Waktu telah menunjukkan pukul 21.15 ketika Anggun masih duduk di kursinya, menghadap jendela yang terbuka ke arah teras paviliunnya.
Angin malam berembus perlahan melewati jendela, membawa udara sejuk masuk ke dalam ruangan. Di luar, lampu teras menyala dengan cahaya kuning yang redup, menyorot pot-pot bunga Tante Maya yang masih tersisa. Sebagian tanamannya masih hidup, hijau dan tegak. Sebagian lain sudah layu dan mengering sejak kekacauan itu, daunnya menggantung di dalam pot yang miring. Di balik teras, halaman tampak remang, dan dari semak-semak suara jangkrik terdengar bersahutan, pelan dan tidak putus-putus.
Lampu kamarnya yang putih membuat teras di luar tampak jauh lebih temaram.
Di hadapannya, buku bersampul biru terbuka di atas meja panjang. Pena taktis di tangannya bergerak pelan, mengisi halaman demi halaman dengan tulisan tangannya.
Beberapa lembar kertas berserakan di lantai. Sebagiannya telah diremas hingga kusut, sebagian lainnya hanya terlipat dan tergeletak tanpa tujuan. Di sudut meja, sebuah amplop terletak sendiri di antara sisa-sisa kertas itu.
Anggun membiarkannya.
Tatapannya tetap tertuju pada halaman buku.
Buku bersampul biru itu telah bertahun-tahun menjadi tempatnya menaruh hal-hal yang tidak pernah keluar dari mulutnya.
Lelah. Kecewa. Marah. Gelisah.
Semua yang terlalu rumit untuk diucapkan, atau terlalu pribadi untuk dipercayakan kepada orang lain, berakhir di sana.
Tangannya berhenti.
Anggun menatap tulisan terakhir yang baru saja dibuatnya.
Pikirannya kemudian kembali pada pertama kali ia melakukan hal yang sama.
Saat itu, ia sedang merasa begitu buntu. Ia membutuhkan sesuatu untuk menjadi tempat pelampiasannya, tetapi tidak tahu kepada siapa harus mengatakannya.
Ia bukan orang yang mudah membagi kisah hidup kepada siapa pun.
Akhirnya, ia mengambil selembar kertas dan menuliskan satu hal yang sedang ia rasakan.
Satu kekecewaan.
Satu kejadian yang terus berputar di kepalanya.
Satu hal yang membuatnya marah.
Tidak panjang. Ia hanya membiarkan apa yang saat itu memenuhi pikirannya mengalir ke atas kertas.
Namun setelah pena itu diletakkan, ada sesuatu yang berubah.
Dadanya terasa lebih lapang.
Bukan karena masalahnya selesai. Hanya saja, untuk sesaat, ia tidak lagi harus menanggung semuanya seorang diri.
Sejak saat itu, sesekali, ketika perasaannya sudah terlalu penuh, Anggun memilih kertas untuk meluapkan apa yang tidak sanggup ia katakan.
Anggun menekan bibirnya. Ingatan tentang kejadian sore tadi kembali menyeruak, membuat tangannya tanpa sadar menekan pena taktis itu semakin dalam hingga meninggalkan goresan pada kertas.
Kata-kata Livia di dalam mobil kembali terngiang di kepalanya.
"Gue yakin lo cukup paham situasi yang lo hadapi sekarang. Lo nggak bisa terus tinggal di rumah itu."
"Selain ngebahayain diri lo sendiri, orang yang punya rumah itu juga bisa ikut kena imbasnya. Lo ngerti, kan, maksud gue?"
Anggun memejamkan mata.
Di luar, jangkrik terus berbunyi. Hanya itu yang terdengar.