok lembut." Anggun menatap Livia tajam. "Cewek kayak lo tuh lebih nyeremin daripada berandalan yang nyerang gue tadi."
Ia berhenti sejenak.
"Karena gue nggak ngerti lo maunya apa. Apa lo lagi manipulasi gue, apa lo lagi coba ngorek sesuatu dari gue, atau lo emang beneran sepeduli itu sama gue? Gue jadi nggak bisa bedain."
Anggun terdiam sesaat setelah mengatakannya.
Di luar jendela, deretan lampu toko dan papan nama berkelebat, memantulkan cahaya yang bergerak-gerak di dalam kabin.
Namun, Livia tidak menanggapi tudingan itu. Ia justru mengembalikan pembicaraan ke pokok permasalahan.
"Gue tahu lo pasti bertanya-tanya, kan? Ngapain kami ada di sini. Dan lo nggak sepenuhnya salah sih kalau mikir kami ngebuntutin lo. Ya, itu bener kok..."
Livia melihat wajah Anggun yang seketika mengeras. Tatapannya tertuju padanya, tajam dan penuh tanda tanya.
"Hari Minggu kemarin, waktu gue habis nganter lo balik ke paviliun, gue dicegat sama dua cowok di tengah jalan."
Livia kemudian menceritakan apa yang terjadi setelah itu.
Kedua laki-laki tersebut berusaha mengintimidasi sekaligus menginterogasinya. Namun, Livia yang saat itu masih berpenampilan sebagai laki-laki justru melakukan sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga.
Ia menunjukkan ekspresi ketertarikan kepada keduanya. Dengan sengaja, Livia bersikap manja dan genit, seolah benar-benar menikmati perhatian mereka.
Cara itu ternyata berhasil.
Kedua laki-laki tersebut perlahan terlihat risih, bahkan jijik. Interogasi yang tadinya keras dan kasar berubah menjadi canggung, sampai akhirnya mereka memutuskan pergi meninggalkan Livia begitu saja.
Anggun menatap Livia lebih lama.
Livia pun melanjutkan.
"Itu sebabnya kami ada di sini. Karena kami udah memperhitungkan kejadian kayak gini bakalan terjadi. Dan lo rasain sendiri, kan?"
Anggun terdiam.
Matanya masih tertuju pada Livia, seolah sedang berusaha membaca setiap perubahan pada wajah perempuan itu. Ia tidak tahu apakah sedang mencari kebenaran dari perkataan Livia, atau justru mencoba menemukan kebohongan yang mungkin disembunyikannya.
Keheningan jatuh selama beberapa saat.
Suara kendaraan dari luar terdengar samar melalui kaca yang tertutup. Lampu sebuah kendaraan dari arah berlawanan menyapu kabin, menerangi wajah mereka sekejap sebelum kembali tenggelam dalam bayangan.
Livia sama sekali tidak memotong diam tersebut, membiarkan Anggun memproses semuanya.
"Jadi kalian berdua datang ke sini jauh-jauh, kayak gini cuma buat nyelamatin gue dari orang-orang brengsek itu?"
Alih-alih terdengar lembut atau penuh terima kasih, suara Anggun justru terdengar menyindir. Ia bahkan tertawa kecil, mencemooh.
"Gue sih yakin, lo berdua nggak semurah hati itu. Kalian pasti takut, kan, kalau gue bocorin soal organisasi kalian..." Anggun pura-pura berpikir. "Apa namanya, ya?"
Ia mengangkat wajahnya sedikit, lalu bertepuk tangan.
"Ah, Mata Merpati."
Tawa masih menghiasi bibirnya.
"Lo berdua tahu nggak sih? Sejujurnya gue penasaran, siapa sih bos mereka? Apa yang mereka pengen dengar dari gue? Jangan-jangan mereka emang lagi nyari kalian, ya?"
Anggun berhenti sejenak, kemudian melirik Rendra.