The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #21

Siksaan Kalantaka (2)

Pusaran kegelapan kembali merenggut kesadaran Arion, membanting tubuhnya yang telah terkoyak-koyak ke atas tanah berdebu. Dibalut sehelai jubah hitam compang-camping dan dengan mulut yang masih terkunci rapat oleh jahitan benang duri, Arion mendapati dirinya berada di desa yang kini tampak begitu mati. Suasana di sana sangat sepi, rumah-rumah di sekitarnya tertutup rapat tanpa kehidupan.

Dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis, Arion berjalan tertatih, menyeret tubuhnya yang remuk dengan susah payah di atas tanah.

Tidak jauh dari tempatnya, sesosok pria berbusana megah namun kotor berjalan sempoyongan ke arahnya. Ituadalah Raja Adhiwarma—pria yang sama, yang begitu angkuh—, kini tampak hancur. Tangannya menyeret sebuah pedang berat yang ujung bilahnya bergesek mengeluarkan bunyi nyaring di atas batu jalanan. Mahkota di kepalanya terlepas begitu saja, jatuh menggelinding ke tanah tanpa ia pedulikan. Tatapannya kosong, dan ia berjalan lurus.

Langkah Adhiwarma terhenti. Untuk sesaat, raja yang telah kehilangan segalanya itu saling bertukar tatap dengan Arion yang berdiri bisu dalam balutan jubah hitamnya. Namun, Adhiwarma tetap tidak bisa melihat keberadaan Arion.

Tiba-tiba, Adhiwarma menjatuhkan lututnya ke tanah, melepas genggaman pedangnya hingga senjata itu bergemerincing jatuh ke hadapannya.

"Kalian boleh membunuhku dengan pedang ini," teriak Adhiwarma dengan suara parau yang meneggema kesetiap sudut desa.

"Keluar kalian semua! Bunuh aku! Siapa pun yang membunuhku akan kuberi tempat untuk tinggal di istana Arthamadia!" teriaknya memohon.

Seketika, desa yang tadinya mati. Satu per satu, penduduknya mulai keluar dari persembunyian mereka, merangsek maju dan membentuk lingkaran pengepungan di sekeliling raja mereka. Sorot mata mereka penuh luka dan kebencian yang mendalam terhadap Adhiwarma.

Adhiwarma mendongak, menatap satu persatu warganya. Matanya menangkap seorang pria yang berdiri di barisan depan.

"Bunuh aku, aku mohon. Bukankah aku sudah memotong satu tanganmu karena kau berani menunjukku?" ujar Adhiwarma pada pria tersebut, yang hanya memandangi lengan kanannya yang kini buntung.

Penguasa keji itu kemudian mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang melangkah mendekat dengan langkah gemetar.

"Bunuh aku. Bukankah aku juga yang sudah menghukum mati ayahmu di hadapanmu?"

 Adhiwarma menoleh ke sisi lain. "Dan kau... kau kehilangan saudara perempuanmu karena perintahku, kan? Bunuh aku sekarang!"

Suasana di antara kerumunan itu semakin menegang, namun tidak ada satu pun yang menyentuh pedang yang tergeletak itu. Hingga akhirnya, pria paruh baya yang kehilangan tangannya maju selangkah, menatap Adhiwarma yang tampak sudah hilang arah.

"Bukan tangan kami yang akan membunuhmu, Raja Adhiwarma. Sang Maha Kuasa yang akan memberikan rasa sakit seribu tahun atas semua dosa keji yang kau perbuat," ucap pria itu lantang.

"Kau akan menerima balasan dari setiap rasa sakit yang kami suarakan setiap malam. Karena Arthamadia, yang seharusnya dipimpin dengan bijak, telah kau rusak demi kesenanganmu sendiri."

Lihat selengkapnya