The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #20

Siksaan Kalantaka (1)

Gelap yang mencekam perlahan buyar, digantikan oleh hamparan terasa asing namun begitu nyata. Arion mendapati dirinya berdiri di sebuah era kerajaan kuno, di mana jalanan dipenuhi debu dan rumah-rumah berarsitektur bambu.

Tidak jauh di depannya, ia melihat seorang anak kecil berlari kencang sambil tertawa renyah, memegang pecut kecil di tangannya dan terus mencambuk seekor anak domba yang ketakutan. Didorong oleh rasa kemanusiaannya, Arion melangkah maju, berniat menghentikan tindakan kejam itu.

"Hei, hentikan! Jangan menyakiti hewan itu" tegur Arion tegas.

Namun, anak kecil itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia terus berlari dan mengayunkan pecutnya seolah Arion tidak pernah ada di sana. Arion tertegun menyadari bahwa dirinya tidak lebih dari bayangan tak kasat mata di tempat ini.

Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya pemilik domba keluar dari rumahnya. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati anak dombanya terkapar tak bernyawa akibat cambukan bertubi-tubi.

"Jangan menyakiti anak dombaku" ujar pria paruh baya itu dengan suara bergetar, ia langsung melangkah menghampiri bangkai dombanya.

Di sisi lain, Arion melihat anak kecil tadi berlari sambil menangis histeris, menghampiri seorang wanita bergaun mewah dan membisikkan sesuatu di telinganya. Tak butuh waktu lama, wanita bangsawan itu melangkah penuh amarah menuju tempat pria paruh baya tadi berdiri.

"Berani sekali kau membentak Pangeran Adhiwarma!" desis sang Ratu tajam, menatap sang rakyat jelata dengan sorot mata merendahkan.

"Ampun, Ratu, hamba tidak melakukannya! Sumpah demi langit, hamba tidak..." pria itu membela diri dengan panik.

"Cukup! Tidak sepantasnya kau meninggikan suara kepada seorang pangeran, apalagi demi membela hewan kotor!" bentak sang Ratu memotong.

"Sebagai hukuman atas lancangnya mulutmu, semua dombamu akan disita oleh istana, dan mulutmu akan dijahit karena berani membentak darah biru!"

Arion hanya berdiri mematung, menyaksikan ketidakadilan mutlak itu terpampang nyata di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Seketika, pemandangan itu runtuh dan tersedot ke dalam pusaran hampa. Kesadaran Arion ditarik paksa kembali ke alam baka. Saat ia membuka mata, tubuhnya sudah dalam posisi terduduk kaku di atas sebuah kursi yang dingin. Kedua tangan dan kakinya terikat erat oleh rantai energi.

Di hadapannya, sosok Kruda berdiri menjulang sambil memegang sebuah jarum raksasa yang berpijar merah membara, dipadukan dengan seutas benang kasar yang tampak tersusun dari duri-duri tajam.

Lihat selengkapnya