Dipisahkan oleh makam, kami berdiri berhadap-hadapan, saling menatap tanpa berbiacara walau sepatah kata.
Sesaat kemudian, aku jongkok menghadap batu nisan mama. “Apa benar Mama di balik semua ini?” tanyaku pelan. “Kalau iya, tolong kembalikan kami seperti semula. Semoga Mama tenang di alam sana.”
Aku yakin Mama bisa medengar apa yang aku katakan. “Nanti aku bakalan sering ke sini. Sebulan sekali. Bawa bunga,” lanjutku.
Tak lupa aku bacakan puisi baru yang berisi doa agar dia tenang di alam sana. Mantra dibalas Mantra. Semoga jiwa aku dan Milan kembali ke tubuh semula. Amin!
“Jadi kamu mau ngomong apa?”
Aku kembali bangkit menatap lurus diriku yang minim ekspresi, rasanya seperti bercermin, bicara dengan diri sendiri. “Lo kenapa sih milih tinggal sama Nenek?”
“Kenapa nanya?”
“Penasaran.”
“Penasaran? Baru sekarang?”
“Gue pikir selama ini gue tahu alasannya, tapi ...”
“Emang penting ya bahas itu sekarang?”
“Buat gue penting.”
“Apa pentingnya?”
“Heh jawab aja deh,” kataku kesal.
“Kamu sendiri kenapa masih tinggal di Bandung? Padahal hak asuh kamu jatuh ke Nenek.”
“Ya iyalah, gue tinggal di Bandung sama Papa. Dia kan bapak gue. Bodo amat keputusan pengadilan. Gue lebih percaya bapak gue sendiri.”
“Sebaliknya, saya lebih percaya keputusan pengadilan.”
Hening. Angin kembali bertiup.
“Kenapa?” tanyaku.
Dia tertegun lama sebelum akhirnya bersuara. “Kamu tahu kenapa pengadilan ngasih hak asuh kita berdua ke Nenek?”
Kembali, dia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
Aku sendiri kurang paham masalah legalitas. Hak asuh jatuh ke nenek karena waktu itu kondisi finansial Papa sedang tidak stabil. Dia baru saja kena PHK. Nenek dengan segala sumber dayanya menang.
“Cuma masalah finansial.”
“Cuma?” dia tersenyum samar.
“Sudah saya duga, kamu nggak tahu apa-apa.”
“Apa yang gue nggak tahu?”
Milan kembali diam beberapa saat. “Kamu masih inget cerita Dr Jekyll dan Mr Hyde?”
Aku langsung tersenyum. “Gimana gue nggak inget, lo sering minta gue bacain itu cerita. Ngerepotin! berulang-ulang gue baca kisah si manusia 2in1.”
“Hemm … iya yang itu.”
“Terus hubungannya apa?”
“Dalam cerita itu, Dr Jekyll memiliki wujud lain yang bertolak belakang dengan karakternya yaitu Mr Hyde.”
Dia diam sebentar aku pun tidak berkomentar.
“Dia ... I mean Papa juga sama, dia memiliki wujud lain yaitu Monster.”