The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #24

Fakta

Melihat musuhnya tak bersenjata, Adhiwarma langsung maju merangsek untuk melayangkan pukulan telak yang bisa melumpuhkannya. Malapetaka terjadi dalam sepersekian detik. Alih-alih menghindar, sang penyerang bergerak lebih cepat. Ia menyambar pedang milik Adhiwarma yang ada di meja, menariknya keluar dari sarungnya, dan dengan tenaga penuh menancapkannya lurus-lurus ke perut sang raja hingga mata bilahnya menembus punggungnya.

Gerakan Adhiwarma terhenti seketika. Matanya membelalak lebar, merasakan panas dan sakit yang luar biasa membakar sekujur tubuhnya. Di detik-detik terakhir kesadarannya, tangan Adhiwarma yang berlumuran darah terulur maju, menarik paksa kain penutup yang melilit wajah sang penyerang.

Kain itu terlepas. Di bawah cahaya kamar yang remang itu, terpampang jelas wajah seorang prajurit kepercayaan yang memimpin pasukan Arthamadia—pria yang selama ini berdiri di bawah komandonya.

"Hardua..." ujar Adhiwarma lirih, suaranya nyaris tak terdengar saat ia menatap lurus ke dalam mata sang pengkhianat.

Setelah kilas balik kelam itu memudar, siluet mata merah yang menjulang di dalam kegelapan perlahan menyusut, memadat, hingga wujud fisik Hardua berdiri nyata di hadapan Arion dengan mata yang menyala merah yang telah padam.

"Kembalikan pedangku. Pedang Kalaleak itu memang milikku," ujar Arion dingin.

"Pedang yang sudah menebas lebih dari seribu nyawa tak bersalah" lanjut Arion.

Hardua tidak melawan. Dengan langkah gontai yang berat, ia berjalan lurus mendekati Arion. Sepanjang langkahnya, tangan kosong Hardua mulai bergetar hebat, memunculkan sebuah pusaka terwujud di genggamannya—Pedang Kalaleak yang persis sama dengan senjata yang dulu ia gunakan untuk merenggut nyawa Adhiwarma 500 tahun lalu.

Begitu tiba di jarak yang pas, Hardua mengangkat kedua tangannya, mempersembahkan pedang itu kepada tuannya. Arion bergerak maju dan menyambut gagang Pedang Kalaleak tersebut.

Seketika Pedang Kalaleak berpindah tangan, Hardua terduduk lemas di atas tanah yang dingin.

"Aku dihukum menjadi penjaga pedangmu selama 500 tahun tanpa pernah mendapat pengadilan," ujar Hardua lirih, suaranya gemetar menahan siksaan abadi.

"Mereka bilang jika nanti seseorang yang pantas akan datang dan membebaskanku, agar aku dapat kesempatan bereinkarnasi."

Ia mendongak, air mata penyesalan mengalir di pipinya. "Aku memohon ampun kepadamu, Rajaku."

Arion menatap sosok yang dulu membunuhnya dalam tidur, kini bersimpuh memohon kematian demi sebuah penebusan. Perlahan, Arion menarik Pedang Kalaleak dari sarungnya, membiarkan pendar cahaya keunguan menyinari wajahnya. Tanpa ragu, ia mengayunkan bilah tersebut, menebas Hardua dengan satu gerakan cepat dan tegas sebagai bentuk pengabulan atas permohonan terakhir sang mantan prajurit.

Begitu tebasan itu mendarat, Hardua tidak menjerit. Tubuhnya langsung lenyap berkeping-keping, melebur menjadi siluet asap hitam yang perlahan terbang membubung ke atas.

"Terima kasih, Yang Mulia..." Suara samar Hardua terdengar semakin menjauh.

Arion juga mulai menghilang dan menjadi sebuah siluet yang menghantarnya ke ambang pintu gerbang Kalantaka.

Sementara itu, Zakra dan Siva tampak gelisah luar biasa. Mereka terus mondar-mandir mondar-mandir tanpa henti, cemas menunggu di depan pintu dimensi tempat Arion.

Tiba-tiba, pusaran energi bergejolak di hadapan mereka. Sebuah siluet yang awalnya transparan mulai memadat dengan cepat. Bentuk bayangan itu perlahan menyatu menjadi wujud fisik Arion yang berdiri tegak, dengan tangan kanannya menggenggam erat Pedang Kalaleak.

Lihat selengkapnya