The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #6

Rumah

Dalam posisi itu, jarak wajah mereka begitu dekat. Napas keduanya saling beradu di ruang sempit yang kini kembali bising oleh deru kereta yang melaju kencang. Gadis itu menatap Arion dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung, matanya tertuju pada sisa air mata yang masih mengalir di pipi pemuda asing di depannya itu.

Keheningan yang mencekam perlahan pecah, tergerus oleh kebisingan gerbong yang kembali normal. Detik demi detik berlalu, menyadarkan keduanya dari situasi yang janggal itu.

Arion segera menarik tangannya, melepaskan cengkeramannya dari pinggul gadis tersebut dengan canggung. Gadis itu terhuyung sedikit sebelum berhasil berdiri tegak kembali. Ia segera merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat tarikan tadi, mencoba mengumpulkan kembali ketenangannya.

"Terima kasih" ujar gadis itu pelan.

Arion hanya mengangguk kaku, sorot matanya yang semula sendu kembali membeku menjadi dingin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia segera memutar tubuh, memunggungi gadis itu. Namun, baru satu langkah ia menjauh, sebuah sentuhan ringan terasa di pergelangan tangannya.

Arion berhenti mendadak. Otot lengannya menegang. Ia menoleh perlahan, mendapati gadis itu masih berdiri di sana, menyodorkan selembar sapu tangan putih bersih ke hadapannya. Gestur tangan gadis itu jelas, ia ingin Arion mengelap jejak air mata yang masih membekas di pipinya.

"Jangan lupa air matanya dilap" ucap gadis manis di hadapannya itu.

Arion terpaku menatap sapu tangan putih di hadapan wajahnya. Setelah itu, Arion memutar tubuhnya perlahan, kemudian ia mengulurkan tangannya hendak meraih sapu tangan tersebut. Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh kain halus itu, suara pengumuman menggema keras di seantero gerbong.

"Kita sudah sampai di Stasiun Kota Nusa. Perhatikan barang bawaan Anda..."

Seketika, ketenangan gerbong pecah. Penumpang yang ingin turun mulai merangsek maju dan saling dorong sebelum kereta berhenti sempurna. Hentakan kereta yang tiba-tiba melambat membuat orang-orang di sekitarnya terdorong kasar. Arion kehilangan keseimbangan, sapu tangan di tangan gadis itu terlepas, dan tubuh-tubuh penumpang yang terburu-buru menghalangi pandangannya.

Arion segera berjongkok, tangannya menyambar kain itu sebelum terinjak oleh kaki-kaki penumpang lainnya. Namun, saat ia berdiri tegak kembali, celah di antara kerumunan itu telah tertutup rapat.

Gadis yang tadi berdiri di hadapannya telah lenyap, tertelan arus manusia yang berebut keluar menuju peron. Arion melangkah keluar dari kereta dengan napas memburu. Matanya memindai setiap sudut stasiun dengan tajam, mencari sosok berambut ikat setengah itu, namun hasilnya nihil. Sosok itu benar-benar telah hilang dari pandangannya.

***

Sementara itu, di area parkir di sisi pintu keluar, gadis itu berjalan terburu-buru menuju sebuah sedan hitam yang tampak telah menunggunya. Begitu ia membuka pintu, seorang pria dengan rahang tegas dan senyuman yang sangat manis menyambutnya. Mereka berpelukan singkat.

"Maaf ya, aku nggak bisa menjemput langsung" ucap pria itu dengan nada yang halus.

Gadis itu tersenyum tipis. "Iya, aku mengerti kok. Aku tahu sesibuk apa pacar aku ini."

Pria itu membelai lembut kepala sang gadis. Sedan hitam itu kemudian melaju perlahan, membelah kepadatan pelataran parkir stasiun. Tepat saat mobil itu berbelok meninggalkan lokasi, sebuah papan iklan raksasa yang sedari tadi terhalang oleh bodi mobil tersebut menyala terang dengan pendar cahaya LED yang memukau.

Papan iklan itu menampilkan wajah pria yang tadi menjemput sang gadis. Ia berpose layaknya model papan atas untuk sebuah brand ternama, GUVVI. Di bawah wajahnya, tertulis nama dengan tipografi tegas, Revan Valdy.

Tak berselang lama, Arion melangkah lebar keluar dari pintu stasiun. Ia tiba tepat beberapa detik setelah mobil sedan hitam itu menghilang dari pandangan. Arion berhenti mendadak, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tatapan tajam yang menyapu jalanan kosong.

Lihat selengkapnya