The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #22

Siksaan Kalantaka (3)

Namun, jantungnya mendadak berhenti berdetak saat melihat bayangan lain di belakang Amira. Raja Adhiwarma muncul dalam diam, sambil mengangkat pedang panjangnya tinggi-tinggi, mengarahkannya tepat ke leher Amira yang sama sekali tidak menyadari bahaya maut di belakangnya. Gadis itu masih mempertahankan senyum manisnya untuk Arion.

"Amira, pergi dari sana!" teriak Arion histeris.

Amira tidak mendengarnya, ia tetap tersenyum manis, menatap Arion dengan penuh kehangatan. Dihantam kepanikan luar biasa, Arion memaksakan diri melangkah lebih cepat di atas jembatan yang kian bergoyang liar.

"Hei... jangan berani medekatinya, Adhiwarma!" teriak Arion sekali lagi.

Nahas, di tengah langkahnya yang terburu-buru, kaki Arion salah berpijak. Tubuhnya terperosok jatuh ke bawah. Beruntung, instingnya bergerak cepat, kedua tangannya refleks mencengkeram erat tali jembatan dengan tenaga tersisa. Dengan sisa-sisa kekuatan dan tekad yang membara, Arion mengerahkan seluruh ototnya, merangkak naik dan kembali ke atas jembatan.

Di seberang sana, Adhiwarma telah mengayunkan pedangnya. Melihat hal itu, Arion yang baru saja bangkit langsung berlari kencang dan melompat menerjang ke arah Adhiwarma untuk menghentikannya. Tapi tubuhnya menembus bayangan Adhiwarma begitu saja layaknya angin.

Srettt!

Bilah pedang itu menebas leher Amira tanpa ampun, memisahkan kepala dari tubuhnya. Arion, yang baru saja melesat menembus wujud sang raja, menoleh ke belakang dan menyaksikan detik-detik mengerikan itu. Air mata penyesalan dan kepedihan tumpah deras, berpendar kontras di antara siluet merah lautan api Kalantaka.

Tubuh Amira yang tanpa kepala terkulai dan jatuh ke dalam jurang api. Sementara itu, Raja Adhiwarma perlahan menoleh ke belakang, menatap Arion dengan seringai kemenangan. Ia berjalan mendekat dengan langkah santai, lalu berhenti dan membungkuk rendah di hadapan Arion.

"Bagaimana?, kau masih mampu menjalani karmamu?" bisik Adhiwarma mengejek.

Napas Arion memburu hebat, dadanya naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak. Matanya yang tajam menyiratkan rasa muak, jijik, dan kebencian yang teramat sangat pada sosok di hadapannya.

Belum sempat Arion melayangkan pukulan, bayangan Adhiwarma melebur menjadi asap pekat dan melesat maju, menghantam dada Arion, lalu masuk merasuki tubuhnya secara utuh.

***

Kelopak mata Arion mengerjap berat. Penglihatan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit gerbong kereta yang dingin atau lautan api Kalantaka, melainkan ukiran kayu megah di atap sebuah kamar kerajaan yang mewah.

Ia terbangun dengan debaran jantung yang cikup kuat. Di sisi ranjang, sesosok wanita dengan sanggul rapi dan busana istana duduk menatapnya, menyunggingkan senyum yang begitu manis.

"Kakanda sudah bangun?" ucap wanita itu dengan nada lembut.

"Amira...?" ujar Arion tanpa sadar.

Mendengar nama itu, senyum di wajah sang wanita seketika lenyap, digantikan oleh kerutan masam dan bibir yang mengerucut cemberut.

"Siapa wanita itu? Apakah Kakanda memimpikan wanita lain?" protesnya ketus.

"Tidak, bukan begitu... aku..." Arion tergagap, kebingungan menghantam otaknya.

Lihat selengkapnya