Begitu masuk ke rumah, aku tidak langsung ke kamar apalagi ganti seragam. Perlu persiapan mental untuk melakukan itu. Bisa-bisanya si Milan biasa-biasa saja. Lihat cermin saja aku was-was apalagi ganti baju.
Aku ambil minuman di kulkas kemudian duduk di sofa ruang tengah sambil merenung.
Setelah pagi yang kacau balau, siang yang super boring, hari ini ditutup dengan sedikit keseruan.
Film horornya bagus sekali, ending-nya benar-benar tidak tertebak alias mind-blowing. Ori juga sependapat denganku. Kapan-kapan aku ajak dia nonton lagi, tapi nanti deh pas aku sudah balik lagi jadi si ganteng Madrid ha ha ha.
"Jam segini baru pulang Milan?" Nenek membuyarkan lamunanku.
"Iya Nek, habis nonton," balasku.
"Tugas sekolah?" Nenek duduk di sebelahku.
"Bukanlah Nek, nonton di bioskop, film horor, seru lho!"
Nenek tiba-tiba melotot, syok. "Sejak kapan kamu suka film horor? Tumben-tumbenan lagi ke bioskop?"
"Eh ... Ehm ..." aku menggaruk-garuk kepala, "sekali-kali Nek, diajakin temen."
"Temen?" Mata Nenek kembali membelalak. "Siapa?"
"Ori temen sekelas, kenapa gitu?"
"Nggak ada apa-apa," Nenek tertegun sebentar kemudian tersenyum. "Gimana tadi filmnya?"
"Wuih Nek, serem abis, berasa naik roller coaster, jadi ceritanya tuh ..."
Kalau sudah menceritakan film seru apalagi yang baru ditonton, aku bisa heboh sendiri. Kadang bisa sambil akrobat.
Nenek sesekali mengangguk sesekali tertawa, sesekali juga aku lihat nenek mengusap sudut-sudut matanya seperti orang terharu padahal ini cerita horor.
"Udah dulu ceritanya, ganti seragam gih terus makan."
Ah sial! Ujung-ujungnya harus ganti seragam juga! Tuhan, kenapa harus jadi perempuan sih? Kenapa tidak jadi kucing? Tinggal molor, makan, terus berantem sama kucing tetangga.
"Siap Nek!" kataku, beranjak dari kursi.
Saat jalan meniti tangga. Ponsel di saku sergamku berdering nyaring.
"Halo?"