Kenangan manis itu perlahan tersisih, digantikan kepingan ingatan yang kembali membuat dada Anggun sesak.
Ada satu sore yang tak pernah bisa ia lupakan.
Kala itu, Anggun pulang kerja seperti biasa, menyusuri trotoar yang ramai saat langit mulai jingga. Di tepi jalan, para pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah tergesa, berbaur dengan deru kendaraan.
Di tengah kepadatan itu, sebuah motor melaju pelan di sisi trotoar.
Anggun tertegun.
Motor sport hitam mengilap itu terlalu ia kenal. Bodinya bersih, knalpotnya menderu halus. Begitu pula pengendaranya: seorang pemuda berseragam SMK, berpunggung tegap, dengan helm merah marun. Sebuah tas ransel terletak di atas tangki motor, tepat di depannya.
Bima.
Namun, bukan itu yang membuatnya terpaku.
Seorang gadis duduk di belakangnya, kedua lengannya melingkar erat di pinggang Bima. Kepalanya bersandar di bahu pemuda itu, seolah tak ada tempat lain yang lebih nyaman. Seolah bahu itu memang miliknya. Sesekali, keduanya tertawa.
Pemandangan yang begitu akrab, begitu biasa: dua anak muda pulang bersama, menikmati sore. Tak ada yang istimewa dari pemandangan itu bagi orang lain. Bagi Anggun, semuanya terasa begitu menyakitkan.
Motor itu terus melaju melewatinya. Bima menatap lurus ke depan, tak menoleh sedikit pun. Ia bahkan tak menyadari Anggun berdiri tak jauh dari sana.
Anggun membeku. Seseorang menyenggol bahunya, tetapi ia nyaris tak merasakannya. Matanya terpaku pada punggung Bima yang semakin menjauh, lalu perlahan menghilang di antara kendaraan.
Sesaat sebelum motor itu berbelok di pertigaan, Anggun melihatnya.
Bima mengelus tangan gadis yang melingkar di pinggangnya.
Gerakan kecil, singkat, yang mungkin tak berarti apa-apa bagi orang lain.
Tapi tidak bagi Anggun.
Ia memalingkan wajah. Rahangnya mengeras, panas merambat ke pipinya. Ia tak ingin siapa pun melihat ekspresinya, apalagi mengetahui betapa pahit perasaan yang tak ingin diakuinya.
Anggun berbalik, menyelinap ke gang sempit di antara dua toko, lalu menyandarkan punggung ke dinding yang dingin.
"Goblok. Goblok. Goblok!"
Ia memukuli kepalanya sendiri dengan kedua tangan.
"Lo tuh mikir apaan sih, Nggun?" makinya pada diri sendiri. "Dia cuma bocah puber. Lo tahu persis itu. Terus, ngapain lo baper?"
Ia mengembuskan napas kasar, seolah hendak mengusir sesuatu yang telanjur tumbuh di dadanya.
Bima terlalu ramah. Terlalu hangat. Terlalu mudah membuat orang merasa istimewa. Barangkali laki-laki seperti itu memang bisa bersikap manis kepada siapa saja.
Seharusnya Anggun tahu lebih baik. Tapi ia telanjur mengira dirinya berbeda.
Istimewa.
Di luar gang, klakson bersahutan. Suara pedagang dan percakapan orang-orang terus mengalir, seolah tak ada yang berubah.
Hanya Anggun yang merasa ada sesuatu dalam dirinya baru saja patah.
Ia memejamkan mata. Semakin keras ia mencoba melupakan, semakin jelas semuanya terbayang: punggung Bima yang menjauh, gadis yang memeluk pinggangnya, dan belaian kecil itu.
Entah berapa lama ia berdiri di sana sebelum akhirnya memaksa diri pulang.
Sejak sore itu, Anggun mulai menjauh dari Bima.
Kejahilan Bima tak lagi ditanggapinya seperti biasa. Setiap kali Bima mengajaknya bicara, Anggun hanya menatap datar, lalu berlalu tanpa sepatah kata. Jika pemuda itu mendekat, ia mencari kesibukan. Sesekali, ketika Bima menggoda, nyaris saja ia membalas. Bibirnya sempat terbuka, sepersekian detik, sebelum ia mengatupkannya lagi dan pergi. Pesan-pesannya dibiarkan menumpuk, sementara panggilan telepon dibiarkan berdering hingga berhenti sendiri.
Tanpa penjelasan, Anggun menutup satu per satu jalan yang bisa membawa Bima kembali mendekat. Ia takut mendengar jawaban yang tak sanggup diterimanya. Lebih dari itu, ia takut Bima mengetahui perasaan yang selama ini mati-matian ia sembunyikan.
Barangkali dengan begitu, ia bisa meyakinkan diri bahwa semua yang terjadi di antara mereka tak berarti apa-apa. Bahwa ia tak punya alasan untuk cemburu. Bahwa Bima hanyalah remaja lelaki yang kebetulan menjadi tetangganya, seseorang yang mau tak mau akan tetap ia temui dalam kesehariannya.
Dan bahwa menjauh seharusnya mudah.
Namun, luka tetaplah luka. Sejauh apa pun ia berusaha menghindarinya, rasa sakit itu tak pernah benar-benar hilang. Pada akhirnya, ia akan kembali mencuat ke permukaan.
Di kamarnya malam ini, kenangan itu kembali menyeruak.