Pulang kerja, ayahku membawa banyak kantong kresek. Tidak seperti kemarin, wajahnya tampak ceria.
“Cair … cair,” ucapnya sambil tersenyum lebar, menyodorkan kantong kresek yang isinya makanan dan minuman.
Jujur, aku juga ikut senang. Apa karena perutku lapar?
“Dua bulan langsung di muka! Entar malem, kita bisa karokean Mad.”
“Nggak, buang-buang waktu.”
“Eh? Tumben? ” dia mendadak diam.
“Giliran aku yang masak,” kataku bangkit sambil membawa kantong-kantong itu.
Saat berjalan ke dapur aku bisa merasakan tatapannya intens mengarah kepadaku.
Dulu kami berempat sering ke tempat karaoke kalau merayakan sesuatu, sekecil apa pun itu. Ternyata tradisi itu masih diterapkan di rumah ini.
****