The Strange Case of Milan and Madrid

Galilea
Chapter #3

2. Passcode

Bunyi alarm berdengung di telinga namun seperti biasa aku abaikan. Setengah sadar aku menggaruk-garuk kepala dan saat tanganku tersangkut di sana, kulepas pelan-pelan melawan helaian-helaian rambut yang bergesekan di sela-sela jari, begitu sampai di ujung, tubuhku membeku sesaat.

Ada yang aneh?

Aku meraba-raba kepalaku yang tiba-tiba lebat seperti hutan rimba. Sejak kapan rambutku sepanjang ini? Selain itu kenapa tubuhku terasa janggal, terutama di bagian dada. Aku usap-usap dan sontak kedua bola mataku terbuka. Kok ada benjolan?

Por Dios! Tumor kah ini? Bukan tapi ...

Sontak aku bangkit duduk, kemudian menyibakkan selimut. Sepasang kaki mulus tanpa bulu yang jelas bukan kakiku.

Panik, aku langsung berdiri. Ada yang tidak beres! Kulihat sekeliling. Kamar siapa ini? Dinding kiri dan kanan rapat tertutupi rak buku. Ini kamar apa perpustakaan?

Buru-buru aku mencari cermin dipojokkan dan sesuai firasatku bayangan yang memantul di sana bukanlah aku melainkan seorang perempuan dengan ekspresi syok. Aku pejamkan mata kemudian buka lagi, bayangannya tetap sama, seorang anak perempuan berambut panjang seketiak, kulit pucat, mata besar dan alis tebal. Wajahnya sungguh familiar.

Milan!

Aku langsung membanting tubuhku ke kasur. Kupejamkan kedua mataku rapat-rapat. Ini semua pasti mimpi! Tapi bunyi alarm yang sedang berbunyi terasa nyata. Terpaksa aku kembali buka mata, dan mengambil ponsel yang ada di pinggir kasur.

Ternyata bukan alarm. Tapi panggilan tak terjawab dari nomor ponsel bernama Madrid! Dari aku sendiri? Jangan-jangan!

Sebuah pesan Whatsapp muncul di layar. Aku buka kode ponselnya kemudian baca pesannya.

Siapa pun di sana, angkat teleponnya. Penting.

Aku langsung video call nomor itu dan voilĂ , munculah wajah pria keren dan ganteng di layar ponsel! Wajahku!

Reflek aku melirik cermin kemudian kembali ke layar ponsel, lalu ke cermin lagi, terus ke layar ponsel lagi-bolak-balik. Ternyata, aku benar-benar tidak salah lihat! Rasanya ingin sekali berteriak kencang namun tubuhku terlalu lemas. Keringat dingin mulai bisa kurasakan di sekujur tubuh.

Lihat selengkapnya