The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #22

Tenggat

Setelah memasukkan buku itu ke dalam laci, Anggun kembali duduk di kursinya.

Tangannya terulur meraih toples berisi teh chamomile. Dengan gerakan refleks, ia mengambil sebuah cangkir, menjumput sedikit teh, lalu memasukkannya ke dalam cangkir tersebut.

Ia menuangkan air ke dalam ketel listrik dan menyalakannya.

Teh chamomile itu mengingatkannya pada Tante Maya, pada hari-hari awal ketika ia menempati paviliun ini.

Waktu itu, Tante Maya agaknya cukup sering memperhatikan Anggun dari jendela besar dapur, baik saat ia berangkat maupun pulang kerja. Beberapa kali, perempuan itu melihat Anggun dengan wajah yang tampak tidak segar, kantung mata yang jelas terlihat, rambut sedikit kusut, dan raut murung.

Mungkin Tante Maya mengira Anggun sedang mengalami kesulitan tidur.

Sampai suatu sore, ketika Anggun baru pulang dari perpustakaan, perempuan itu mendatangi paviliunnya sambil membawa makanan dan teh chamomile.

"Kamu suka ngeteh, Nggun? Cobain deh teh ini, emang agak pahit sih, tapi aromanya bikin rileks. Bantu banget kalau kamu susah tidur."

"Makasih, Tan, tapi aku biasanya cukup minum air putih aja sih. Lagian aku nggak punya pemanas air."

Tante Maya mengangguk-angguk sambil menatap wajah Anggun.

"Oh, nggak apa-apa. Di rumah ada kok ketel listrik. Entar tante bawain, ya."

"Eh, nggak usah, Tan."

"Udah, nggak apa-apa. Nggak perlu nggak enak gitu lah. Lagian kamu udah nolongin aku, kan, waktu itu. Anggap aja ini balas budi." Tante Maya masih tersenyum.

"Tapi, Tan..."

"Ssst! Nggak apa-apa. Aku maksa kok." Suara Tante Maya terdengar tegas, tetapi masih terselip nada bercanda.

Anggun hanya tersenyum kecut.

Melihat itu, Tante Maya sempat membuka mulut, tetapi mengurungkan niatnya. Ada sesuatu yang ingin ia katakan. Namun, perempuan di hadapannya sudah dewasa, bukan anak kecil yang perlu dinasihati. Apa haknya berceramah kepada penyewa yang baru dikenalnya?

Di sisi lain, ia seorang ibu. Naluri itu sulit dibungkam, apalagi ketika melihat wajah lelah yang berusaha keras tampak baik-baik saja.

Akhirnya, Tante Maya tetap berbicara, pelan, dengan nada yang dibuat ringan.

"Nggun, kadang kita mikir, nggak enak ah nerima pemberian dari orang lain."

Ia menggeser toples teh di tangannya, seolah mencari kata yang tepat.

"Mungkin kamu mikirnya bakal ngerepotin, atau takut diungkit-ungkit pemberiannya..."

Anggun mengangkat wajahnya sedikit. Tante Maya tersenyum tipis sebelum melanjutkan.

"Tapi, Nggun, kamu pernah kepikiran nggak, kalau kamu nolak pemberian dari orang, sama halnya kamu ngecewain orang itu?"

Anggun tidak menjawab. Jemarinya mengusap ujung lengan bajunya dengan canggung.

"Soalnya logikanya, kalau orang udah siap ngasih sesuatu ke kita, otomatis dia udah mempersiapkan itu."

Tante Maya menarik napas pelan.

"Dan kalau kita nolak, itu bikin orang sedih. Bahkan bisa aja malah tersinggung."

Anggun menunduk. Ia tidak menyela, tidak pula tahu harus menjawab apa.

Tante Maya menangkap diam itu, lalu tertawa kecil, seolah baru menyadari dirinya sudah terlalu banyak bicara.

"Eh, aku banyak ngomong, ya... Hehe, maafin tante ya, kebiasaan emak-emak."

Tatapannya sekilas jatuh pada kantung mata Anggun. Perempuan itu tampaknya lebih membutuhkan istirahat daripada petuah panjang.

"Ya udah... istirahat gih. Tante pamit, ya."

Anggun mengantar Tante Maya hingga keluar dari paviliun dan menyusuri halaman samping.

"Tan, makasih, ya."

Tante Maya hanya mengangguk dan tersenyum, lalu kembali berjalan menuju rumahnya.

Beberapa hari kemudian, Tante Maya benar-benar mengantarkan ketel listrik yang dijanjikannya. Malam itu, Anggun menyeduh teh pemberiannya.

Awalnya, ia enggan. Teh bukan kebiasaannya, dan ia tidak terlalu percaya sesuatu sesederhana itu bisa membantunya tidur. Ia hanya tidak ingin mengecewakan Tante Maya, jadi ia menyeduhnya sekadar untuk menghargai kebaikan perempuan itu.

Namun, setelah meneguknya, ia merasakan sesuatu perlahan melonggar di dadanya. Bahunya turun, napasnya melambat. Setelah beberapa kali menyeduh teh itu, ia mulai bisa merasa rileks dan akhirnya beristirahat dengan lebih tenang.

Ternyata Tante Maya benar.

Lihat selengkapnya