Chapter – 3
Cucu Yang Hilang
Tanganku mulai bergetar. Aku membalik foto itu sekali lagi, berharap tulisan di belakangnya berubah. Namun kalimat itu masih sama.
“Kamu bukan cucu pertama Arga Gunawan.”
Aku menatap wajah anak kecil yang sedang digendong kakek. Usianya mungkin sekitar lima tahun. Pipinya chubby. Rambutnya sedikit ikal. Ia mengenakan kaus putih bergambar pesawat. Di samping mereka berdiri sebuah pohon mangga yang terlihat sudah sangat tua. Aku mencoba mengingat-ingat.
Rumah siapa yang memiliki pohon sebesar itu? Tidak ada. Setidaknya tidak ada yang pernah kulihat. Kalau foto itu memang asli…
Lalu siapa anak kecil ini? Kenapa selama delapan belas tahun tidak ada satu pun anggota keluarga yang pernah membicarakannya?
Aku buru-buru memasukkan foto itu kembali ke dalam amplop. Belum sempat berpikir lebih jauh, terdengar suara Mama mengetuk pintu kamar.
“Aji, makan malam sudah siap.”
“Iya, Ma.”
Aku buru-buru menyimpan amplop itu di dalam laci meja belajar. Untuk sementara… Tidak ada yang boleh tahu.
Makan malam di rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Ayah tampak sibuk membaca beberapa dokumen perusahaan. Mama beberapa kali melirik ke arah Ayah, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi mengurungkannya. Sedangkan aku… Pikiranku masih dipenuhi foto misterius itu.
“Aji.” Suara Ayah memecah keheningan.
“Iya, Yah?”
“Ayah dengar hari ini kamu ikut rapat keluarga.”
Aku mengangguk.
“Bagaimana menurutmu?”
Aku menarik napas panjang.
“Jujur… Aji bingung.”
“Itu wajar.” Ayah tersenyum kecil.
“Kalau Ayah jadi kamu, mungkin Ayah juga akan bingung.”
“Yah… Kenapa kakek memilih Aji?” Aku menatap wajah Ayah.
Ayah terdiam. Beberapa detik kemudian beliau meletakkan sendoknya.
“Ayah tidak tahu.”
“Tapi… Kalau ada satu orang yang paling memahami jalan pikiran Ayahnya… orang itu adalah Ayah.”
“Maksud Ayah?” Aku semakin penasaran.
“Kakekmu tidak pernah mengambil keputusan berdasarkan perasaan.”
“Kalau beliau memilihmu… berarti beliau sudah melihat sesuatu yang bahkan belum kamu sadari.”
Jawaban itu sama sekali tidak membuatku tenang. Justru membuatku semakin banyak berpikir.