The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #25

Kunjungan

Langkah kaki Arion dengan cepat menuruni anak tangga keluar dari Stasiun Kota Nusa. Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari sekencang-kencangnya membelah keramaian siang itu, menerobos angin dingin demi menuju kantor pemadam kebakaran.

Begitu ia mendorong pintu basecamp mereka, napasnya terengah-engah. Matanya menangkap rekan-rekan setimnya yang tengah berkumpul melingkar menoleh serentak, bola mata mereka membelalak kaget. Ardo, sang kepala regu yang duduk paling depan, langsung melepaskan sendok makannya ke atas meja hingga deritnya memecah keheningan.

"Kau dari mana saja?! Ponselmu sama sekali tidak bisa dihubungi!" sergah Ardo, bangkit berdiri dengan wajah tegang bercampur lega.

"Kau tahu, betapa khawatirnya kami semua? Satu minggu tidak ada kabar darimu, aku bahkan hampir setiap hari mendatangi rumah susunmu!" lanjut Ardo, suaranya meninggi menahan emosi yang meluap-luap.

"Maaf, Bang... saya..." ucapan Arion terhenti, ia sama sekali tidak tahu alasan apa yang masuk akal untuk menutupi perjalanannya menembus dimensi alam baka.

Ardo menghela napas panjang, "Sudahlah, alasannya tidak penting lagi. Yang penting sekarang kau baik-baik saja. Sini, duduk, kita makan."

Arion tersenyum tipis. Ia kemudian melangkah mendekat dan duduk bergabung bersama rekan-rekan yang lain. Suasana canggung langsung mencair berkat kehangatan khas antar sesama.

Tanpa diminta, salah seorang rekan menyobek selembar kertas minyaknya dan membentangkannya di depan Arion. Rekan di sebelah kanannya langsung memindahkan sebagian nasinya, sementara yang lain menyendokkan lauk pauk ke atas kertas tersebut. Ardo sendiri ikut membagikan sebagian lauknya ke Arion, dan seorang rekan yang lain beranjak mengambilkan segelas air putih dingin.

Arion menatap makanan yang kini menggunung penuh oleh kebaikan kecil dari orang-orang di sekitarnya. Di tengah keriuhan itu, batin Arion terhenyak. 

"Apakah di antara mereka dulu adalah salah satu rakyat yang pernah tidak ku beri keadilan?" batin Arion bergeming pilu.

"Betapa hinanya jiwa ini dulu. Setelah segala dosa dan kekejian masaku, mereka masih menghormatiku dan berbagi makanan mereka denganku."

"Ini adalah karma dalam bentuk emosional yang harus kujalani. Aku bahkan tampak begitu hina dan kecil di dunia ini sekarang," lanjutnya dalam hati.

"Arion?, ayo makan. Malah ngelamun," panggil salah satu rekannya sambil menepuk pundaknya pelan.

Seketika, Arion tersadar dari pusaran pikiran masa lalunya. Ia mendongak, mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum tulus.

***

Suasana di ruang tim kreatif di NETRANS tampak mulai senyap. Di meja kerjanya, Hana duduk terpaku menatap layar komputer yang menampilkan sebuah artikel berita online terbaru. Judul dan isi berita itu menyoroti serangkaian kasus bunuh diri misterius—beberapa orang mengakhiri hidup dari atas jembatan layang tanpa meninggalkan secarik surat wasiat, catatan utang, ataupun riwayat masalah keluarga yang jelas.

Hana membaca setiap baris kalimat dengan seksama, tenggelam dalam rasa penasarannya. Tanpa ia sadar, dari pantulan layar monitor yang gelap, sesosok bayangan berdiri tepat di belakangnya.

"Astaga, Mira! Tiba-tiba muncul kayak hantu aja" ucap Hana terperanjat, spontan memutar kursinya ke belakang.

Amira berdiri dengan tangan melipat di dadanya, menatap sahabatnya itu jengkel. "Ayo makan, malah masih kerja."

"Bukan kerja, Mira. Ini loh, baca berita ada yang bunuh diri dari jembatan layang. Katanya nggak ada surat terakhir, nggak ada catatan utang atau masalah keluarga. Kayak aneh banget, kan?" ujar Hana sambil menunjuk layar komputernya.

Lihat selengkapnya