Karena nilai ujian Matematikaku kemarin sempurna, Ibu Guru menyuruhku mengerjakan soal yang paling sulit dipahami anak-anak lain di depan kelas serta menjelaskannya.
“Luar biasa Madrid! Pemahaman Matematika kamu meningkat pesat,” kata guru itu, setelah aku selesai mengerjakan.
“Wuih cangkok otak di mana Mad? bagi-bagi dong alamat kliniknya,” seorang murid asal bicara seperti biasa.
Guru itu hanya tersenyum. “Mungkin kamu bisa share ke temen-temen sekelas, metode belajar yang kamu gunakan seperti apa.”
“Nggak ada yang istimewa, baca buku sama dengerin guru di kelas, mungkin.”
“Kamu nggak ikut bimbel?”
“Belum pernah. Saya nggak se-ambisius itu.”
“Sombooong!” satu sekelas bersorak.
“Pertahankan semangat belajarnya Madrid, ibu yakin kamu berpotensi masuk universitas top lewat SNBT.”
Aku hanya tersenyum kecil kemudian duduk kembali ke bangku.
“Lu mending jangan tukeran dulu sama si Mamad, entar aja pas udah ujian SNBT. Kebayang si Mamad masuk universitas favorit,” Francisco tertawa.
“Terus sekolah saya gimana?”
Itu pertanyaan yang aku tujukan lebih kepada diriku sendiri, dari pada Francisco. Kalau sampai kami tidak kembali hingga kelulusan nanti, sekolah bahkan masa depanku taruhannya?
Aku tertawa dalam hati. Barusan itu aku hanya mendramatisir. Sebenarnya aku tidak peduli dengan urusan sekolah. Aku bahkan tidak punya ambisi. Banyak alasan kenapa aku tertarik kuliah di luar negeri tapi ambisi maupun cita-cita bukan salah satunya. Buatku pribadi, school is just a game, I learn the rules and play along. And apparently, I play really well.
Semenjak berpisah dengan Madrid, aku harus 100% mengandalkan diriku sendiri termasuk urusan sekolah. Dan setelah aku jalani, ternyata sekolah tidak sesulit itu, bahkan bisa dibilang sangat mudah. Saking mudahnya jadinya malah membosankan.
Kembali aku memandang kartu tarot nomor 3, kalau aku ingin tahu tentang ibuku lebih jauh, sepertinya aku harus ke Jakarta. Tapi kapan ya? Lebih cepat lebih baik!
****
Hari senin, teror berdarah akhirnya berhenti. Ternyata bisa juga aku survive melewati masa kelam ini. Seorang Madrid memang tidak mudah ditumbangkan!
Saat berjalan melewati gerbang sekolah, Ori tiba-tiba berlari menghampiriku kemudian menanyakan keadaanku. Sepertinya dia benar-benar khawatir. Atau kemarin aku memang se-mengkhawatirkan itu?
“Mendingan,” balasku. “Makasih ya, sori kalau ngerepotin.”
Kita berdua santai berjalan menuju kelas.
“Nggak masalah, dulu juga aku panik pas pertama kali da–” kalimat Ori mendadak berhenti. “Eh sori, kadang aku lupa kalau kamu bukan Milan, bukan perempuan,” tambahnya pelan.
“Itu juga yang gue takutin, gue lupa sama diri gue sendiri,” aku menghela napas.
“Hal itu emang nggak bisa dihindari,” Wolf tiba-tiba muncul di belakang kami.
“Seriusan?” aku dan Ori mundur ke belakang, kita bertiga jalan beriringan.
Wolf mengangguk. “Manusia makhluk yang sangat adaptable. Kalau mau survive ya pelan-pelan kamu juga bakalan beradaptasi,” tuturnya enteng.
Beradaptasi? Langkahku kakiku berhenti. Maksudnya aku beradaptasi jadi si Milan? Jadi perempuan? Tubuhku tiba-tiba menggigil.