The Sin Of Kalantaka

Ann Aizawa
Chapter #28

Rusun

Amira berjalan cepat dengan langkah tergesa menyusuri koridor, napasnya memburu tak beraturan. Setibanya di depan unit milik Hana, ia langsung mengetuk pintu dengan tidak sabar

tok, tok, tok 

Tidak butuh waktu lama, pintu bergeser terbuka, menampakkan Hana yang mengerutkan kening heran.

"Astaga, Mira... sabar ngapa, kayak lagi dikejar setan" gerutu Hana.

"Masuk, masuk cepat!" ujar Amira setengah mendesak, langsung menyelinap masuk mendahului Hana.

Hana yang kebingungan hanya bisa menutup kembali pintu unitnya rapat-rapat. 

"Wah, udah laper banget ni kayaknya?. Makanya jangan lama banget cuma ngambil makanan." canda Hana. 

"Sini, aku taruh di piring dulu."

Hana mengambil kantong makanan yang di bawa oleh Amira—makanan yang ia pesan melalui online

"Arion... dia..." ucap Amira terbata-bata, pikirannya masih melayang pada Arion yang muncul secara tiba-tiba di dalam lift tadi.

Hana menghentikan gerakannya mengambil piring kemudian menoleh jahil ke arah Amira

"Oh... ketemu Arion, ya?" goda Hana. 

"Terus, terus gimana?"

Amira terdiam sejenak, menatap sahabatnya itu. Sesaat, ia menimbang-nimbang apakah ia harus menceritakan fenomena tidak masuk akal yang baru saja ia alami.

"Kayaknya aku nggak perlu ngasih tau Hana soal ini..."

"Aku harus cari tahu lebih dalam dulu soal petugas Damkar itu" gumam Amira dalam hati, memutuskan untuk menutup rapat rahasia itu.

"Nggak kenapa-kenapa. Cuma ketemu di lift tadi" jawab Amira berusaha menetralkan suaranya.

"Lalu?"

"Ya udah, gitu aja," jawab Amira singkat.

Hana membelalakkan mata, kecewa. "Ha? Gitu aja? Ah, gak seru! Gak ada bumbu-bumbu romantisnya sama sekali," protes Hana sambil kembali sibuk menuangkan makanan ke dalam mangkuk.

"Udah ah, laper," potong Amira cepat, mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar Hana berhenti mengorek lebih jauh.

***

Langkah Arion tiba di lantai 10. Dengan membawa kantong belanjaannya, ia berjalan menuju unit milik Nenek Tami dan mengetuk pintu tersebut dengan pelan.

Tok, tok, tok.

Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka. Namun, bukan sosok rentan sang nenek yang menyambutnya, melainkan seorang gadis remaja berseragam SMA yang membukakan pintu dengan napas sedikit terengah.

"Nenek Tami-nya ada?" tanya Arion ramah sambil tersenyum kecil.

Gadis itu mengelap keringat di keningnya menggunakan lengan baju. "Lagi di tempat laundry pakaian, Kak. Ada apa ya?"

"Oh, ini..." Arion mengangkat sedikit kantong plastiknya. 

Lihat selengkapnya