The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #5

Samatha

Arion, yang kini mengenakan jaket denim hitam, kaus putih, dan celana training hitam. Berdiri di dalam ruangan asing itu, memandangi Zakra dan Siva dengan wajah penuh tanya.

"Kalian berdua tampak tidak mengalami perubahan," ujar Arion memecah keheningan.

"Di alam baka, dimensi waktu tidak berfungsi, itulah..." Siva hendak menjelaskan, namun suaranya terpotong tajam.

"Tidak perlu menjelaskan apa pun pada manusia ini" potong Zakra dingin.

Zakra memberi isyarat agar Arion duduk disebuah sofa di sudut Ruang Samatha itu. Di hadapan mereka, sebuah peta melayang di udara, memancarkan titik-titik cahaya merah yang memenuhi wilayah Kota Nusa.

"Aku dan Siva menemukan pola berulang di Kota Nusa," jelas Zakra sambil menunjuk peta tersebut.

"Setiap titik ini adalah kematian yang tidak seharusnya terjadi. Kematian-kematian ini tidak sesuai dengan Gulungan Niskala, yang mengakibatkan arwah-arwah mereka tertahan di luar dimensi Samatha."

"Apakah ini benar-benar ulah Abra?" tanya Arion.

"Iya, ini sudah pasti ulah Abra," sambung Siva.

"Abra memakan jiwa mereka. Dulu ia tidak begitu berani meninggalkan banyak jejak."

"Namun, sekarang. Setelah begitu banyak jiwa yang ia konsumsi, kekuatannya bertambah dan ia semakin berani menampakkan diri."

"Selama 2 tahun terakhir, pola yang sama selalu beredar di sekitar Kota Nusa. Itu tandanya ia menjadikan kota itu sarangnya. Pastinya, dia tinggal di Kota itu" ucap Siva menegaskan.

"Baiklah. Jadi sekarang wilayah mana yang harus kudatangi agar aku bisa langsung menghajarnya?" potong Arion tidak sabar.

Zakra dan Siva terdiam sejenak, saling bertukar pandang tanpa memberikan jawaban pasti.

"Oh, aku paham. Artinya kalian tidak punya jawaban atas pertanyaanku," ucap Arion sambil mendengus sinis, lalu mulai bangkit berdiri.

"Kalau begitu, aku akan mencarinya sendiri." Arion menoleh tajam ke arah Zakra.

"Ohiya, Siva?, bisakah kau hilangkan penjaga Samatha ini dari kepalaku?."

"Dia sangat mengganggu, bahkan saat aku sedang terlelap."

"Aku tidak memiliki kuasa untuk melakukan itu, Arion" ucap Siva.

"Kau!..." Zakra mulai mengerang murka dan mulai mengepalkan tangannya ke arah wajah Arion.

Namun, sebelum tangan Zakra menyentuhnya, ruangan mendadak berpendar oleh silau cahaya putih yang megah. Udara di sekitar mereka mendadak membeku, memaksa Zakra menghentikan gerakannya seketika. Cahaya itu memadat di hadapan mereka, membentuk sosok agung berwibawa yang melayang anggun di atas lantai.

"Hentikan, Zakra!" suara Walsta menggema.

Zakra langsung menurunkan tangannya yang terkepal dan menunduk dalam-dalam menghadap sang penguasa. Arion sendiri tetap berdiri tegak, meski sorot matanya menyipit menatap sosok agung di hadapannya.

Lihat selengkapnya