Hari-hari berlalu, dan Kerajaan Arthamadia perlahan bernapas kembali. Arion, yang kini sepenuhnya terkurung dalam raga Raja Adhiwarma, mulai menikmati kedamaian yang ia ciptakan sendiri. Tanpa disadarinya, batas antara jiwa aslinya dan peran sang raja mulai tidak ada batas.
Kini kepemimpinannya tidak lagi dilandasi oleh rasa takut atau tangan besi, melainkan oleh ketulusan yang mendalam. Arion menghabiskan sebagian besar waktunya untuk turun langsung ke ladang-ladang, berdiri di bawah terik matahari bersama para petani, dan memastikan lumbung pangan setiap desa terisi penuh. Tidak ada lagi pungutan liar, tidak ada lagi jerit tangis kelaparan yang menggema. Sebagai gantinya, namanya dielu-elu setiap kali ia melintas di jalanan Arthamadia. Rakyat bersujud bukan karena terpaksa, melainkan karena rasa cinta dan hormat yang tulus kepada sang raja.
Di dalam istana, kehangatan itu juga menyelimuti hari-hari pribadinya. Nawa Arum selalu menyambutnya dengan senyuman manis setiap kali ia kembali dari penatnya urusan kerajaan, merawatnya dengan penuh cinta, dan menciptakan rasa memiliki yang begitu nyata.
Arion benar-benar tenggelam, merasa bahwa inilah hidupnya yang sesungguhnya. Seorang pemimpin bijaksana yang dicintai rakyatnya, memiliki pendamping hidup yang sempurna, dan mengukir kedamaian abadi di tanah Arthamadia. Rasa nyaman itu merasuk begitu dalam, membuatnya lupa bahwa ia hanyalah jiwa asing yang tengah menanggung beban kutukan seribu tahun.
Hingga pada suatu malam yang sunyi, keheningan itu pecah.
Arion terbangun dari tidurnya dengan tenggorokan yang terasa kering. Ia bangkit dari kasurnya dan meraih teko yang berada di sebuah meja di samping ranjangnya. Ia kemudian menuangkan air minum dari kendi untuk melepaskan dahaganya. Namun, saat tangannya meraih teko, pandangannya menangkap sebuah benda kecil di samping kendi itu, di situ ada sebuah kotak, dengan rasa penasaran Arion pun membukanya dan terlihat ada beberapa bolu ketan disana.
Waktu seakan berhenti,
Bayangan wajah Nenek Tami yang tersenyum keriput sambil menyodorkan makanan itu menghantam kesadarannya. Ingatan itu menyeruak deras tanpa bisa dicegah. Ada momen yang masuk saat ia membawa bolu ketan kepada Zakra dan Siva di alam baka, hingga suara-suara tawa dari rekannya di basecamp Damkar. Kepingan-kepingan jati dirinya yang asli kembali berhamburan, menghantam isi kepalanya bertubi-tubi dengan rasa sakit yang luar biasa.
Genggaman tangannya melemah.
Prang!
Teko air itu terlepas dari genggamannya, menghantam lantai dan pecah berkeping-keping, memercikkan air ke segala arah. Nawa Arum, yang tadi tidur di sampingnya, sontak terbangun karena suara pecahan tersebut. Dengan panik, ia bangkit dan merengkuh lengan suaminya.
"Kakanda...? Apakah Kakanda bermimpi buruk lagi?" tanya Arum cemas.
Arion menoleh perlahan. Tatapannya kosong, beradu dengan mata wanita di hadapannya yang penuh kekhawatiran.
"Mari tidur lagi," sambung Arum lembut sambil mengusap lengan suaminya.
"Kakanda harus bangun lebih awal untuk menyambut perayaan panen raya esok pagi."
Namun, Arion bergeming. Tubuhnya kaku, berjuang keras merangkai potongan memorinya yang hampir pudar ditelan ilusi manis istana.
"Kakanda..." panggil Arum sekali lagi, suaranya kini terdengar semakin lembut, sementara tangannya perlahan menyentuh dan menekan dada Arion.