The Special Grandson

M. Afif Ian Ramadhan
Chapter #4

Chapter - 4 Pria Di Ruang Baca

Chapter – 4

Pria Di Ruang Baca

Aku terpaku, Jantungku berdetak semakin cepat. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Cahaya lampu lorong membuat wajahnya masih samar, tetapi posturnya tinggi dan tegap. Setelan jas hitam yang dikenakannya terlihat mahal, namun bukan itu yang membuatku merinding.

Melainkan senyum tipis di wajahnya. Senyum seseorang yang seolah sudah menungguku datang.

“Siapa Anda?” tanyaku sambil tanpa sadar mundur selangkah.

Pria itu tidak langsung menjawab, Ia melangkah masuk ke dalam ruang baca, melewati rak buku yang roboh seolah keadaan ruangan yang berantakan bukanlah sesuatu yang mengejutkan baginya.

“Kamu pasti Aji.” Nada bicaranya tenang.

“Aku tanya sekali lagi. Siapa Anda?”

Pria itu berhenti tepat di depan meja kerja kakek. Tatapannya tertuju pada tongkat hitam yang patah menjadi dua.

“Lima belas tahun… Dan akhirnya permainan ini benar-benar dimulai.” gumamnya pelan.

“Permainan apa?” Aku mengernyit.

Ia menoleh ke arahku.

“Kakekmu tidak pernah menceritakan apa pun?”

Aku menggeleng. Pria itu menghela napas panjang.

“Berarti dia memang masih melindungimu.”

 

Belum sempat aku bertanya lagi, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari luar rumah.

“Mas Aji!” ucap Pak Atmo.

“Pak!” Aku langsung menoleh ke arah pintu.

Namun ketika aku kembali melihat ke arah pria itu… Dia sudah tidak ada.

Ruangan kembali kosong. Aku membelalak. Mustahil. Hanya butuh satu atau dua detik aku mengalihkan pandangan. Ke mana dia pergi?

“Mas Aji!” Pak Atmo memasuki ruang baca dengan napas memburu.

“Mas gak apa-apa?”

“Tadi… Barusan ada orang di sini.” Aku masih melihat ke segala arah.

“Orang?” Pak Atmo ikut memperhatikan seisi ruangan.

“Iya. Tinggi. Pakai jas hitam. Umurnya sekitar empat puluhan.”

Pak Atmo langsung berubah serius. Beliau memeriksa jendela.

Lalu pintu belakang. Semuanya tertutup rapat.

“Mas yakin?”

“Sangat yakin.”

Pak Atmo terdiam cukup lama. Lalu beliau berkata dengan suara pelan.

Lihat selengkapnya