Pagi itu, kantor NETRANS sudah mulai sibuk. Amira melangkah masuk ke ruangan kerjanya sambil membawa botol minum kesayangannya. Baru saja ia menginjakkan kaki ke dalam ruangannya, sapaan-sapaan ringan mulai terdengar.
"Good Morning, Nona Amira Lusiana Padma!" seru Hana sambil tersenyum lebar dari kursinya yang bersebelahan dengan meja Amira.
Amira berjalan santai, meletakkan botol minumnya, lalu menarik napas dalam sebelum menatap Hana.
"Morning, Nona Hana Sarah Wudiyono Kusuma Jeger Darius!" ucap Amira dalam satu tarikan napas.
Hana terbahak mendengar sahabatnya itu berhasil merapalkan nama panjangnya tanpa kesalahan sedikit pun. "Hapal banget, ya!" seru Hana.
"Aku sih kasihan sama calon suamimu yang nanti harus menyebutkan nama lengkapmu saat prosesi janji suci pernikahan. Pasti bakal kehabisan napas," canda Amira.
Hana tertawa semakin keras. "Aman aja, nanti pas momen itu, aku bakal sedia tabung oksigen cadangan di sampingnya" sahut Hana di sela tawanya.
Tawa mereka pecah, namun segera terhenti ketika seorang rekan pria melintas cepat sambil berseru "10 menit lagi meeting, ya!" setelah itu pria itu pergi lagi.
Sontak seluruh karyawan menjawab serempak, "Iya!"
"Meeting terus, tapi cuma rencana doang," gumam Hana dengan nada malas.
"Iya, ide numpuk doang. Nggak ada yang dieksekusi" timpal Amira.
Perbincangan mereka buyar ketika pintu ruangan terbuka dan Karin masuk. Seisi ruangan seketika hening, mata semua orang tertuju padanya. Karin datang dengan dedikasi tingkat tinggi terhadap Revan Valdy. Ia mengenakan bando dengan karakter wajah Revan, memeluk bantal kecil bergambar wajah Revan, dan menyampirkan selimut kecil dengan motif yang juga menggunakan wajah Revan Valdy.
"Hai, Guys! Good morning!" seru Karin dengan ceria, tidak memedulikan tatapan heran rekan-rekannya.
Amira dan Hana kompak menepuk jidat mereka sendiri. Karin berjalan melewati mereka menuju mejanya yang tepat berada di depan Amira.
"Morning, Mira," sapa Karin sambil memamerkan bantalnya.
Amira sampai tidak bisa berkata-kata. "Astaga, Rin... kamu... itu...?"
"Apa, Mir? Ini namanya biar ada penyemangat kerja! Lihat nih, ganteng banget, sumpah!" ucap Karin penuh kekaguman.
"Uh, kok bisa ya ada manusia setampan dan sesempurna ini di bumi?!" sambung Karin sambil memandangi bantal dengan wajah Revan.
"Udah kena ni orang" gumam Hana meledek Karin dengan suara rendah.
Amira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menahan senyum melihat tingkah rekan kerjanya yang luar biasa fanatik itu.