The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #17

Maaf?

Sesuai yang di katakan Ardo. Arion singgah ke sebuah Mal di kota untuk membeli benda yang selama ini diharamkan baginya, yaitu sebuah ponsel pintar. Begitu mereka masuk ke dalam gerai gawai yang terang benderang, seorang sales promotion girl (SPG) langsung menyambut mereka dengan senyuman ramah.

"Halo, selamat siang, mau cari ponsel yang seperti apa?" tanya SPG itu sopan.

Ardo menyenggol lengan Arion pelan, memberi kode agar pemuda itu mulai memilih. 

"Eee.. yang..."

Belum sempat Arion merinci kriteria ponsel yang ia inginkan, pandangannya tidak sengaja menangkap layar televisi besar yang tergantung di dinding toko. Di sana, wajah seorang figur publik terpampang jelas sedang mempromosikan sebuah merek ponsel keluaran terbaru. Arion mengangkat jarinya dan menunjuk layar tersebut.

"Yang pria itu pakai" ucap Arion datar.

SPG dan Ardo sontak menoleh bersamaan ke arah layar iklan yang menampilkan Revan Valdy tengah memegang sebuah smartphone merek Oddo.

Sang SPG tersenyum lebar. "Oh, baik. Silakan duduk, Mas, saya ambilkan dulu ya."

Saat sang SPG berbalik untuk mengambil barang di etalase belakang, Ardo melirik Arion dengan seringai.

"Marketing Revan mempan juga ya di kamu."

Arion melirik sekilas tanpa ekspresi. "Tidak, saya hanya tidak tahu mau membeli merek apa."

Ardo terkakak pelan. "Hahaha, oh iya, tadi sudah sempat ambil uang di ATM kan?"

"Iya, sudah, Bang."

"Nanti setelah ini, kita beli sekalian kartunya, daftarkan paket internet, dan saya ajarkan cara pakainya."

Arion hanya mengangguk tenang.

Tidak lama kemudian, SPG itu kembali sambil membawakan ponsel ke hadapan Arion. disana, proses transaksi berjalan cepat hingga ponsel pertamanya resmi berada di dalam genggaman Arion.

***

Langit sore mulai membentang dengan gradasi jingga dan keunguan di ufuk barat, menyisakan hawa sejuk yang menyapu halaman Rusun Nusaindah. Arion baru saja tiba di gedung tersebut setelah merampungkan pekerjaannya. Dengan langkah tenang, ia berjalan menuju area lift dan berdiri tepat di samping seorang wanita yang juga tengah menunggu.

Tidak lama berselang, denting pelan berbunyi menandakan kabin lift telah tiba. Pintu besi terbuka, dan mereka berdua masuk secara bersamaan ke dalam ruang sempit tersebut. Wanita di sebelah Arion melirik sekilas, mengamati postur tegap pemuda itu sebelum matanya menyipit mengenali wajah di balik ekspresi datarnya.

"Eh, Mas-mas damkar yang waktu itu kan?" tanya Hana, yang baru saja selesai mengantar Amira pulang dan hendak kembali ke unitnya.

Arion terdiam sejenak, mencerna ucapan wanita di hadapannya.

"Yang ngambil ular di NETRANS" sambung Hana lagi memperjelas.

"Oh, iya, itu saya" ucap Arion tenang.

Lihat selengkapnya