The Strange Case of Milan and Madrid

Galilea
Chapter #6

5. Memory Transfer

1 jam di perpustakaan tidak menghasilkan apa-apa. Di sini bukunya minim sekali. Ujung-ujungnya aku kembali mencari tahu via internet. Aku sudah baca beberapa jurnal mengenai neuroscience dan teknologi terkait, tetap saja tidak menemukan jawaban atas fenomena aneh ini.

Tapi ada yang menarik, di luar sana para ilmuwan sedang mengembangkan Neural Implant—sebuah perangkat elektronik yang "ditanam" dalam otak manusia. Awalnya untuk tujuan medis yakni untuk penanganan gangguan neurologis, seperti Parkinson dan Epilepsi. Namun belakangan mereka ingin meningkatkan teknologi ini dengan tujuan menghubungkan otak manusia dan komputer. Untuk tujuan ini, masih dalam pengembangan tahap awal.

Kira-kira di masa depan dapatkah teknologi ini men-download memori dalam otak kemudian mentransfernya ke otak lainnya?

Kalau aku dan Madrid semacam robot android dalam science fiction, itulah yang mungkin terjadi pada kami. Data memori kami tertukar.

Tapi kami bukan robot android, dan memori manusia tidaklah sesimpel memori digital yang bisa dipindah tempatkan seenaknya. Dan yang pasti kami tidak hidup dalam film tapi dunia nyata.

Jadi?

Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggungku ke belakang, beginikah rasanya frustrasi?

Mungkin aku butuh bantuan outsider? Seseorang tiba-tiba muncul di benakku. Dia? Reflek aku tertawa sendiri. Tidak! Aku tidak perlu bantuan siapa pun.

*****


Akhirnya, bel istirahat berbunyi. Benar-benar tersiksa pelajaran Kimia, sumpah bawaannya ngantuk setengah mati. Saat naik ke kelas 11, aku sama sekali tidak ambil Fisika maupun Kimia, hanya Biologi, alasannya klasik biar tidak ada hitungan. Tapi di sini aku harus ketemu lagi sama si Atom dan Molekul beserta problematikanya yang tidak ada habisnya!

Kembali aku celingak-celinguk mencari kantin, aku ikuti anak-anak lain yang wajahnya aku anggap sedang kelaparan. Setelah dua kali belokan dan satu kali nyasar ke toilet, akhirnya sampai juga.

Kantinnya luas betul, lantainya juga bersih mengkilap, meja-meja persegi panjang tersusun rapi. Dan yang pasti banyak sekali pilihan makanannya.

Setelah pesan satu mangkok bakso ekstra pedas, aku mengedarkan pandangan, mencari kursi kosong. Aku lihat si Ori lagi duduk sendiri di kursi dekat jendela sambil menikmati segelas jus stroberi.

"Kursi ini kosongkan? gue boleh duduk?" kataku sok akrab.

"Eh?" Ia tertegun sebentar, menatapku. "Ehm boleh ..."

Aku pun duduk di hadapannya kemudian mengaduk kuah bakso yang merah dengan saus dan cabe. Dengan tidak sabar aku menyantapnya.

"Bangsat! Panas!" Aku mengipas-ngipas mulutku dengan tangan. Reflek aku mengambil jus Ori dan meminumnya.

Ori menatapku dengan mulut setengah terbuka.

"Sori ... sori nanti gue ganti jusnya."

"Nggak usah, kamu nggak kenapa-kenapa?"

"Nggak, cuma kepanasan itu bakso, saking nggak sabarnya gue," balasku sambil tertawa.

"Hari ini kamu beda dari biasanya," katanya hati-hati seolah takut menyinggung. "Kamu lagi nggak ada masalah kan?"

"Nggak ada," balasku tersenyum. Sebenarnya ada tapi mana mungkin aku bisa cerita.

"Oh."

"Emang beda banget ya?" tanyaku basa-basi, memecah kecanggungan.

Ori mengangguk.

Baguslah! Bagaimanapun juga, aku tidak mungkin bisa jadi si Milan yang kalau diterjemahkan menjadi: rese, sok pintar, dan egois.

"Yang lo lihat nih Ri, Milan versi baru, yang udah di-upgrade. Lebih keren dan seru!" kataku berapi-api. "Lupain deh Milan versi lama, dia mah cocoknya ada di Zaman Megalitikum sama Dinosaurus."

"Oh begitu ya?" Ori tertawa kecil kemudian mengerutkan keningnya. "Eh tapi di Zaman Megalitikum nggak ada Dinosaurus."

"O ya?" kataku sambil menyantap bakso. "Kalau T-Rex ada nggak?"

Ori menggelengkan kepala.

"Adanya Unicorn," sambar seseorang dari belakang.

Aku langsung menoleh. "Wolf?"

Dia tersenyum menyeringai ke arahku sekilas. Kemudian ia memutar badannya kembali ke arah mejanya. Dari tadi kita duduk saling membelakangi ternyata.

Aku memutar kursi ke arahnya dan menggeplak pundaknya.

"Bro mana ada Unicorn di dunia ini, kebanyakan baca dongeng lo ah."

Dia bangkit berdiri, menatapku sambil mengangguk perlahan kemudian jalan pergi.

Aku memutar kembali badanku dan menyantap bakso yang hampir habis. Banyak sekali orang aneh di sekolah ini.

"Kenapa?" tanyaku kepada Ori yang dari tadi diam terhenyak.

Ori menggelengkan kepalanya. "Aku masih nggak nyangka kamu bisa se-ekspresif ini."

"Kan gue udah bilang ini Milan versi baru."

Lihat selengkapnya