The Silent Librarian

Muhammad Amin Hambali
Chapter #23

Kenangan Tentang Bima

Anggun tersadar dari lamunannya ketika ponsel di atas nakas bergetar.


Layar yang menyala memancarkan cahaya pucat ke dinding kamar. Sebuah nama tertera di sana.


Bima.


Tatapan Anggun beralih ke laci tempat ia menyimpan buku bersampul biru itu. Jemarinya terdiam di atas paha. Sesaat, ia bimbang. Perlukah ia menjawab panggilan ini?


Bagaimana jika ini menjadi kesempatan terakhirnya untuk mendengar suara laki-laki itu?


Anggun mengembuskan napas perlahan, lalu meraih ponselnya. Setelah terdiam sejenak, ia menggeser ikon hijau di layar.


"Halo ..."


Suaranya terdengar lemah, sedikit bergetar. Bahkan, ia sendiri bisa merasakan betapa sulitnya mengeluarkan sapaan sesederhana itu.


"Halo, Kak. Lo kenapa?" Suara Bima terdengar khawatir dari seberang.


Anggun menggigit bibir bawahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya sesaat, lalu mengembuskannya perlahan. Ia tak ingin Bima mendengar kegugupan yang berusaha disembunyikannya.


"Kenapa apaan? Kocak deh lo. Kan lo yang telepon. Mestinya gue yang nanya kenapa."


Kali ini, suaranya terdengar lebih ringan, nyaris seperti biasanya.


Sudut bibirnya terangkat tipis. Namun, senyum itu tak bertahan lama sebelum matanya mulai terasa panas.


Anggun mengumpati dirinya sendiri dalam hati. Kenapa akhir-akhir ini ia begitu mudah menangis setiap kali berbicara dengan Bima?


"Eh, iya, ya. Harusnya lo yang nanya gitu, ya."


Suara Bima terdengar renyah, diikuti nada cengengesan yang begitu akrab di telinga Anggun.


Di seberang sana, Bima sedang mengemudikan mobil dengan earphone terpasang di telinga. Pandangannya sesekali menyapu jalanan malam yang ramai di hadapannya, sementara percakapan mereka terus berlangsung.


Seharusnya Bima sudah kembali ke Jawa beberapa hari lalu. Namun, ketika meminta izin kepada ayahnya, ia justru diminta menunda kepulangannya.


"Tunggu beberapa hari dulu. Mbahmu baru meninggal, masa kamu tinggal gitu aja."


Bima tak punya pilihan selain mengangguk dan menuruti permintaan ayahnya.


Meski begitu, kekhawatiran diam-diam tumbuh dalam dirinya dan sang ibu. Kakak perempuan Bima sama sekali tak bisa dihubungi. Tak ada kabar, tak ada jawaban. Hanya keheningan yang membuat mereka semakin cemas.


Malam ini, Bima akhirnya memutuskan untuk tak menunggu lebih lama. Ia berangkat kembali ke Jawa, meski harus menempuh perjalanan panjang.


Mobilnya terus melaju membelah jalanan malam, menuju pelabuhan. Masih jauh perjalanan yang harus ditempuhnya, tetapi ia tak ingin menunda kepulangannya lagi.


"Jadi ada apa, Bocah? Ngapain telepon gue malam-malam gini?"


Di kamarnya, Anggun beranjak dari kursi dan berjalan menuju jendela. Ia menutupnya rapat-rapat, lalu menarik gorden hingga tak menyisakan celah. Setelah memastikan pintu kamar terkunci, ia mematikan lampu dan duduk di tepi ranjang.


Kamar itu seketika tenggelam dalam gelap. Hanya cahaya redup dari layar ponsel yang menyinari wajahnya.


Di seberang sana, Bima berdeham sebelum mengajukan pertanyaan.


"Lo tadi nelpon Nyokap, ya?"


Anggun menggigit bibir bawahnya. Jemarinya mengerat di sekeliling ponsel.


Petang tadi, setelah Livia dan Rendra pergi, ia menghabiskan waktu cukup lama untuk menimbang-nimbang banyak hal. Berbagai kemungkinan berputar di kepalanya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Tante Maya.


Ia ingin meminta maaf atas kerusakan yang terjadi di rumah perempuan itu. Pot-pot bunga yang pecah, pintu-pintu yang rusak, juga pagar yang tak lagi utuh.


Tante Maya tentu terkejut mendengar penjelasan Anggun. Namun, di balik keterkejutannya, perempuan itu cukup dewasa untuk memahami bahwa kerusakan tersebut bukanlah hal terpenting. Anggun telah bersedia berterus terang dan bertanggung jawab, meskipun semua itu bukan kesalahannya.


Yang justru membuat Anggun kesulitan menjawab adalah pertanyaan-pertanyaan Tante Maya tentang keadaannya.


Apakah ia baik-baik saja? Apakah kejadian itu membuatnya tertekan?


Pertanyaan sederhana, tetapi terasa begitu sulit untuk dijawab.


Ada banyak hal yang tak bisa Anggun ceritakan. Kejadian-kejadian yang tak sanggup ia ungkapkan, juga kekhawatiran yang terpaksa ia simpan sendiri.


Akhirnya, ia hanya menceritakan hal-hal yang perlu diketahui Tante Maya. Ia berusaha menjaga suaranya tetap tenang, seolah semuanya baik-baik saja dan tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.


Ia tak ingin membuat perempuan itu ketakutan, apalagi menambah kecemasannya.


"Nyokap lo cerita apa?" tanya Anggun, sedikit waswas.


"Ya, kurang lebih mirip-mirip lah, Kak, sama yang lo bilang ke gue."


"Oh ..."


Anggun menjawab singkat. Ia menggeser posisi duduknya, lalu menyandarkan punggung ke kepala ranjang.


"Kok 'oh' doang, sih?" protes Bima, terdengar heran sekaligus kesal.


Anggun hampir tersenyum mendengar nada itu. Ia sudah hafal betul cara Bima bereaksi setiap kali mendapat jawaban datar darinya. Seolah-olah, menjawab sekenanya saja sudah cukup untuk melukai harga diri laki-laki itu.


Ingatan tentang Bima pun membawanya kembali ke masa-masa awal ia tinggal di paviliun itu, ketika laki-laki tersebut masih duduk di kelas sebelas SMK.

Lihat selengkapnya