Chapter – 2
Nama Yang Mengubah Segalanya
Ruangan itu mendadak sunyi. Tak ada seorang pun yang berbicara. Yang terdengar hanya suara pendingin ruangan dan detak jam dinding yang seolah berjalan lebih lambat dari biasanya. Aku masih menatap lembar pertama di dalam map hitam itu.
Aji Dharma Gunawan. Namaku. Bukan nama Ayah, Bukan nama Om Azka, Bukan pula Om Ahmad atau Tante Cantika, Melainkan namaku.
“Kek… ini maksudnya apa?” Aku menoleh ke arah kakek.
Beliau tersenyum tipis, lalu menutup kembali map tersebut.
“Belum saatnya kamu tahu semuanya.” Kalimat itu justru membuat suasana semakin tegang.
Om Azka berdiri lebih dulu. Wajahnya berubah merah menahan emosi.
“Maaf, Yah. Tapi saya rasa keputusan ini terlalu berlebihan.”
Kakek tidak menjawab. Beliau hanya mempersilakan Om Azka melanjutkan.
“Aji masih delapan belas tahun. Dia bahkan belum kuliah.”
“Bagaimana mungkin Ayah menjadikan anak yang bahkan belum pernah memimpin satu perusahaan sebagai calon penerus Gunawan Group?” Nada suaranya mulai meninggi.
“Ayah membangun perusahaan ini puluhan tahun. Kami yang ikut membesarkannya.”
“Kami yang berjuang. Lalu sekarang… semuanya akan diberikan kepada seorang anak kecil?”
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Jujur saja, aku tidak marah. Karena sebagian perkataan Om Azka memang benar. Aku memang belum pernah memimpin perusahaan. Aku bahkan belum tahu bagaimana cara membaca laporan keuangan perusahaan sebesar Gunawan Group. Yang aku tahu hanya satu. Aku tidak pernah meminta semua ini. Belum sempat suasana mereda, Om Ahmad ikut membuka suara.
“Kak Azka. Kalau boleh saya bicara sebagai seorang pengacara…”
Semua mata langsung beralih kepadanya.
“Secara hukum… Belum ada satu pun keputusan yang melanggar.”
“Maksudmu?” Om Azka menatap tajam.
“Map itu bukan surat wasiat, Bukan surat hibah, Dan bukan akta pengalihan saham.”
“Artinya… Ayah hanya sedang menunjuk kandidat.”
Ruangan kembali sunyi. Aku melihat Ayah masih memilih diam. Beliau sejak tadi hanya memperhatikan setiap orang yang berbicara.
“Kamu mendukung ini?” tanya Om Azka kepada Ayah.
“Aku mendukung keputusan Ayah.” Ayah menghela napas pelan.
“Tapi… Aku juga ingin tahu alasan sebenarnya.”
Kakek akhirnya berdiri. Beliau berjalan perlahan mengelilingi meja rapat. Tatapan matanya bergantian mengarah kepada anak-anaknya.
“Dulu… Kalian pernah bertanya kenapa Gunawan Group bisa sebesar sekarang.”