Bangun tidur aku langsung melesat ke depan cermin. Dan ... jeng jeng ... sosok yang terpantul di sana masih sama seperti kemarin—bukan aku. Sial!
Panik dan kesal, yang bisa kulakukan hanya menggaruk-garuk kepala yang aslinya memang panas dan gatal. Rasanya aku ingin mencukur habis rambut di kepala ini. Sayangnya ini bukan kepalaku.
Kalau aku kelamaan bersarang di tubuh si Milan, aku bisa gila. Aku harus cari orang pintar. Pronto!
Tapi cari paranormal ke mana ya?
Andai saja ada Pancho dan Upin di sini, aku tidak harus repot sendiri. Apa aku minta bantuan mereka?
Oh tidak!
Kalau mereka tahu kalau aku jadi perempuan, aku bisa habis jadi bulan-bulanan mereka. Mungkin aku coba tanya Ori, kali saja dia punya kenalan paranormal.
*****
Sudah kuduga, hari ini aku masih menjadi Madrid. Kira-kira sampai kapan pertukaran ini berlangsung? Kenapa, bagaimana, dan tujuannya apa masih belum terjawab! Aku bahkan tidak tahu ke mana aku harus mencari jawaban, semua jalan terlihat buntu.
Apa yang terjadi kalau kami berdua tidak bisa kembali? Jelas sekali aku tidak bisa selamanya menjadi Madrid begitu juga sebaliknya, Madrid tidak bisa menjadi aku. Tapi …
Bel masuk sudah berbunyi. Dengan berat, aku melangkah masuk. Rasanya hari ini tidak selera menghadapi kegilaan penghuni-penghuninya terutama dua temannya Madrid.
Untungnya, hari ini mereka tidak menghampiriku, tetapi dari ujung sana, mereka tampak memperhatikanku dengan serius, sesekali berbisik-bisik, sepertinya mereka merencanakan sesuatu dan entah kenapa perasaanku tidak enak.
*****
Di kantin, aku dan Ori asyik berdiskusi film horor yang kemarin kita tonton. Rasanya energiku kembali terpompa setelah habis terkuras di kelas, bukan karena berpikir keras tapi karena melawan rasa kantuk yang maha dahsyat.
“Yang nulis cerita bisa-bisanya bikin ending kayak gitu ya?”
“Ehm! Nggak sia-sia aku bolos les,” katanya dengan wajah berbinar. “Kapan-kapan kita nonton lagi!”
“Pastinya!” seruku penuh semangat. “Eh ngomong-ngomong soal film horor, Ori punya kenalan paranormal gak?”
“Paranormal?” Ia tertawa, “enggaklah! Kamu ngapain butuh paranormal?”
“Bukan buat gue,” aku tertawa gugup, “tapi temen.”
“Buat apa? Riset ya? Dulu sepupuku, mahasiswa jurusan Antropologi pernah wawancara paranormal. Kurang tahu sih apa yang diteliti.”
“Bukan! buat konsultasi.”
“Konsultasi?” Ori mengernyitkan dahinya. “Kok bisa?”
Aku garuk-garuk kepala sejenak, bingung menjelaskannya. “Jadi dia tuh ... ehm ... katanya ni ya ... dia berada di tubuh yang salah. Jadi dia pengen ruh dia kembali ke tubuhnya.”
Ori diam sejenak, sepertinya sedang berusaha mencerna kata-kata absurd yang barusan keluar dari mulutku.
“Kalau kataku, teman kamu harus konsultasi ke psikiater atau neurologist deh bukan paranormal. Coba dicek kondisi kesehatan otak sama mentalnya. Maaf, mungkin ada masalah.”
Aku menarik napas dalam. “Gitu ya?”
Si Milan benar, bercerita kepada orang-orang normal ujung-ujungnya malah dicap abnormal. Makanya, jalan satu-satunya adalah konsultasi dengan paranormal.
“Eh kira-kira sepupunya Ori yang jurusan Antropologi itu masih punya kontak paranormalnya nggak?” tanyaku.
Belum juga Ori menjawab, tiba-tiba si Wolf menghampiriku, biasa dengan muka datar dan sok pintarnya itu. Kalau dipikir-pikir ini anak sebelas-duabelas sama si Milan.
“Saya mau balikin buku yang saya pinjem,” katanya sambil menyodorkan buku berwarna merah dengan kata “Gulag” tercetak tebal di sampul depannya. “Maaf saya minjemnya lama.”
“Oooh,” kataku mengambil buku itu. “No problemo!”
Wolf masih diam di samping meja.
“Ada lagi Bro?” kataku.
Ia menghela napas. “Kayaknya saya perlu bicara empat mata sama kamu?”
“Eh?” Aku mengernyitkan dahi kemudian beradu pandang dengan Ori yang juga tampak penuh tanda tanya.
“Penting.”
“Ya udah ngomong di sini.”
“Nggak bisa, di sini banyak orang.”
“Mau ngomongin apa emang? Kode nuklir?” tanyaku menyeringai tapi kemudian sesuatu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Jangan-jangan? Aku tertawa dalam hati. Dugaanku benar, si Wolf ini ada sesuatu sama si Milan.
“Okay,” kataku mengambil buku merah itu di meja kemudian bangkit.
Setelah dua menitan berjalan, kita masuk area taman belakang sekolah dengan kolam ikan lumayan luas di tengah-tengahnya. Banyak pohon dan tanaman-tanaman hijau, adem. Seru kali kalau mancing di sini pas jam kosong.
Kami berdua kemudian berhenti di depan pohon gede lengkap dengan bangku di sekelilingnya.
“Ni udah sepi, lo mau ngomong apa, sok.” Aku berusaha terlihat serius padahal aslinya aku sedang berperang menahan tawa ha ha ha.
“Coba cek halaman pertama buku itu?”
Aku tertegun satu detik kemudian tersenyum geli. Pasti di dalam buku angker ini dia selipin puisi cinta di dalamnya. “Wolf … Wolf lo kebanyakan gimmick,” kataku dalam hati.
Kubuka halaman buku merah itu dan voilà ternyata tidak ada apa-apa.
“Lihat stempelnya.”
“Ex-Libris–Galanio R.B,” aku mengernyitkan dahi, “artinya?”
“Artinya itu buku punya saya.”
“Bukannya tadi lo bilang …” kata-kataku terhenti sejenak, “jadi yang tadi itu?”
“Cuma ngetes,” dia mengambil kembali buku merah itu dari tanganku. “Milan yang asli nggak mungkin minjemin buku ke orang.”
“Jadi gue Milan palsu gitu? Kok lo seyakin itu?”
“Hasil dari observasi singkat saya menyimpulkan kalau kamu bukan Milan.”
“Gini ya … Wolf?” aku melipat tangan di dada, “gue ini Milan cuma Milan versi baru jadi wajar Bro kalau banyak perubahan di sana sini.”
Wolf menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Orang tuh ya nggak mungkin berubah dalam sekejap. Apalagi perubahannya 180 derajat, kecuali …”
“Kecuali apa?”
“Kecuali ada faktor pemicunya seperti brain damage, traumatic experiences, atau ada major life events. Setahu saya Milan nggak ngalamin ketiga hal tersebut, seenggaknya beberapa hari ke belakang. Jadi, sama sekali nggak logis kalau dia bisa berubah sedrastis dan dalam waktu sesingkat ini. Satu-satunya alasan logis kenapa Milan berubah ya karena Milan bukan Milan.”
Aku garuk-garuk kepala mendengar penjelasan Wolf yang panjang lebar.
“Dan reaksi kamu waktu saya tadi pura-pura balikin buku membuktikan hipotesis saya.”
Aku menyeringai. “Terus kalau gue bukan Milan lo mau apa?”