The Strange Case of Milan and Madrid

Galilea
Chapter #12

11. Unseen Force

Setelah sekitar 30 menitan memasuki daerah pegunungan, menembus pepohonan lebat bagaikan hutan, akhirnya kami bertiga tiba di rumah besar dua lantai. Dilihat dari desain rumahnya, sepertinya rumah ini dibangun di era kolonial. Meski bangunan tua, rumah ini terlihat masih bagus dan kokoh. Di sekitaran, tidak terlihat ada rumah atau bangunan lain, benar-benar terpencil. Sepi, sunyi ... sesekali hanya terdengar suara burung berbunyi. Kalau rumahku di sini, sepertinya akan sangat menyenangkan.

“Angker ya!” Gavin menggosok-gosok tengkuknya.

“Namanya juga rumah dukun, Pin.”

“Permisi!” ucap Gavin mengetuk pintu.

Beberapa saat kemudian seorang perempuan muda membuka pintu. Ia mengenakan kaos hitam lengan panjang, celana jeans biru laut. Rambutnya cokelat panjang bergelombang.

Bayanganku paranormal itu perempuan paruh baya bergaya bohemian, tapi dia berpenampilan layaknya orang “normal”.

Gavin dan Francisco nampak terkesima dengan sosok perempuan itu. Wajah tegang yang tadi mereka perlihatkan mendadak sirna.

“Silakan masuk,” kata perempuan itu tanpa basa-basi. Ia menuntun kami bertiga ke meja bundar di ruang tengah. Aku perhatikan rumah ini didominasi oleh barang-barang antik. Beberapa lukisan dan patung-patung aneh juga menambah kesan gotik rumah ini.

“Madam Carol lagi nggak ada di sini. Beliau sedang studi banding di Salem, Massachuset. Jadi untuk sementara saya yang akan handle klien,” tuturnya dengan nada malas, seolah dia terpaksa harus melakukan semua ini.

“Ooh …” Gavin mengangguk. “Studi ya? emang Hogwarts buka cabang di sana ya?” 

“Gimana?”

“Bercanda Kak!” susul Francisco sambil menyikut kaki Gavin. 

 “Maaf, Kakak sendiri siapa?” tanya Gavin.

“Saya asisten sekaligus keponakan Madam Carol, Isabella, panggil saja saya Isa,” balasnya datar.

“Francisco,” Francisco mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri kemudian disusul Gavin dan aku.

“Silakan langsung saja,” kata Isa seolah dia ingin cepat-cepat mengusir kami bertiga dari rumahnya.

Gavin dan Francisco melirik ke arahku.

Aku pun mulai bercerita bagaimana aku terbangun di tubuh Madrid dan sebaliknya Madrid terbangun di tubuhku. Selama aku bercerita, sebentar-sebentar mata perempuan itu membesar dan sebentar-bentar menerawang, kemudian diakhiri dengan anggukan.

“Menarik!” kata perempuan itu, ekspresinya kembali datar. “Saya belum pernah menangani kasus ruh dua manusia yang tertukar.”

Aku menghela napas. Seperti yang kuduga, kesimpulannya sama dengan dua teman Madrid.

“Oke, kalau memang ruh kami tertukar,” kataku mengikuti alur pemikirannya, “terus bagaimana menukarkannya kembali ke tempat semula?” 

“Sebentar,” perempuan itu bangkit kemudian mengambil satu dek kartu. Dengan lincah, ia mengocok kartu-kartu itu kemudian dibagi tiga kelompok.

“Silakan ambil satu,” katanya padaku.

“Poker?” bisik Gavin.

“Bukanlah,” sergah Francisco. 

Aku mengambil satu dari tumpukan yang di tengah. Kartu itu memperlihatkan gambar tengkorak yang sedang membawa tongkat sabit. Di bagian atas terdapat angka 13 yang tercetak dengan huruf romawi.

“Coba sekali lagi,” Ia kemudian mengocok kartu-kartu itu kembali. Kali ini membaginya menjadi dua kelompok. “Silakan.”

Aku mengambil satu kartu di tumpukan kiri. Yang muncul kartu yang sama.

“Terakhir satu kali lagi.”

Kami mengulang hal yang sama dan kartu yang muncul tetap sama.

Isa tertegun sebentar kemudian mengangguk pelan.

“Tiga kali kartunya sama?” tanya Francisco. “Kartu Nomor 13, artinya apa Kak.”

“Itu kartu kematian tapi bisa juga diartikan sebagai rebirth atau lahir kembali.”

“Oh. Terus?” tanyaku. Aku sama sekali tidak terkesan kartu yang muncul sama. Itu bisa saja kebetulan atau hanya trik.

“Artinya kamu sama kembaranmu harus terlahir kembali,” Isa menatapku lurus, “dan untuk bisa lahir kembali, terlebih dahulu,” ia menghela napas dalam, “kalian harus mati.”

Gavin dan Francisco mendadak terlihat pucat kemudian panik. Sementara aku tersenyum sambil menepuk dahi. Detik itu aku sadar kalau aku benar-benar buang-buang waktu ke sini. 

“Mati gimana maksudnya Kak?” tanya Francisco.

“Nggak ada jalan lain, kedua ruh yang tertukar harus dipisahkan dari tubuh yang salah terlebih dahulu. Baru setelah itu, bisa dikembalikan ke tubuh yang benar.”

“Gimana-gimana?” Gavin garuk-garuk kepala. “Jadi ruh dipisahin terus dituker balik gitu?”

Madam mengangguk. “Saat ruh terpisah dari tubuh, itu yang dinamakan kematian. Karena ini sementara jadi bisa dibilang mati suri. Setelah itu, ruh yang keluar akan otomatis kembali ke tubuh yang benar dan akhirnya saudara Milan dan Madrid akan bangun seperti terlahir kembali,” ia tersenyum kecil samar, “kira-kira konsepnya seperti itu.”

Aku menggeleng-geleng kepala. Luar biasa ilmu cocoklogi-nya! Sebaiknya aku pulang saja, terlalu lama di sini aku takut sel-sel dalam otaku ramai-ramai memusnahkan diri.

“Caranya kayak apa Kak, apa semacam exorcisme gitu?” tanya Francisco.

Isa menggeleng. “Biasanya kami melakukan ritual exorcisme untuk mengeluarkan roh jahat yang merasuki tubuh manusia. Tapi yang terjadi pada Milan dan Madrid ini bukan kasus kerasukan. Jadi,” dia tertegun sebentar, “jujur, saya belum pernah melakukan ritual mengeluarkan ruh orang yang masih hidup. Sebaiknya saya tanya Madam Carol dulu.”

Isa bangkit, mengambil ponsel di rak kemudian kembali duduk di meja.

Saat dia menyalakan layar ponselnya kedua bola matanya membelalak dan dengan raut wajah tegang dia melihat ke setiap sudut ruangan seolah-olah baru saja mendapat pesan teror.

Sesaat kemudian tubuhnya membeku dan ponsel yang ada di tangannya lepas begitu saja lalu kepalanya tiba-tiba menunduk dengan rambut semua terurai ke bawah menutupi wajah.

“Kenapa Kak?” tanya Francisco

Gimmick apa lagi? kataku dalam hati.

“Kak?” Gavin mulai khawatir.

“Keluar!” katanya dengan suara serak dan berat. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan kami bertiga kaget luar biasa melihat wajahnya yang super pucat dan bola matanya yang berubah jadi putih.

Gavin dan Francisco reflek bangkit dan mundur sementara aku diam memperhatikannya. Aku penasaran apa yang terjadi padanya. Dia sakit atau apa?

“Keluar!” teriaknya kembali. Seluruh jendela tiba-tiba terbuka dan angin kencang masuk ruangan menerbangkan kartu-kartu di atas meja hingga berputar-putar. Benda-benda sekitar juga mulai berjatuhan seperti ada gempa bumi.

Gavin dan Francisco menarik tanganku. “Buruan chau!”

“Cepat keluar!” Isa menggebarak meja. “Jangan pernah kembali ke sini! Jangan pernah!”

Gavin dan Francisco lari terbirit-birit sambil menarik-narik tanganku. Begitu masuk mobil, Francisco langsung tancap gas, padahal pintu belum kututup rapat.

Selama beberapa menit baik Gavin dan Francisco tidak membuka mulutnya saking syoknya. Aku sendiri masih bertanya-tanya dan mencari-cari jawaban yang masuk akal. Yang terlintas di kepalaku, perempuan itu sepertinya berada di bawah pengaruh obat-obatan. 

Setelah memasuki jalan raya barulah Gavin mulai bersuara, “Itu Kakak cantik nggak kenapa-kenapa ditinggal sendiri? Kayaknya kerasukan iblis yang terkutuk.”

“Dia sendiri yang nyuruh kita keluar. Lagian dia paranormal, bisa kali self-exorcised,” balas Francisco.

“Sumpah, gue nggak mau balik lagi ke sana.”

“Gua juga kali!”

“Saya juga!”

Francisco dan Gavin reflek menoleh ke arahku yang kali ini duduk di belakang. “Bukan karena takut ya, tapi buang-buang waktu!”

“Tapi kita belum ketemu sama Madam Carola-nya lho, mungkin kalau sama beliau, kejadian yang kayak tadi nggak bakalan terjadi,” tutur Gavin.

“Tapi Madam Carola ngasih kepercayaan sama Isa, artinya dia juga bukan orang sembarangan,” timpal Francisco.

“Intinya, ide brilian kalian gagal total,” kataku menyindir.

Gavin menoleh ke arahku. “Tenang aja, kita masih punya banyak stok paranormal kok.”

Aku hanya menggelengkan kepala kemudian menyandar lunglai. Salahku sendiri terbuai dengan ajakan konyol dua orang ini.

“Eh apaan itu?” Gavin menunjuk kerah bajuku.

Aku menoleh ke pinggir kemudian mengambil benda yang menyelip di kerah bajuku. Sebuah kartu.

Ini pasti kartu di rumah itu, mungkin terbawa angin. Aku mengernyitkan dahi melihat gambar yang tertera di kartu. Seorang perempuan mengenakan mahkota ornamen bintang, duduk di kursi singgasana. Di bagian atas tercetak angka 3 romawi.

*****


Pulang sekolah kami bertiga — aku, Ori, dan Wolf langsung pesan taksi online menuju rumah Mak Tarmin yang berada di daerah Tangerang.

Tadinya aku mau usul kalau perginya lebih baik sesudah istirahat kedua alias bolos, tapi percuma ah pasti ditolak mentah-mentah. Anak baik-baik seperti Ori dan Wolf mana mau diajak bolos, memangnya Pancho dan Upin.

Di dalam taksi, aku duduk di belakang bersama Ori, sementara Wolf di depan bersama Pak Supir. Baru beberapa menit melaju, mata si Wolf sudah rapat saja. Ternyata itu mengidap Tumor juga alias Tukang Molor.

“Gimana sih rasanya punya kembaran? Seru ya?” tanya Ori, antusias.

Aku tersenyum kecil. “Waktu kecil sih kadang suka digemesin sama tetangga atau orang lewat.”

“Pasti kalian berdua lucu,” Ori tertawa.

“Mama gue juga sih, baju kita sering disama-samain.”

“Kalau boleh tahu, mama kamu meninggalnya kenapa?”

“Kecelakaan mobil.”

“Oh,” hening beberapa saat. “Di Bandung kamu cuma tinggal berdua aja sama papa kamu?”

Lihat selengkapnya