Keesokan harinya, udara pagi di kantor pemadam kebakaran terasa jauh lebih berat dari biasanya. Arion baru saja melangkah keluar dari ruangan Pak Nuril dengan ekspresi wajah yang murung. Langkah kakinya gontai, menandakan kepahitan yang baru saja ia terima.
Ardo, yang sedari tadi menunggu di luar, langsung menghampirinya dengan cemas.
"Gimana, Arion?" tanya Ardo to the point.
Arion hanya menggelengkan kepala pelan, memberikan isyarat tanpa kata bahwa kabar buruklah yang ia bawa—akibat mangkir tanpa kabar selama satu minggu penuh, Pak Nuril resmi menjatuhkan keputusan untuk memecatnya.
Wajah Ardo langsung mengeras, menahan rasa kecewa yang mendalam untuk juniornya itu.
"Biar saya yang ngomong. Saya minta Komandan Nuril untuk mempertimbangkan lagi."
"Nggak usah, Bang. Terima kasih banyak untuk sejauh ini sudah mengajarkan saya banyak hal," ujar Arion tulus.
"Nanti saya pasti akan sering berkunjung."
Ardo terdiam, lalu dengan gerakan berat ia menepuk pundak Arion. Setelah berpamitan, Arion melangkah keluar dari area markas pemadam kebakaran untuk terakhir kalinya.
Arion pun kini menggunakan kemampuannya untuk menuju Taman Kota Nusa, lalu memilih duduk di salah satu kursi bangku taman, dan memesan secangkir kopi dan sedikit makanan untuk mengisi perutnya yang kosong.
Tidak menunggu waktu lama, pesanannya pun tiba. Arion langsung melahapnya. Namun, di tengah kunyahannya, matanya menangkap sesosok yang mencurigakan berdiri di balik rindangnya pepohonan taman—sesosok jubah hitam.
"Abra" pikir Arion dalam hati.
Tanpa menyia-nyiakan waktu dan amarah yang sudah diubun-ubun, Arion langsung berdiri dari kursinya. Ia berlari kencang menerobos jalur pejalan kaki, mengincar sosok berbalut jubah itu yang mulai berjalan menjauh.
Begitu berada di jarak yang pas, Arion melompat dan mencengkeram kuat lengan sosok tersebut, lalu memutar paksa tubuhnya agar menghadap ke arahnya. Sosok itu mengenakan penutup wajah dari kain hitam yang hanya menyisakan sepasang mata tajam yang memandang dingin. Tanpa basa-basi, Arion langsung menarik paksa kain penutup wajah itu ke bawah.
Saat kain itu terlepas, wajah yang terpampang di hadapannya membuat mata Arion membelalak lebar.
"Sudah kuduga, memang kaulah iblis itu" desis Arion penuh geram.
Revan Valdy, kini berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan heran.
"Lagi-lagi kau!" ujar Revan dengan geram.
Belum sempat Arion melayangkan pukulan, sebuah suara toa yang memekakkan telinga mendadak menggema memecah suasana taman.