Sementara itu, di puncak gedung setinggi 30 lantai, Arion duduk santai di atas rooftop . Ia menggigit sebuah apel dengan tenang, menikmati pemandangan Kota Nusa yang berkilau dengan lampu-lampu kota, yang di dampingi oleh indahnya hujan di malam hari. Hujan seolah enggan menyentuhnya, sebuah perisai energi tak kasatmata membuat setiap tetes air membelok sebelum mencapai kepalanya. Arion memang menyukai suasana hujan, dan ia benar-benar sedang menikmati ketenangan malam itu.
Namun, matanya yang tajam menangkap sosok kecil yang berjalan sendirian di bawah sana. Di belakang gadis itu, sebuah motor dengan dua pria misterius melambat, mengikuti langkah gadis itu dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Arion hanya menghela napas panjang, matanya datar dan tidak berminat untuk ikut campur.
"Malang sekali wanita itu," gumam Arion.
"Pasti Siva sudah menuliskan adegan ini di Gulungan Niskalanya" pikir Arion lagi.
Tepat saat pria di belakang motor itu mulai mengulurkan tangan untuk menyambar tas gadis yang ia lihat itu secara paksa, tangan Arion yang hendak membawa apel ke mulutnya berhenti di udara. Suasana hatinya sedang tidak ingin moment favoritenya terganggu oleh pemandangan sepele di jalanan. Apel di tangannya diletakkan perlahan di tepian balkon.
"Sial, mereka merusak suasana hatiku" gumam Arion dengan nada kesal.
Dalam satu gerakan halus, Arion menjatuhkan dirinya dari ketinggian 30 lantai. Sebelum tubuhnya menghantam tanah, ia menghilang dalam sekejap, melakukan perpindahan dimensi secepat kilat.
BRAK!
Suasana jalanan yang tadinya sunyi berubah menjadi arena kekacauan. Tepat saat motor itu melaju, Arion muncul seperti bayangan, mendarat dengan dentuman halus tepat di belakang kendaraan tersebut.
Arion mencengkeram kerah pria di jok belakang dan menghempaskannya ke aspal dengan kekuatan brutal. Pria itu terpental, berguling-guling hingga berhenti dengan erangan tertahan. Tangan satunya lagi mencengkeram bagian belakang motor dengan tenaga yang di anugerahi oleh Walsta. Ban belakang motor itu berputar di tempat, hingga mengeluarkan asap dari gesekan ban.
Amira, gadis yang ternyata gadis di lihat Arion dari atas gedung lantai 30 itu, terkejut saat melihat Arion menoleh ke arahnya, cahaya lampu jalan yang tertimpa rintik hujan menyorot wajahnya dengan tajam. Mata mereka bertemu lagi.
Arion melepaskan cengkeramannya dari motor dengan satu sentakan. Tanpa hambatan, motor itu melesat liar bagaikan banteng yang kehilangan kendali, menghantam batang pohon besar di tepi jalan dengan dentuman yang cukup kencang.
Perampok kedua yang tadi terpental bangkit dengan kalap. Ia mengeluarkan pisau lipat, mengayunkannya ke arah Arion. Namun, Arion bergerak lebih cepat dari perampok itu. Ia menepis pergelangan tangan pelaku dengan satu gerakan, memutarbalikkan arah serangan, lalu menghantamkan sikunya ke dada pria itu hingga terdengar suara rusuk yang berderak.
Perampok itu kemudian segera bangkit dengan tertatih-tatih. Ia melirik rekannya yang baru saja menghantam pohon. Tanpa memedulikan tas milik Amira yang tergeletak di kubangan air, mereka berdua terpincang-pincang lari terbirit-birit, seolah-olah nyawa mereka adalah taruhan jika berani menoleh sedikit saja ke arah Arion.
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan deru hujan yang semakin menderas.
Arion melangkah mendekati kubangan air, memungut tas Amira yang tampak sedikit kotor terkena lumpur. Ia menepuk-nepuk permukaan tas itu dengan tenang hingga sisa-sisa airnya hilang, lalu menyodorkannya kepada gadis itu tanpa ekspresi.
Setelah menyerahkan tasnya, Arion segera memutar tubuh, berniat pergi ke dalam kegelapan malam. Namun, suara lembut Amira menghentikan langkahnya.
"Kamu menolongku dua kali hari ini," ucap Amira lirih, suaranya bergetar menahan sisa rasa takut.
"Terima kasih, ya." sambung Amira.