Langkah Arion akhirnya tiba di lantai 10 Rusun Nusaindah. Suasana di koridor tampak sudah jauh lebih tenang, meski garis polisi kuning kini melintang membentang di depan pintu unit nomor 1011 milik Nenek Tami. Beberapa petugas kepolisian terlihat baru saja merampungkan olah tempat kejadian perkara.
Melihat kedatangan Arion, seorang perwira polisi berwajah tegas namun ramah melangkah mendekatinya.
"Mas Arion? Yang membuat laporan tadi?" tanya polisi itu.
"Iya, saya," jawab Arion singkat.
Polisi itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, saya Angga."
Arion menyambut jabatan tangan itu dengan anggukan pelan. "Arion."
"Begini, Mas Arion. Sebenarnya kasus dengan pola seperti ini belakangan cukup sering terjadi—pelaku tiba-tiba mengaku mendapat bisikan gaib untuk melakukan tindakan keji."
"Secara prosedur kami menangani kasusnya, tapi jujur saja, kami tidak punya jawaban rasional atas unsur-unsur tak kasat mata di baliknya," terang Angga.
"Lalu, bagaimana dengan Tina?" tanya Arion.
"Tina? Oh, remaja yang berstatus sebagai pelaku itu?" Angga menghela napas pendek.
"Karena usianya masih 16 tahun, kami tidak bisa langsung menjebloskannya ke penjara sembarangan. Terlebih lagi dari informasi warga sekitar, Tina memang sangat dekat dengan korban. Orang tuanya bekerja di luar negeri, jadi Tina tinggal di asrama sekolah dan hampir setiap hari berkunjung ke tempat Nenek Tami."
Angga melipat tangannya di dada. "Kemungkinan besar pernyataan Tina tentang suara bisikan itu valid secara psikologis, tapi kami tetap harus menjalankan proses hukum sesuai prosedur yang berlaku."
"Tina sempat bilang kalau dia berpapasan dengan seseorang berjubah hitam di sekitar sini sebelum kejadian," timpal Arion.
"Iya, dia sempat mengatakannya dalam interogasi. Katanya mereka berpapasan di area lift. Masalahnya, kamera CCTV di dalam lift itu sudah mati hampir dua bulan. Pihak pengelola rusun sudah memperbaikinya berkali-kali, tapi selalu rusak lagi entah kenapa," keluh Angga.
Mendengar itu, darah Arion mendadak ingat pada kebiasaannya.
"Sial... akulah yang merusak CCTV itu," batin Arion merutuk dalam hati, dihantam rasa bersalah yang mendadak.
"Karena aku sering menggunakan kemampuan berpindah tempat di dalam lift. Akibatnya, bukti satu-satunya untuk keberadaan Abra malah menghilang begitu saja."
"Mas Arion? Bagaimana kedekatan Anda dengan korban?" suara Angga memecah lamunan panjang Arion.
Arion mengerjap, "Saya baru pindah di kota ini. Tapi Nenek Tami orangnya sangat hangat dan baik. Beliau sering membagikan makanan buatannya ke saya."
Angga mengangguk-angguk paham. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya, Mas. Melihat minimnya petunjuk dan tidak adanya rekaman visual, sepertinya kasus ini cepat atau lambat akan berakhir di daftar kasus yang sulit dipecahkan." Angga menepuk bahu Arion pelan.
"Terima kasih banyak, Mas Arion. Selamat istirahat."