Waktu di Kota Nusa seolah berputar jauh lebih cepat dari yang Arion bayangkan. Tiga minggu telah berlalu sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di kantor Damkar dengan tangan kosong. Kini, seragam biru tua itu bukan lagi sekadar kain asing bagi Arion. Kini, seragam itu telah menjadi kulit keduanya, berbau asap, peluh, dan residu sisa kebakaran yang tak pernah benar-benar hilang dari serat kainnya.
Kehidupan Arion yang semula hampa kini memiliki ritme yang baru. Suara sirine yang dulu terdengar seperti kebisingan yang mengganggu, kini menjadi alarm insting yang memaksanya bergerak sebelum otaknya sempat berpikir. Ia tidak lagi menjadi orang asing di basecamp. Kini ia adalah bagian dari mesin eksekusi yang dibutuhkan Pak Nuril.
Suara alarm yang memekakkan telinga merobek kesunyian basecamp. Arion dan timnya bergerak dengan insting yang terasah, meluncur turun dari tiang besi sebelum berhambur menuju armada mobil oranye yang perkasa. Sore itu, Kota Nusa mendadak panas oleh kobaran api yang melahap sebuah hunian.
Di jalanan, sirine meraung-raung, membelah kemacetan sore. Kendaraan-kendaraan menepi, memberikan jalan bagi mobil pemadam yang melaju bak predator mengejar mangsanya. Di dalam kabin, Ardo terus berkomunikasi via HT, melaporkan situasi yang memburuk di lapangan.
Begitu tiba, pemandangan di depan mereka seperti sebuah neraka kecil. Kobaran api berwarna jingga terang melahap rumah itu tanpa ampun. Arion dan timnya segera bergerak dengan koordinasi yang solid. Ada yang mengamankan warga sekitar untuk menjauh dari lokasi kebakaran, sementara Arion dan yang lainnya menarik pipa-pipa air dengan tenaga penuh.
Bagi Arion, api bukanlah hal asing. Pengalamannya di Kalantaka membuatnya seolah menyatu dengan panasnya api. Ia menggerakkan nosel air dengan kemahiran, membelah kobaran api dengan tekanan air yang presisi.
Namun, fokusnya terganggu saat suara Ardo terdengar melengking di balik alat komunikasi.
"Ada satu anak kecil di dalam! Struktur bangunannya sudah mau runtuh, aku nggak bisa masuk!"
Arion menoleh ke arah Ardo. Di belakang Ardo, seorang wanita terduduk lemas di atas tanah, wajah dan tangannya melepuh terkena jilatan api. Wanita itu meronta-ronta, mengabaikan rasa sakitnya sendiri demi berteriak histeris.
"Anak saya, Pak! Usianya 10 tahun, tolong anak saya!"
Tiba-tiba, dunia Arion seolah berhenti berputar. Tanpa sepatah kata pun, Arion menjatuhkan selang airnya dan berlari menerobos masuk ke dalam rumah yang terbakar itu.
"Arion! Jangan masuk! Atapnya mau ambruk!" teriak Ardo panik, namun langkah Arion sudah tidak terhentikan.
Di dalam, suasana begitu menyesakkan hingga membuat dada terasa seperti terbakar. Api menjilat-jilat di setiap sudut, mengubah kayu dan perabotan menjadi arang dalam hitungan detik. Arion merayap di antara reruntuhan yang membara, matanya liar menembus pekatnya asap hitam.
Tiba-tiba, sebuah suara rintihan tertahan terdengar dari sudut ruangan. Arion segera menuju ke sumber suara itu, menembus pintu yang sudah hangus. Di bawah sebuah meja kayu yang posisinya tersudut, ia menemukan seorang gadis kecil yang gemetar hebat, mendekap erat sebuah boneka lusuh yang mulai gosong.