Udara malam Kota Nusa berhembus dingin, menusuk hingga ke tulang. Di tengah kepekatan malam, langkah kaki Arion membawanya menuju kawasan Nusa Barat. Tujuannya satu, ia harus pergi ke Ruang Samatha, untuk menemui jiwa Nenek Tami disana.
Langkah kaki Arion membelah kepekatan malam kawasan Nusa Barat. Begitu ia berhasil menembus batas dimensi dan memijakkan kaki di Ruang Samatha, ketenangannya langsung runtuh. Tanpa memedulikan etika tempat tersebut, ia langsung menggedornya dengan tenaga penuh, menciptakan suara bergemuruh.
Bruk! Bruk! Bruk!
Tidak butuh waktu lama, pintu itu terbuka. Zakra berdiri di ambang pintu dengan kening berkerut.
"Arion, ada apa? Kenapa kau seakan ingin merusak pintuku?" tanya Zakra heran.
Arion mengabaikan teguran itu. Tanpa menjawab, pandangannya langsung beralih mengedar liar, memindai setiap sudut ruangan—terutama kursi interogasi tempat biasa jiwa-jiwa baru diperiksa—. Di kursi terlihat seorang pemuda dengan pakaian Tentara duduk dan mentap heran ke arah Arion.
"Kemana Nenek Tami?" tanya Arion mendesak.
Zakra menghela napas berat, melirik sekilas ke arah jiwa manusia yang masih duduk di kursi interogasi.
"Kau bisa menyebut namanya. Apakah dia... jiwa yang baru saja direnggut nyawanya oleh Abra?"
"Iya! Di mana dia?" ucap Arion tak sabar.
Zakra menatap Arion lurus-lurus. "Kau lupa aturannya?"
"Jika seseorang mati bukan karena takdir alami di dalam Gulungan Niskala, jiwanya tidak bisa langsung masuk ke sini. Ia tertahan di ambang luar dimensi Samatha."
"Bagaimana caraku menemuinya?" ucap Arion lirih, nyaris tanpa suara.
"Arion!. Kau tidak bisa menemuinya sampai Gulungan Niskalanya selesai berproses secara alami."
"Kalau begitu, beritahu aku dimana tempat jiwa yang tertahan itu"
"Itu rahasia alam baka, sekarang kembali ke duniamu!. Kau tidak bisa seenaknya masuk kesini dengan tujuan duniawi" balas Zakra mulai meninggi.
"Tapi..."
"Kembali!" bentak Zakra.
Arion terdiam. Bahunya merosot, menelan mentah-mentah kepahitan takdir yang kembali merenggut orang di sekitarnya. Tanpa mendebat lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari Ruang Samatha, kembali menembus batas dimensi.
Seketika ia mendarat kembali di dunia fana, pertahanan terakhirnya runtuh. Air mata Arion tumpah tak terbendung, membasahi pipinya di tengah sunyinya langit malam Kota Nusa Barat.