Setelah mereka duduk berhadap-hadapan, Revan melepas maskernya. Seorang pelayan datang membawa buku menu. Amira membukanya perlahan, dan matanya langsung membelalak melihat deretan angka di sana.
"Gila, ini makanan mahal semua," gumam Amira pelan, namun cukup terdengar oleh Revan dan pelayan di dekat mereka.
Revan melirik canggung ke arah pelayan, berusaha bersikap tenang. "Foie gras toast aja 2."
"Nggak, nggak! Apaan ini, Rp 650.000?" protes Amira tanpa mempedulikan pelayan yang masih berdiri di sana.
"Mira, sudah nggak apa-apa" ucap Revan mencoba menenangkan.
Pelayan itu menunggu dengan sabar. "Baik, untuk minumnya?"
"Es teh saja, Mbak" jawab Amira cepat.
Pelayan itu tersenyum sopan. "Maaf, untuk teh kami ada pilihan black tea, jasmine tea, ada juga..." belum selesai ia menyebutkan daftar minumannya, suara Amira kembali terdengar.
"Ini es teh Rp 70.000? Apaan, astaga!" potong Amira lagi, membuat Revan menghela napas panjang sambil merebut buku menu dari tangan Amira.
"Sudah, sudah... jasmine tea 2, terima kasih" potong Revan tegas kepada pelayan tersebut. Setelah mengonfirmasi pesanan, pelayan itu pun mengangguk dan beranjak pergi.
Revan menatap Amira dengan tatapan serius. "Kamu, mulai sekarang, jangan pernah debat soal harga."
"Iya, tapi kan..."
"Ssst, sudah. Sekarang pacar kamu ini seorang bintang. Jadi, kalau kamu mau apa pun, nggak usah lihat harga, oke? Aku harap kamu mulai bisa membiasakan diri dengan hal itu."
Amira menunduk, memainkan ujung taplak meja. "Percuma juga kalau aku nggak bisa bebas. Aku kan selalu diumpetin."
Revan mencondongkan tubuh, meraih tangan Amira di atas meja.
"Bukan begitu, Sayang. Aku ini masih merintis. Brand-brand baru mulai masuk. Lihat kemarin, GUVVI saja sudah mengontrak aku bahkan sebelum aku menang piala NCC, kan?,"
"Semalam aja ada 5 brand lagi yang mengontrak aku. Aku lagi berusaha banget membangun Karir ini. Aku kan juga melakukan ini buat kita. Kamu yang nemenin aku dari nol banget."
Amira tersenyum getir, namun matanya berbinar. "Bukan dari nol lagi. Dari bayi aku nemenin kamu. Kita lahir di tanggal yang sama, hari yang sama, tetanggaan lagi."
Amira menarik napas panjang, menatap Revan dengan ketulusan yang dalam. "Dan kamu juga selalu ada disisi aku. Makanya, aku bangga banget sama kamu."
Revan menggenggam tangan Amira lebih erat. Tatapannya menjadi sangat intens "Kamu harus selalu ada di dekat aku, Amira. Hanya kamu." ucap Revan.
***
Suara langkah kaki yang berat terdengar samar di koridor lantai 10. Tak lama kemudian, dari celah kolong pintu unit 1012, selembar brosur meluncur masuk ke dalam kamar, tergeletak tepat di atas lantai kayu unit Arion.
Arion melangkah mendekat. Ia memungut kertas itu, sebuah selebaran lowongan kerja untuk Pemadam Kebakaran Kota Nusa.
"Siva?, apakah kau memintaku untuk bekerja?" gumam Arion pelan.
"Baiklah, mari kita uji catatan Siva"
Nada suaranya penuh dengan ejekan bagi dirinya sendiri. Ia tahu ini bukan kebetulan, ini adalah skenario picisan yang dirancang untuk memaksanya masuk ke dalam sistem yang telah di buat oleh alam baka untuknya.
Arion mulai melangkah menuju lemari satu-satunya. Isinya cukup mengenaskan, hanya beberapa helai pakaian yang ia bawa dari Desa Duhwa. Di antara tumpukan pakaian itu, ia akhirnya menemukan sebuah kemeja putih dan celana bahan hitam. Tanpa banyak bicara, Arion melepas pakaian santainya, lalu mengenakan setelan formal tersebut.
Sambil berjalan santai menuju pintu keluar unit, Arion mulai memasang kancing kemejanya satu per satu. Ia melangkah keluar dari unit Rusunnya, lalu menuju ke arah lift, menekan tombol. Begitu pintu lift itu terbuka, Arion melangkah masuk. Di dalam ruang sempit itu, ia mengancingkan kerah terakhirnya dan merapikan lengan baju. Suasana benar-benar sepi. Tepat saat pintu lift tertutup rapat dan angka di panel menunjukkan lift sedang bergerak turun, Arion memejamkan mata.