Zakra meraung, dan seketika itu juga realitas di sekitar Arion bergetar. Waktu seolah diputar balik, kobaran api yang melahap rumah tersedot masuk ke dalam puing. Arion merasakan tarikan gravitasi yang membawa tubuhnya tersentak ke belakang, dan akhirnya dihempaskan dengan keras ke atas ranjangnya sendiri.
Krak!
Rantai hitam mulai muncul dari bawah kolong tempat tidur, melilit pergelangan tangan serta kakinya hingga ia tak bisa bergerak. Zakra tidak memberi ampun, ia mengunci Arion dalam takdir yang tak terelakkan. Tak lama kemudian, dari balik pintu kamarnya yang tertutup, asap hitam pekat mulai menyusup masuk melalui celah-celah pintu. Suhu ruangan meningkat drastis, api mulai menjilat dindingnya.
Di tengah kepulan asap yang menyesakkan, terdengar suara sirine pemadam kebakaran dan polisi, serta teriakan para tetangganya. Saat para petugas berseragam oranye itu menerobos masuk ke dalam kamar yang mulai terbakar, Zakra menarik rantai hitamnya.
Salah satu petugas pemadam kebakaran segera berlari ke arah Arion, menggendong tubuhnya yang mulai lemas di tengah kepulan asap. Saat mereka membawa Arion keluar dari rumah yang kini menjadi neraka kecil itu, mata Arion menangkap pemandangan yang menghancurkan hatinya. Di sana, di atas tandu evakuasi, terlihat tubuh kedua orang tuanya yang telah kaku, terpanggang oleh amukan api.
Pertahanan Arion runtuh. Sifat pendosa dari kehidupan masa lalunya terkubur di bawah emosi murni seorang anak 10 tahun yang kehilangan segalanya. Arion meledak dalam tangis, suara lengkingan bocah yang ketakutan dan penuh duka itu merobek kesunyian malam, membaur dengan suara sirene. Ia menangis sejadi-jadinya, air mata mengalir membasahi wajahnya yang kini berlumuran abu, meratapi hilangnya kehangatan yang baru saja ia rasakan.
***
Sejak malam kebakaran yang merenggut orang tuanya saat usianya menginjak 10 tahun, ia memilih tetap tinggal sendirian di rumah tersebut. Ketika petugas sosial sempat berniat membawanya ke panti, suara Zakra langsung menggema tajam di kepalanya, melarangnya terikat dengan terlalu banyak hubungan manusia yang hanya akan menghambat tugas utamanya.
Sejak saat itu, Arion tumbuh di bawah bayang-bayang kesendirian, memfokuskan sebagian besar waktunya bukan untuk beradaptasi dengan dunia remaja, melainkan memburu petunjuk tentang keberadaan Abra. Sambil membaca surat kabar dan mendengar berita-berita, Arion rutin mengumpulkan kliping kematian mendadak yang misterius dari berbagai kota di Nusantara.
Dikarenakan usianya yang masih muda, kemampuan yang diberikan oleh Walsta belum bisa ia akses sepenuhnya. Namun, hal itu bukan menjadi hal yang penting bagi Arion. Karena, Zakra selalu mengarahkannya.
Bertahun-tahun berlalu hingga Arion menginjak masa SMA. Pada suatu sore dalam perjalanan pulang sekolah, ia dihadang oleh 3 orang siswa berseragam putih abu-abu di sebuah gang yang sepi.
"Hei, yatim piatu. Kudengar Tia memberikanmu cokelat," ujar salah satu siswa bertubuh gempal menatapnya tajam.
"Kau tidak tahu, dia itu pacarku?"
Arion melirik sekilas, lalu menjawab datar "Selera pacarmu bagus ternyata."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Arion berniat melangkah pergi, mengabaikan mereka bertiga. Namun, salah satu dari mereka langsung mencengkeram kasar bahu Arion.
"Zakra, kuharap kali ini kau mengizinkanku untuk mematahkan jari bocah-bocah ini" gumam Arion dingin.
Tanpa menunggu jawaban, Arion menjatuhkan tas punggungnya ke tanah. Dengan gerakan yang cepat, ia berbalik, mencengkeram tangan yang memegang bahunya, lalu membanting pemuda itu ke depan dengan keras hingga menghantam tanah.
Melihat temannya tersungkur, dua orang lainnya langsung melompat maju menyerang secara bersamaan. Arion menghindari ayunan pukulan pertama dengan gesit, menepis lengan lawannya, lalu melayangkan tendangan telak ke arah perut salah satu penyerang. Saat yang tersisa mencoba mencengkeram kerahnya, Arion memutar tubuhnya, menangkap lengan musuh, dan menjatuhkan mereka berdua dalam hitungan detik.