The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #14

Benang Merah

Seminggu kemudian,

Suasana kantor NETRANS yang tenang mendadak kacau. Pagi baru saja beranjak, namun jeritan melengking dari arah toilet wanita divisi kreatif sukses membuat seluruh ruangan gempar. Seorang staf wanita berlari keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi, napasnya tersengal.

"Ada ular! Ada ular di dalam! Cepat panggil damkar!" teriaknya histeris.

Tak butuh waktu lama, tim Damkar Kota Nusa tiba di lokasi. Gedung perkantoran yang biasanya steril itu kini disesaki oleh petugas berseragam biru tua. Dua orang petugas dengan peralatan lengkap segera menuju lokasi kejadian, salah satunya adalah Arion. Tak sampai beberapa menit, ular berukuran cukup besar yang tadi membuat heboh berhasil diamankan dengan peralatan tangkap Arion dan rekannya.

Amira, yang sedari tadi duduk di meja kerjanya, awalnya tidak terlalu peduli dengan keramaian di depan pintu toilet. Namun, rasa penasarannya terusik saat ia melihat petugas yang tadi masuk kini keluar dengan melepas masker penutup wajahnya. Pandangan Amira terhenti, matanya menyipit, lalu membelalak. Ia mengenali wajah pria itu. Pria yang sama yang pernah ia temui.

Amira beranjak dari kursinya, berjalan mendekati kerumunan staf yang mulai membubarkan diri. Arion berjalan dengan langkah mantap menuju lift, namun langkahnya terhenti saat sebuah suara lembut memanggil namanya.

"Arion?"

Langkah Arion yang kaku pun terhenti. Ia menoleh pelan, saat tatapan mereka bertemu, sensasi aneh kembali menyerang saraf di matanya. Rasa perih yang familiar muncul seketika, memaksa Arion untuk menundukkan kepala dalam-dalam.

Amira melangkah mendekat, seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kamu damkar? Keren banget" ucap Amira tulus.

Arion masih mematung dengan pandangan tertuju pada lantai. "Iya, terima kasih," jawabnya dingin.

Amira menyadari gelagat aneh itu. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kenapa nunduk?"

"Bukan apa-apa," jawab Arion singkat.

"Kamu nggak mau lihat aku, ya? Atau... apa wajah aku mirip mantan kamu?" tanya Amira mencoba mencairkan suasana dengan sedikit candaan.

Arion tersentak. Ia langsung menegakkan kepalanya, matanya menatap Amira dengan tatapan tegas dan tajam. "Tidak, bukan begitu."

Detik itu, waktu seolah melambat. Arion terdiam. Di balik tatapan datar Amira, ia justru menemukan sesuatu yang membuat pertahanannya runtuh. Tanpa ia sadari, satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya, mengalir begitu saja melewati pipinya.

Amira terpaku. Ia menatap Arion dengan ekspresi datar namun sarat akan kebingungan. 

"Kenapa kamu selalu nangis setiap kali ngeliat aku?"

Arion seolah terbangun dari mimpi buruk. Ia segera memalingkan wajah, merasa terpojok oleh emosi yang tidak bisa ia jelaskan. 

"Saya... saya tidak tahu. Permisi."

Dengan langkah terburu-buru, Arion berbalik meninggalkan Amira, tangannya dengan kasar mengusap air mata yang masih tersisa. Ia meninggalkan Amira yang berdiri mematung di koridor kantor, memandangi punggung Arion dengan seribu tanda tanya yang mulai tumbuh di benaknya.

Lihat selengkapnya