Hari pun berganti menjadi pagi. Sinar matahari merangsek masuk melalui celah jendela, menyapa Arion yang masih terlelap di atas kasurnya. Belum sempat ia menikmati hari liburnya dengan tenang, sebuah ketukan pintu yang terus menerus terdengar mulai mengusik pendengarannya.
"Arghh... siapa yang mengganggu liburku?" gumam Arion kesal, mengusap wajahnya kasar dengan sebelah tangan.
Dengan langkah gontai dan wajah setengah mengantuk, ia menyeret kakinya membukakan pintu. Namun, ekspresi jengkel di wajahnya seketika melunak saat melihat sesosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu, Nenek Tami.
"Nak, Arion. Ini Nenek bawain bolu pisang buat Nak Arion dan teman-teman kerjanya." ujar Nenek Tami penuh antusias.
Arion mengerjap, berusaha mengumpulkan nyawanya. "Tapi, Nek... saya hari ini libur" ucapnya.
Wajah Nenek Tami seketika berubah murung, binar di matanya meredup. "Waduh, maaf, Nak Ganteng. Nenek tidak tahu. Kalau begitu, besok Nenek buatkan lagi ya untuk kamu bagi-bagikan ke teman-teman kerja"
Melihat raut kecewa di wajah renta itu, ada sesuatu yang bergeser dalam diri Arion, sifat keras dan dinginnya mendadak luluh oleh ketulusan seorang nenek. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengulurkan tangan dan mengambil kotak bolu yang cukup besar itu dari genggaman Nenek Tami.
"Gak apa-apa, Nek. Nanti saya ke kantor sebentar buat mampir, kasih ini ke teman-teman Damkar" ujar Arion dengan nada lembut.
Wajah Nenek Tami kembali cerah, senyum bahagianya mengembang lebar melihat respon tersebut.
"Kalau begitu, Nenek permisi dulu ya" pamit Nenek Tami dengan hati yang senang.
Arion menghela napas panjang melihat kotak bolu pisang yang kini berada di genggamannya, lalu perlahan menutup pintu unitnya rapat-rapat. Setelahnya, ia melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dari sisa kantuk, berganti pakaian yang lebih pantas untuk keluar rumah, dan bersiap menepati janji kecilnya pada Nenek Tami.
Arion kini sudah berdiri rapi dengan pakaian kasualnya. Di tangan kanannya, ia memegang kotak besar berisi bolu pisang pemberian Nenek Tami. Begitu melangkah masuk ke dalam lift rusun yang sepi, ia memejamkan mata sejenak dan memusatkan konsentrasi. Dalam hitungan detik, udara di sekitarnya berdesir pelan, dan wujudnya memudar tanpa meninggalkan jejak.
Tidak butuh waktu lama, perpindahan itu membawanya langsung ke dalam kamar mandi umum sebuah SPBU yang terletak tidak jauh dari kantor pemadam kebakaran.
Arion keluar dari kamar mandi dengan membawa kotak makanan tersebut, berjalan santai menuju basecamp Damkar. Sesampainya di sana, ia mendapati suasana yang cukup sepi. Ia meletakkan kotak bolu pisang itu di atas meja tengah.
"Bang, ada bolu dari tetangga saya. Saya taruh sini ya" ucap Arion.
"Ohiya, minta satu." Tanpa menunggu jawaban panjang, ia langsung mengambil satu potong kue tersebut.