Suasana kelam menyelimuti langkah Arion yang baru saja menginjakkan kaki di kedalaman alam baka, usai menuntaskan urusannya dengan Pak Nuril. Tanpa membuang waktu, ia membawa langkahnya menuju Ruang Samatha dan mengetuk pintu di hdapannya.
Tidak butuh waktu lama, pintu itu berderit terbuka, menampilkan Zakra yang langsung menyambutnya dengan sorot mata penuh desakan.
"Syukurlah kau datang, tanda merah itu muncul lagi," ujar Zakra, langsung menghujam inti permasalahan tanpa basa-basi.
Di sana , juga ada Siva berdiri tegak di dekat meja.
"Aku melihatnya," ucap Arion dingin.
"Kau bertemu dengannya?" selidik Siva cepat.
"Kau lihat wajahnya?" timpal Zakra tak kalah sigap.
"Tidak. Ia mengenakan topeng dan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya," ungkap Arion.
"Aku sempat mengikutinya hingga ke tengah Balai Kota, namun kehilangan jejaknya begitu saja."
Arion terdiam sejenak, maniknya menyipit tajam, "Namun, aku mencurigai satu orang. Saat berada di dekatnya, aku merasakan aura negatif. Bolehkah aku langsung menghabisinya sekarang?"
Zakra langsung menggeleng tegas. "Jangan bertindak sembarangan, Arion."
"Saat ia berwujud manusia, kau tidak boleh melukainya begitu saja," ujar Zakra memperingatkan.
"Dan kau juga tidak tahu seberapa besar kekuatan yang bersemayam di dalam dirinya saat ini. Kau tidak bisa menyentuhnya secara langsung." sambung Zakra.
"Tidak mungkin tidak bisa disentuh. Pasti ada sesuatu yang benar-benar bisa menembus pertahanannya dan melukainya."
"Ada, namun..." sela Siva menggantung.
"Pedang itu berada di luar batas kendali kami, bahkan di luar kuasa Walsta," lanjut Siva
"Tidak ada satu pun petinggi di alam baka yang memiliki kuasa untuk mengambil atau memegang kendali atas pedang tersebut."
Sorot mata Arion berkilat tajam, tantangan terpancar jelas dari seringai tipis di bibirnya. "Kalau begitu, biar aku yang mengambilnya. Bisa?"
Siva terdiam, menghentikan napasnya sejenak, lalu melirik penuh arti ke arah Zakra.
"Pedang Kalaleak memang bisa dipegang oleh manusia," ucap Zakra perlahan, menimbang risiko besar di balik kalimatnya.
"Namun, untuk mendapatkannya, kau harus kembali ke Kalantaka dan melewati ujian kelayakan yang dieksekusi langsung oleh entitas seperti Kruda."