Jam satu siang kurang 10 menit, kami bertiga meluncur ke Jakarta. Kali ini aku duduk di belakang sementara Francisco dan Gavin duduk di depan.
Ponselku kembali berdering dan langsung aku serahkan kepada Gavin. “Kamu yang ngomong saya lagi males.”
“Hola Bonita,” Gavin cekikikan. Ia kemudian menyalakan mode loudspeaker.
“Heh Diablo, kok elo yang angkat, yang punya hape ke mana?”
“Ada tuh di belakang tapi lagi bad-mood.”
“Huh! Bilangin dia jadi kan ke sini?”
“Jadi! Nih kita bertiga lagi jalan.”
“Bertiga? Lo sama Pancho ikut, naik apa?”
“Mobilnya Pancho, siapa lagi.”
“Nggak sabar nih ketemu Mamad Girl!” timpal Francisco.
“Sarap!”
Mereka terus mengobrol ke sana ke mari. Hingga akhirnya Madrid memutuskan sambungan karena dia harus masuk kelas.
Gavin mengembalikan ponsel kepadaku.
“Berarti kita jemput dulu Mamad di sekolahnya ya?" ucap Francisco.
“Yuhuu!” Gavin terlihat sangat kegirangan.
Sementara aku?
Entahlah dari tadi perasaanku tidak tenang, terlalu banyak hal yang berseliweran di kepala. Mungkin aku takut?
****
Pulang sekolah, Aku, Ori, dan Wolf langsung nangkring di depan gerbang sekolah sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Ada kali 10 menitan tapi orang yang kami tunggu-tunggu belum datang. Aku langsung cek ponsel.
“Belum ada ya?” tanya Ori.
“Bentar lagi katanya,” balasku sambil mengetik di ponsel.