The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #16

Syuting

Suasana basecamp Damkar pagi itu cukup tenang hingga Pak Nuril melangkah masuk ke ruangan dengan ponsel di tangannya. Ia mengedarkan pandangan, lalu berhenti tepat di depan Arion yang sedang memoles perlengkapan di sudut ruangan.

"Kita dapat tugas tambahan, di lokasi syuting" ucap Pak Nuril tegas.

Arion mendongak, sedikit mengerutkan dahi. "Lokasi syutingnya kebakaran, Dan?"

Pertanyaan polos itu memancing tawa dari rekan-rekan yang lain di dalam ruangan. Ardo, yang sedang membereskan peralatan komunikasinya, langsung menepuk bahu Arion sambil tertawa.

"Bukan dong, Arion!" ujar Ardo.

Pak Nuril tersenyum tipis. "Bukan. Lokasi syutingnya butuh hujan buatan untuk adegan film. Bawa mobil yang kecil saja, cukup dua orang yang berangkat."

Arion tampak berpikir sejenak, sementara Ardo langsung sigap berdiri. "Siap, Dan. Mohon ijin, saya dengan Arion yang berangkat. Biar dia tahu cara kerja pemadam kalau lagi bantu produksi film" usul Ardo.

"Ya sudah, kalau begitu berangkat ke Jl.Ninja Hatory sekarang" perintah Pak Nuril.

Saat Ardo hendak berbalik, Pak Nuril menambahkan dengan nada yang lebih santai, "Oh iya, Ardo, sekalian ya. Tolong mintakan video ucapan semangat ujian dari Revan Valdy untuk anak saya. Katanya dia yang lagi syuting di sana."

"Siap, Dan! Pasti saya usahakan," jawab Ardo dengan semangat.

Arion hanya diam. Ia mengikuti langkah Ardo menuju garasi, di mana mobil pemadam berukuran kecil sudah menunggu. Di sepanjang jalan menuju Jl Ninja Hatory, Arion hanya bisa menatap jalanan dengan tatapan kosong.

Di jalan, Ardo masih fokus memperhatikan jalanan kota yang cukup padat, namun rasa penasaran terhadap rekan barunya itu agaknya sulit untuk dibendung. Ia melirik Arion yang sejak tadi hanya diam menatap lurus ke jalan.

"Arion, saya mau tanya," ujar Ardo sambil memutar kemudi.

"Kamu nggak punya ponsel?"

Arion tertegun sejenak sebelum menjawab, "Tidak, Bang."

"Kok bisa? Sama sekali nggak pernah punya?" tanya Ardo lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih penasaran.

Arion menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela mobil. "Tidak punya. Dulu saya tinggal sendiri dari kecil. Keluarga sudah tidak ada, teman pun tidak punya. Saya mau menghubungi siapa?"

Ardo terdiam sejenak. Nada bicara Arion yang datar justru membuat hatinya tersentuh. Ia merasa bersalah telah mengorek masa lalu pria itu. "Sedih sekali nasibmu, ya," gumam Ardo pelan.

"Dengar, hari ini kan gaji cair. Bagaimana kalau kita beli ponsel pulang dari lokasi syuting nanti?"

"Sekarang kan kamu sudah kerja," lanjut Ardo.

"Semua informasi dijalankan secara teknologi. Kamu harus memiliki ponsel, setidaknya hanya untuk berkomunikasi dengan tim kalau ada panggilan darurat."

Arion hanya mengangguk pelan, menyadari bahwa apa yang dikatakan Ardo memang masuk akal.

Lihat selengkapnya