Malam telah sepenuhnya mengambil alih Kota Nusa, menyelimuti gedung-gedung tinggi dengan keremangan yang dingin. Lift di lantai 10 berdentang nyaring.
Ting
Pintu terbuka perlahan, membiarkan Arion melangkah keluar ke koridor yang sepi. Langkah kakinya bergema di sepanjang koridor lantai 10. Baru beberapa langkah ia berjalan, langkahnya terhenti. Di depan unit sebelahnya, Nenek Tami berdiri dengan senyum hangat ke arah Arion.
"Eh, Nak Ganteng, baru pulang?" sapa Nenek Tami ramah.
Arion sedikit menundukkan kepala, berusaha menampilkan sikap yang sopan meski pikirannya masih kacau. "Iya, Nek."
"Ini, kebetulan tadi Nenek buat bolu ketan. Ini buat kamu" ujar Nenek Tami sambil menyodorkan sebuah wadah kecil dengan aroma manis.
Arion tertegun sejenak sebelum mengambil wadah itu dengan kedua tangannya.
"Aaa... terima kasih, Nek."
"Ya sudah, kamu pasti capek. Nanti habis mandi dimakan, ya" ucap Nenek Tami lagi sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam unitnya.
Arion hanya mengangguk pelan sebagai respons, lalu melanjutkan langkah menuju unitnya sendiri. Setelah pintu tertutup rapat, ia meletakkan bolu pemberian Nenek Tami di atas kulkas. Setelah itu, ia segera bergegas menuju kamar mandi, ingin membasuh diri dari debu dan sisa-sisa hari yang melelahkan.
Di dalam kamar mandi, Arion berdiri di bawah kucuran air shower. Namun, bukannya merasa tenang, setiap tetes air yang menyentuh kepalanya justru terasa seperti memicu serangkaian memori yang tidak diundang.
Wajah Amira kembali muncul di benaknya, kali ini dengan detail yang jauh lebih tajam. Arion memejamkan mata, namun adegan-adegan dari pertemuan singkat mereka seolah diputar berulang-ulang seperti film di balik kelopak matanya.
Setiap gerakan tangan Amira, cara gadis itu berbicara, bahkan cara rambutnya tergerai, kini tersimpan mati di dalam ingatannya. Arion terdiam cukup lama di bawah air yang terus mengalir, membiarkan tubuhnya membeku. Ia tidak lagi bisa membedakan apakah ini adalah sisa-sisa kemanusiaan yang mulai tumbuh, atau sebuah tanda bahwa takdir sedang mempermainkan ingatannya dengan cara yang paling kejam.
***
Di Ruang Samatha, Zakra tengah duduk di kursinya, ia tengah sibuk menginterogasi sepasang jiwa manusia yang baru saja meninggal dunia. Suaranya dingin dan mengintimidasi, membuat kedua roh itu gemetar ketakutan. Namun, tiba-tiba, rutinitas itu terputus oleh suara ketukan dari arah luar pintu Samatha.
Zakra menghentikan ucapannya, alisnya terangkat. Biasanya, jiwa-jiwa yang baru tiba akan langsung masuk ke Samatha dan tidak perlu mengetuk pintu. Dengan rasa curiga yang memuncak, Zakra berdiri dari kursinya dan membuka pintu itu. Zakra cukup tertegun saat mendapati di hadapannya ada Arion berdiri dengan santai, sambil memegang sebuah piring berisi bolu ketan buatan Nenek Tami.
Tanpa memedulikan tatapan tajam Zakra, Arion melenggang masuk begitu saja, melewati Zakra seolah-olah ia sedang memasuki ruang tamu temannya sendiri. Sepasang jiwa manusia yang sedang diinterogasi itu menatap Arion dengan mulut ternganga, bingung melihat sosok yang begitu hidup di antara orang-orang yang sudah mati.
"Apa yang kau lakukan?! Kau tidak tahu aku sedang bekerja?" bentak Zakra.