Di dalam taksi online yang membelah kemacetan malam Kota Nusa, Amira duduk dengan gelisah. Ia sesekali mengecek bayangannya di kaca jendela, memastikan penampilannya sempurna untuk pertemuan yang sudah ia tunggu-tunggu. Rasa rindu yang selama ini tertahan seolah menemukan salurannya. Ia membayangkan bisa melepas penat di apartemen Revan dan menikmati waktu berdua yang sudah sangat jarang mereka miliki.
Namun, denting ponsel di pangkuannya memecah lamunan itu. Senyum di bibirnya perlahan memudar saat ia membaca pesan singkat yang baru saja masuk.
Revan: "Sayang, jangan ke sini ya. Ada produser dari Media Impact yang nawarin film baru."
Revan: "Maaf banget, aku tadi lupa buka chat Tohir, ternyata hari ini aku ada schedule. Maaf ya sayang. Nanti kalau selesai cepat, aku ke rumah kamu."
Amira terdiam. Cahaya neon dari lampu jalan yang menembus kaca mobil tampak menari-nari di wajahnya yang kini kehilangan cahaya bahagia. Ia menarik napas panjang, berusaha menelan kekecewaan yang tiba-tiba menyesakkan dada. Ia tahu risiko mencintai seseorang yang sedang berada di puncak popularitas, tapi tetap saja rasanya menyakitkan ketika ia harus menjadi prioritas kesekian setelah pekerjaan.
"Pak, kita putar arah ke Jl. Sudirman saja. Saya tidak jadi ke Nusa Prestige." ujar Amira kepada supir taksi itu.
"Oh, siap, Neng," sahut sang supir sopan.
Di persimpangan lampu merah, mobil itu memutar arah. Amira menyandarkan kepalanya ke kursi, lalu dengan ragu membuka aplikasi Instagram. Jemarinya menelusuri profil Revan Valdy. Dalam waktu kurang dari sebulan, feed pria itu telah berubah drastis. Jika dulu fotonya sangat personal, kini didominasi oleh kerja sama dengan brand-brand raksasa.
Amira melihat foto-foto itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga yang meletup-letup di dadanya melihat kesuksesan sang kekasih, namun di saat yang sama, ada lubang hampa yang kian menganga.
***
Sementara itu, di sisi barat Kota Nusa, langkah kaki Arion membawanya membelah malam menuju kompleks pemakaman tua. Di hadapan batu nisan besar bertuliskan Elarka, dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi amarah yang membakar serta rasa bersalah yang belum menemukan muara. Tanpa ragu, ia merobek realitas dan menerjang masuk ke dalam dimensi alam baka.
Pintu kayu di ketuk dengan kasar dan Zakra membukanya. Di dalam ruangan tersebut, Arion melihat gadis kecil korban kebakaran tadi. Dengan sigap, Arion melangkah lebar, menghampiri anak itu tanpa memedulikan tatapan Zakra.
"Paman Pemadam?" sapa anak kecil itu pelan, menatap Arion dengan mata yang polos.
Tanpa membuang waktu, Arion langsung meraih dan menggenggam lembut gadis kecil itu, berniat menariknya pergi dari tempat terkutuk ini.